Rabu, 22/4/26 | 11:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Ibu dan Susu Kotak

Minggu, 02/4/23 | 12:16 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Beberapa hari yang lalu, salah satu hal yang diributkan di jagat per-twitter-an ialah terkait seorang ibu yang menyimpan susu kotak di dalam kulkas. Sekilas tidak ada yang aneh dengan hal itu. Hal yang menjadi persoalan bagi netizen, termasuk salah satu anak dari si ibu ialah karena susu tersebut ditempeli kertas bertuliskan “punya mamah”. Sekilas masih tidak ada yang aneh dengan hal itu, setidaknya bagi sebagian orang, termasuk saya.

“Gua tau mama gua suka nyimpen makanan atau jajanannya sendiri di kamar, tiap gua liat gak pernah gua ambil juga makanannya dia. Tapi gua kaget liat kulkas sampe dinamain dan gak Cuma satu. Berasa lagi ngekos,” tulis si anak dengan diakhiri emotikon tertawa lewat sebuah menfess. Maka dimulailah selisih pendapat di kolom komentar antara netizen.

Sebagian netizen menilai tingkah si ibu tidak seharusnya begitu. Bagi netizen yang memiliki penilaian seperti ini, seorang ibu biasanya akan selalu mendahulukan kebutuhan anak. Seorang ibu yang memiliki stok camilan sendiri tergolong hal yang tidak lazim bagi sebagian netizen.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Sebagian netizen lain memiliki penilaian yang bertentangan. Bagi netizen ini, hal yang dilakukan si ibu adalah wajar. Seorang ibu bagi mereka adalah selayaknya manusia biasa lainnya. Seseorang yang memiliki privasi, termasuk soal makanan kesukaan hingga camilan kesukaan yang tidak boleh diambil secara sembarangan, bahkan oleh anak-anaknya sendiri.

Seketika saya teringat beberapa momen dengan ibu saya terkait makanan. Beliau sebetulnya  adalah tipikal ibu yang selalu mengalah demi kebutuhan anak-anak, termasuk soal makanan. Ibu sering membiarkan saya memakan camilannya yang saya temukan sengaja ia simpan sekembali bepergian. Ibu selalu bilang, “Makanlah, tidak apa-apa!”

Mengingat itu di waktu sekarang membikin terenyuh. Bagaimana jika makanan itu sangat ibu suka dan sengaja ia simpan untuk dimakan di momen tertentu? Ternyata memang begitu. Kadang ketika membeli es krim dan camilan cokelat, ibu sengaja memakannya di dalam kamar. Kemungkinan karena memang ingin menikmati momen ngemil dengan syahdu tanpa gangguan dari anak-anaknya yang suka minta. Padahal, mereka sudah punya jatah masing-masing. Itu bukan karena pelit atau egois. Setiap orang punya me time walau sekadar ngemil tanpa gangguan sekecil apa pun.

Bila sebagian orang berkata menjadi ibu berarti harus siap mengalah dan mendahulukan kebutuhan orang lain (seperti anak dan suami) maka saya siap. Siap berada di barisan yang menentang pemahaman ini. Masyarakat seperti menetapkan sebuah standar bagi ‘ibu yang baik’ dan ‘ibu yang tidak baik’. Ibu yang rela berkorban demi anak, demi suami, dan demi keluarga akan mendapat label ‘ibu yang baik’ walaupun ia kehilangan dirinya sendiri.

Ibu yang menyimpan camilan di kamar untuk dinikmati sendiri bisa mendapat label ‘ibu yang tidak baik’ karena perbuatannya dianggap tidak sesuai dengan standar. Pada balasan tweet di menfees di atas, tidak sedikit ditemukan komentar yang mengarah ke hal itu. Sebagian komentar bahkan memaki sikap si ibu yang melabeli susu kotak sebagai kepunyaannya.

Padahal, menjadi ibu bukan berarti harus selalu berkorban dan mengalah. Ia tetap punya privasi dan sangat wajar di waktu tertentu menikmati hal-hal yang ia suka. Sebab, itu adalah salah satu cara menjaga kewarasan karena menjadi ibu tidaklah semudah dan seindah standar yang kadung dikonstruksi oleh masyarakat.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Kebenaran yang Temaram” Karya Andi Mutiara Muthahharah dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Berita Sesudah

Satu Tikungan Lagi

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Satu Tikungan Lagi

Satu Tikungan Lagi

Discussion about this post

POPULER

  • Memahami Kembali Imbuhan memper-

    Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-Puisi Elly Delfia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026