Kamis, 12/3/26 | 21:51 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Minggu, 30/6/24 | 08:30 WIB

Jika ini dilekatkan dengan warna kulit, kita bisa menarik kesimpulan warna yang dimaksud adalah warna gelap (tetapi juga bukan hitam). Warna kulit yang gelap bisa menjadi positif atau negatif tergantung konteks kalimatnya. Jika kita bisa memahami berbagai warna kulit yang diberikan Tuhan kepada umatnya, kita tidak akan menganggap warna kulit ini negatif. Namun, jika warna kulit ini disematkan dalam ujaran kebencian, kita bisa merasakan makna negatifnya.

Apa persoalan yang terjadi kemudian? Adanya pergeseran makna kata magrib yang suci bagi umat Islam menjadi lebih rendah daripada sebelumnya. Ini tentu sangat meresahkan. Jika kata magrib dianalogikan sebagai warna kulit yang gelap, lalu bagaimana dengan Isya dan Tahajud yang dilakukan saat malam (tidak ada lagi matahari)? Hal ini semakin meresahkan ketika ada komentar tandingan untuk komentar-komentar sebelumnya seperti, “Jika dia Magrib, apakah kalian benar-benar Zuhur?” Mengapa kata Zuhur diambil sebagai perbandingan? Karena salat Zuhur dilaksanakan saat bumi sedang terang benderang yang dianalogikan sebagai kulit putih cerah. Jika ini terus dibiarkan terjadi, nama-nama salat wajib umat Islam benar-benar akan memiliki perubahan makna yang tidak sesuai. Bagaimana bisa ibadah suci dianalogikan sebagai warna kulit manusia? Apakah kita akan membiarkan ini terjadi dengan pemakluman kreativitas berbahasa di media sosial? Kita tidak tidak seharusnya mengubah makna kata magrib menjadi lebih rendah.

Di dalam konsep perubahan makna bahasa Indonesia, perubahan makna kata yang mulanya tinggi nilai maknanya menjadi lebih rendah ini disebut dengan istilah peyorasi. Salah satu kata yang dianggap mengalami peyorasi adalah kata bini. Dulu, kata ini digunakan sebagaimana lazimnya penyebutan untuk seorang perempuan yang sudah menikah. Akan tetapi, dengan semakin seringnya pengguna bahasa Indonesia menggunakan kata istri, kata bini terasa lebih kasar untuk beberapa konteks sosial dan budaya di Indonesia.

Jika ada makna kata yang awalnya tinggi atau netral kemudian berubah menjadi rendah, tentu ada juga kebalikannya. Perubahan makna seperti itu disebut dengan istilah ameliorasi. Ameliorasi adalah perubahahan makna kata yang sebelumnya rendah atau netral menjadi lebih tinggi. Kita bisa mengambil contoh kata jantan. Dulu, kata ini dipahami sebagai penanda jenis kelamin (laki-laki) khusus untuk binatang, seperti ayam jantan. Akan tetapi, semakin berkembangnya zaman, kata ini kemudian juga diberikan kepada manusia yang maknanya “gagah dan berani”. Makna kata jantan ini sudah mengalami perubahan tingkat yang lebih tinggi.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB
Halaman 3 dari 4
Prev1234Next
Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Berita Sesudah

Setetes Air dalam Bensin

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Berita Sesudah
Setetes  Air dalam Bensin

Setetes Air dalam Bensin

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran berbuka puasa bersama, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas PUPR, dan Petugas Lembaga Pengelola Sampah (LPS) se-Kota Padang, di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Selasa (10/3/2026).(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Bakal Menggelar Lomba Kebersihan Tingkat RT se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Lantik Komandan Resimen (Menwa) Pagaruyuang Sumbar Membina Generasi Muda yang Tangguh, Berkarakter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Ke Hadirat” dan “Kehadiran”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Berikan Bantuan Rp 15 Juta Pada Korban Kebakaran di Lubuk Buaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026