Senin, 02/3/26 | 20:53 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Asal-Usul Kata “Kepo” dan “Julid” di Media Sosial

Minggu, 12/5/24 | 16:42 WIB
Peran Diksi dalam Kegiatan Tulis-Menulis
Oleh: Elly Delfia (Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Ketika beraktivitas di media sosial, kita sering menemukan beberapa kata yang populer di kalangan pengguna media sosial. Kata-kata tersebut  representasi perilaku pengguna media sosial. Kata kepo dan julid merupakan dua kata yang cukup populer kita temukan dalam media sosial. Kata-kata itu diucapkan dengan model kalimat yang beragam, seperti contoh-contoh di bawah ini.

  1. Jangan kepo dengan urusan orang lain!
  2. Kepo kadang perlu untuk mengenal seseorang lebih dalam!
  3. Keponya cewek bisa mengalahkan FBI.
  4. Terlalu kepo bisa membuatmu baperan.
  5. Kekepoanmu bisa menyakitimu.
  6. Aduh, julid amat sih jadi orang!
  7. Orang julid ga usah diladeni!
  8. Orang julid tanda tak mampu.
  9. Dia jago ngejulidin orang.
  10. Sifat julid membuatmu tak tenang.

Kalimat-kalimat di atas merupakan bentuk penggunaan kata kepo dan julid di media sosial. Untuk mengetahui lebih dalam tentang kata kepo dan julid, mari kita baca deskripsi berikut. Pertama, kita akan membahas kata kepo. Kepo berasal dari kaypoh yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di Singapura. Kaypoh merupakan bentuk bahasa Singlish atau bahasa Singapura-English artinya seseorang yang selalu ingin tahun dan turut campur dengan masalah orang lain (rri.co.id). Dalam bahasa Indonesia kata kaypoh mengalami sedikit perubahan bunyi sehingga ditulis dalam bentuk yang lebih singkat dengan menghilangkan huruf y dan h serta mengganti huruf a dengan e agar mudah untuk diartikulasikan sebagai kepo. Selanjutnya, kepo berarti ‘orang yang selalu ingin tahu dan ikut campur terhadap masalah orang lain’. Kepo juga ada dalam bahasa Jawa yang berarti ‘menguping atau mencari tahu masalah orang lain yang bukan urusannya’.

Dalam bahasa Inggris pun kata kepo juga memiliki makna tersendiri. Kepo merupakan bentuk singkat dari knowing every particular object yang berarti ‘mengetahui setiap objek tertentu’ (Kumparan dalam rri.co.id). Dalam bahasa sederhana, kepo dapat diartikan sebagai ‘mengetahui setiap atau suatu objek dengan rinci dan mendalam’. Sementara itu, dalam bahasa Hokkian, Tionghoa, Medan, kepo berarti memarahi atau mengejek orang lain yang mengurus hal-hal yang bukan urusannya atau bukan pekerjaannya.

Kemudian, tingginya tingkat penggunaan kata kepo di kalangan pengguna media sosial menyebabkan kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia. Bukti penyerapan kata tersebut ke dalam bahasa Indonesia dapat dilihat melalui kehadirannya dalam entri Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata kepo dalam KBBI diberikan keterangan sebagai cak yang berarti bentuk percakapan atau bentuk kata yang digunakan dalam percakapan lisan. Kepo dalam KBBI diartikan ‘sebagai rasa ingin tahu yang berlebihan tentang urusan orang lain’.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Kepo menjadi salah satu bentuk kosakata baru yang muncul dari kreativitas berbahasa anak muda di media sosial. Artinya, kreativitas berbahasa anak muda mempunyai peran besar terhadap lahirnya bentuk-bentuk kosakata baru dalam bahasa Indonesia. Pada akhirnya, media sosial mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia.

Selain kata kepo, kata kedua yang tidak kalah populernya adalah kata julid.  Kata ini berasal dari bahasa Sunda yang merupakan bentuk singkat dari bin julid yang artinya ‘orang yang mempunyai sifat iri hati dan dengki’. Julid digunakan untuk menyebut orang yang kepo, iri hati, dengki, dan nyinyir terhadap kehidupan orang lain. Kata ini awalnya hanya kata biasa dalam bahasa Sunda yang berposisi sama dengan kata lain untuk menyebut orang yang mempunyai sifat iri dan dengki serta suka nyinyir terhadap hidup orang lain.

Artis dan penyanyi Syahrini sering menggunakan kata julid untuk merespon orang-orang yang memberikan komentar negatif terhadap dirinya. Alhasil, kata ini sekarang menjadi populer untuk menyebut orang-orang yang nyinyir, kepo, dan suka membicarakan kehidupan orang lain, baik di media sosial ataupun dalam kehidupan nyata.

Kata julid juga termasuk ke dalam salah satu entri KBBI. Kata julid merupakan kata sifat (adjektiva) yang biasa digunakan dalam ragam bahasa percakapan. Julid dalam KBBI diartikan sebagai ‘iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain’. Perilaku julid biasanya dilakukan dengan menulis komentar, status, atau pendapat di media sosial yang menyudutkan orang-orang tertentu.

Pada akhirnya, kepo dan julid awalnya bukan merupakan kosakata bahasa Indonesia. Kedua kata ini berasal dari bahasa yang berbeda, yaitu bahasa asing (bahasa Singapura-English) dan bahasa daerah (bahasa Sunda) yang kemudian menjadi bentuk kosakata baru dalam bahasa Indonesia. Popularitas kedua kata ini merupakan representasi perilaku sosial masyarakat pengguna media sosial. Dengan kata lain, kedua kata ini populer karena banyak orang yang mempunyai sifat kepo dan julid terhadap kehidupan orang lain serta masih banyak orang belum bisa menghormati batasan-batasan privasi orang lain di media sosial. Jadi, keberadaan kata kepo dan julid merupakan salah satu sentilan terhadap fungsi bahasa, seperti pernyataan Widjono (2012) bahwa salah satu fungsi  bahasa adalah untuk mengendalikan komunikasi atau perilaku sosial agar orang-orang yang berkomunikasi dapat saling memahami bukan saling menuding dan mengeluarkan kata-kata tidak baik terhadap satu sama lain.

Sementara itu, dari segi kebahasaan, kata kepo dan julid termasuk ke dalam bentuk kreativitas berbahasa pengguna media sosial. Kreativitas berbahasa mempunyai peran penting terhadap lahirnya bentuk-bentuk kosakata baru dalam bahasa Indonesia, tidak peduli apakah kata tersebut memiliki makna negatif ataupun positif. Bentuk-bentuk kosakata baru merupakan bukti perkembangan dan kedinamisan bahasa Indonesia.

Tags: #bahasa media sosial#Elly Delfia#julid#Kepo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perfect Days: Standar Bahagia dan Syukur yang Sederhana

Berita Sesudah

Majas Hiperbola dalam Lagu “Seluruh Nafas Ini” Karya Virgoun

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Berita Sesudah
Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” Karya Rendra

Majas Hiperbola dalam Lagu “Seluruh Nafas Ini” Karya Virgoun

Discussion about this post

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024