Senin, 06/7/26 | 14:37 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pentingnya Memaknai Tujuan Kelompok

Minggu, 02/4/23 | 10:50 WIB

Oleh: Riza Andesca Putra
(Dosen Departemen Pembangunan dan Bisnis Peternakan Unand dan Mahasiswa Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM)

 

Secara harfiah, manusia tidak akan sanggup hidup sendiri, baik pria maupun wanita. Hampir semua manusia butuh hidup berkelompok karena pada hakikatnya seluruh aktivitas, seperti bekerja, belajar, ibadah, hingga bermain terjadi dalam sebuah kelompok. Aristoteles, seorang filsuf ternama, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu hidup bermasyarakat. Manusia tidak bisa dipisahkan dari kelompok masyarakat tempat saling berinteraksi satu sama lain. Itu bukti manusia sebagai makhluk sosial.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Proses sebagai makhluk sosial tersebut sudah terjadi semenjak manusia lahir ke muka bumi. Pada saat bayi, manusia sudah menjalin interaksi sosial dengan ayah dan ibunya serta keluarga terdekat. Masa kanak-kanaknya dilalui dengan bermain dengan teman sebaya. Selanjutnya, waktu dewasa manusia memasuk lingkungan yang semakin luas, baik kelompok formal maupun informal serta kelompok sosial maupun bisnis. Meskipun manusia butuh hidup berkelompok, motivasi hidup berkelompok dapat berbeda-beda. Selain untuk memenuhi kebutuhan dasar secara lahiriah, motivasi orang hidup berkelompok juga untuk memenuhi tiga hal berikut:  Pertama, menyelesaikan pekerjaan yang lebih besar. Keterbatasan sebagai individu dapat tertutupi atau terbantu dengan berkelompok, misalnya  mengangkat sebuah batang kayu besar tidak bisa dilakukan sendirian namun jika dilakukan oleh beberapa orang, usaha itu bisa dilakukan dengan baik.

Kedua, mencapai tujuan tertentu. Banyak keinginan dan harapan manusia tidak bisa dipenuhi jika dilakukan sendirian. Terdapat beberapa hambatan, salah satunya hambatan administrasi. Contohnya di Indonesia bantuan pupuk subsidi atau beberapa bantuan lainnya tidak dapat diberikan kepada rakyat secara individu namun mesti diberikan kepada masyarakat yang tergabung ke dalam sebuah kelompok tani.

Ketiga, sebagai eksistensi diri. Berkelompok tidak hanya semata-mata karena faktor kebutuhan dasar dan ekonomi semata. Sebagian orang berkelompok dan rela mengeluarkan sumber daya yang banyak, malah hanya untuk ingin dihargai, serta untuk kebebasan berekspresi dan diakui eksistensinya. Contohnya seperti kelompok anak punk dan ibu-ibu sosialita. Anak punk berkelompok hanya ingin bebas mengekspresikan diri dan menunjukkan eksistensinya. Sementara itu, ibu-ibu sosialita berkelompok hanya ingin dihargai dan dipuji keberadaannya.

Begitu banyak opsi motivasi seseorang yang bergabung dalam kelompok dan menjadi sebuah keniscayaan adanya dinamika dalam kelompok tersebut. Dinamika merupakan gerak kelompok karena adanya kekuatan yang mempengaruhi baik internal maupun eksternal. Gerak kelompok tersebut memunculkan interaksi antarindividu dalam kelompok. Interaksi menimbulkan kerja sama, dukungan, dan berbagi. Di sisi lain, interaksi juga dapat menimbulkan perbedaan pendapat, ketersinggungan sampai perselisihan. Semua ini lumrah terjadi dalam kelompok. Jika dapat dikelola dengan baik, dinamika kelompok akan menjadi faktor pendorong dalam kesuksesan kelompok. Namun, jika kita tidak berhasil mengelolanya, dinamika tersebut akan menjadi benalu dalam kelompok.

Dalam pengelolaan dinamika kelompok, di antaranya terdapat dua unsur utama yang mesti menjadi perhatian, yaitu tujuan bersama dan peran-peran dalam kelompok. Setiap kelompok mesti memiliki tujuan bersama. Tujuan bersama merupakan penggabungan tujuan-tujuan individu menjadi sebuah tujuan baru yang ingin dicapai secara bersama-sama. Dengan kata lain, setelah disepakatinya tujuan bersama, dengan sendirinya tujuan-tujuan individu mestinya hilang atau terminimalisasi. Namun perlu digarisbawahi, tujuan bersama tersebut mesti jelas dan mengakomodasi tujuan individu dalam kelompok.

Tujuan yang jelas dan akomodatif akan mempengaruhi koordinasi dan sinkronisasi antarindividu untuk mampu mencapainya. Di sisi lain, tujuan yang tidak jelas dan tidak akomodatif akan menimbulkan kegalauan dalam kelompok dan kegagalan menerapkan ide sehingga hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh sebab itu, perumusan tujuan bersama dalam kelompok mesti dilakukan dengan baik dan partisipatif sehingga semua individu memahaminya dan merasa bertanggung jawab untuk mewujudkannya.

Dalam pencapaian tujuan bersama dalam kelompok, terdapat peran-peran yang mesti dimainkan oleh setiap individu. Peran tersebut tentu saja tidak sama antara yang satu dengan yang lain, unik, dan saling melengkapi. Masing-masing individu memainkan perannya masing-masing sesuai dengan kebutuhan untuk pencapaian tujuan bersama. Secara struktur, ada yang berperan sebagai manajer, ketua, supervisor, departemen tertentu, bawahan, anggota biasa, dan peran lainnya. Tidak mungkin dalam sebuah kelompok semuanya berperan sebagai manager atau semua sebagai bawahan. Mesti ada pembagian peran dalam kelompok. Menjadi bawahan yang baik tidak lebih jelek dari pada menjadi manager atau sebaliknya. Semua peran tersebut bermakna penting bagi kesuksesan kelompok dan semuanya saling mempengaruhi.

Jika tujuan bersama dan peran-peran dalam kelompok tersebut dapat dijalankan dengan baik, dengan sendirinya kelompok akan sukses. Setiap individu dalam kelompok akan merasa senang dengan keberadaannya dalam kelompok. Secara prinsip keberadaan kelompok mesti memberikan manfaat kepada individu yang ada di dalamnya. Manfaat tersebut tidak melulu dinilai dari sisi ekonomi namun bisa saja dari sisi yang lainnya, seperti kebutuhan berinteraksi sosial maupun eksistensi diri.

Kemampuan kelompok meramu dan mewujudkan kebermanfaatan yang ingin diterima oleh setiap individu di dalam kelompok, akan sangat mempengaruhi keberlanjutan dan kesuksesan kelompok tersebut.

*Artikel ini merupakan bagian pertama dari beberapa bagian lainnya tentang Sukses Mengelola Kelompok.

Tags: #Riza Andesca Putra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Polemik Tuan Rumah Piala Dunia U-20 dan Implikasinya terhadap Kondisi Bangsa

Berita Sesudah

Cerpen “Kebenaran yang Temaram” Karya Andi Mutiara Muthahharah dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Cerpen “Kebenaran yang Temaram” Karya Andi Mutiara Muthahharah dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Cerpen "Kebenaran yang Temaram" Karya Andi Mutiara Muthahharah dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Discussion about this post

POPULER

  • Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026