Jumat, 16/1/26 | 15:20 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Idiom dalam Puisi “Teratai” Karya Sanusi Pane

Minggu, 26/5/24 | 09:27 WIB

Oleh: Annisa Aulia Amanda
(Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

 

Sastra adalah alat ungkapan ekspresi tidak langsung, baik berupa kritikan, pernyataan, informasi dan hal-hal lainnya dari seorang penulis dengan medium bahasa. Menurut Samuel Johnson dalam Tarigan (1984:5), puisi adalah luapan yang spontan dari perasaan yang penuh daya yang berpangkal pada emosi yang berpadu kembali dengan kedamaian. Luapan emosional yang dimiliki puisi memiliki keindahan pada penggunaan bahasa yang emotif dan bersifat konotatif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konotasi adalah tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata.

BACAJUGA

Penamaan Tempat di Nagari Andiang

Penamaan Tempat di Nagari Andiang

Minggu, 20/7/25 | 11:20 WIB
Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Dalam puisi, idiom memainkan peran penting dengan menambah kedalaman dan kekayaan bahasa, sehingga meningkatkan dampak puisi secara keseluruhan. Kridalaksana dalam  Pristasianti (2013) menyatakan bahwa idiom adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan unsur pembentuknya. Dalam artikel “Idiom dalam Bahasa Indonesia: Struktur dan Makna”, Khak (2011) menuliskan bahwa idiom digolongkan berdasarkan strukturnya, salah satunya frasa idiom. Frasa merupakan konstruksi sintaksis yang menggabungkan dua atau lebih kata yang tak melebihi batas fungsi (Manaf, 2009). Frasa idiom dapat kita lihat pada puisi “Teratai” karya Sanusi Pane.

Puisi “Teratai” adalah karya yang melukiskan sosok Ki Hajar Dewantara di mata seorang Sanusi sang penyair  (Nasiti, 2013). Puisi ini menjadi medium untuk Sanusi dalam melukiskan kekagumannya terhadap seorang Ki Hajar Dewantara yang dilambangkan dengan bunga teratai. Bunga yang berakar kuat dan mampu hidup di lumpur ini pada filosofi spiritualitas Timur melambangkan kemurnian, pencerahan, dan kelahiran kembali (Nasiti, 2013). Emosi yang dimiliki oleh Sanusi Pane diungkapkan melalui puisi ini dengan menggunakan idiom untuk memperindah puisi. Berikut adalah puisi tersebut:

Teratai

Kepada Ki Hajar Dewantara

Dalam kebun di tanah airku

             Tumbuh sekuntum bunga teratai

            Tersembunyi kembang indah permai

Tiada terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh di hati dunia

            Daun berseri, laksmi mengarang

            Biarpun dia diabaikan orang

Seroja kembang gemilang mulia

Teruslah, o, teratai bahagia

Berseri di kebun Indonesia

            Biarkan sedikit penjaga taman

Biarpun engkau tidak dilihat

Biarpun engkau tidak diminat

            Engkau turut menjaga jaman

Sanusi Pane, 1957

Pada puisi tersebut dapat ditemukan beberapa idiom yang menjadi pilihan Sanusi dalam puisinya. Pertama “tanah airku”, idiom berikut adalah frasa yang melambangkan bangsa dan negara penyair, yaitu Indonesia. Kedua, ada idiom “kembang indah permai”, menyatakan hal yang tumbuh dengan baik dan elok. Berikutnya  idiom “hati dunia”. Dalam baris tersebut, idiom menunjukkan orang-orang yang mendapatkan dampaknya, yaitu masyarakat Indonesia. Sanusi Pane menggambarkan perjuangan seorang Ki Hajar Dewantara yang sangat berdampak terhadap negara khususnya dalam bidang pendidikan.

Lalu, ada idiom “gemilang mulia” yang mengandung makna hal sesuatu yang luar biasa dan terhormat. Ditemukan idiom berikutnya, yaitu “teratai bahagia”, dalam baris, idiom yang digunakan Sanusi menunjukkan dukungannya terhadap perjuangan Ki Hajar Dewantara. Berikutnya idiom “kebun Indonesia” yang dipilih Sanusi dalam merujuk terhadap negara Indonesia karena Ki Hajar Dewantara dilambangkan sebagai bunga teratai. Idiom terakhir yang ditemukan adalah “penjaga taman”, Sanusi menggunakan idiom ini untuk menyebut para pahlawan yang berjuang untuk negara.

Idiom dalam puisi “Teratai” dapat menciptakan kesan gambaran dan kejelasan, memungkinkan seseorang memvisualisasikan adegan dan emosi yang diekspresikan oleh Sanusi. Idiom juga dapat berfungsi sebagai bentuk simbolisme atau alegori dalam puisi, menambah lapisan makna dan kompleksitas pada teks, seperti simbol-simbol yang pada idiom yang ditemukan di atas. Sanusi ingin mengungkapkan kekagumannya dan apresiasinya terhadap Ki Hajar Dewantara melalui puisi tersebut. Ia menceritakan pandangannya terhadap Bapak Pendidikan Indonesia; sikap pantang menyerah dan nasionalisme seorang Ki Hajar Dewantara  (Nasiti, 2013).

Idiom memainkan peran penting dalam puisi dengan meningkatkan bahasa, citra, dan keindahan bahasa. Penyair menggunakan idiom untuk membangkitkan emosi, menciptakan gambaran yang jelas, dan menyampaikan makna yang kompleks dalam karya diterbitkan, seperti yang dilakukan oleh Sanusi Pane dalam puisinya, “Teratai” sebagai medium ekspresi kagum terhadap seorang Ki Hajar Dewantara. Pada akhirnya, idiom berfungsi sebagai perangkat sastra yang kuat yang menambah kedalaman dan kekayaan puisi, menjadikannya bentuk ekspresi artistik yang dinamis dan menarik.

Padang, 2024-05-13

Tags: #idiomAnnisa Aulia AmandaPuisi
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

“Playing Victim” dan Karakter Manipulatif

Berita Sesudah

Cerpen “Buah Cinta Si Qomar” Karya Hayat Mardhotillah dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Cerpen “Buah Cinta Si Qomar” Karya Hayat Mardhotillah dan Ulasannya oleh Azwar

Cerpen "Buah Cinta Si Qomar" Karya Hayat Mardhotillah dan Ulasannya oleh Azwar

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Tegaskan Gerakan Pramuka Pembentuk Generasi Muda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PDAM Kota Padang Putuskan Sambungan Air Tanpa Peringatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024