Rabu, 08/4/26 | 03:21 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Berbicara tentang Rencana

Minggu, 24/4/22 | 10:25 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Banyak kegiatan yang dapat dilakukan dalam mempererat silaturahmi di bulan suci Ramadan, salah satunya mengadakan acara buka puasa bersama. Saya kira mungkin saja di antara pembaca sudah melaksanakannya, mengingat puasa Ramadan yang telah memasuki sepuluh hari terakhir. Berbagai pula acara buka bersama yang diadakan, baik itu buka bersama kerabat kerja, teman sekolah, rekan kuliah, atau mungkin juga sanak famili. Dengan banyak pilihan tempat pula tentunya, ada yang di restoran, cafe, kantor, atau di rumah sesuai dengan kesepakatan bersama.

Beda pula ceritanya jika setiap acara yang direncanakan jauh hari, namun tidak kesampaian. Dalam suatu kesempatan misalnya, saya dengan beberapa teman berencana untuk mengadakan buka puasa bersama di salah satu cafe, bahkan seminggu sebelum acara kami sudah mengagendakannya. Hanya saja saat mendekati hari yang disepakati, lebih dari sebagian tidak dapat mengikuti dengan berbagai alasan dan halangan tentunya. Bagi saya dan rekan-rekan memahami bahwa menepati janji sudah menjadi sebuah kewajiban, begitu ajaran agama. Tentu saja hal serupa itu tidak untuk ditiru.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Bagi kami hal itu tidak menjadi persoalan. Lagian kejadian serupa demikian bukan hal baru dan pertemanan kami tetap berjalan akrab seperti biasanya. Hanya saja banyak acara yang direncanakan jauh hari sulit untuk direalisasikan dibanding yang dadakan, misalnya pada suatu kesempatan kami pergi ke pemandian air hangat dengan jarak cukup jauh. Keinginan untuk pergi itu spontan diutarakan seorang teman saat kami lagi nyantai di salah satu kedai kopi. Malam itu, selesai menghabiskan kopi dan camilan kami pun berangkat menuju tempat pemandian.

Tidak satu, dua, atau tiga kali pula acara dadakan itu dapat diwujudkan, bila dijumlahkan tak terhitung oleh jari di tangan. Kenapa yang direncakanan sulit diwujudkan? Kenapa yang dadakan mudah direalisasikan? Terkadang, saya sering bertanya sendiri dalam hati. Barangkali, yang susah itu adalah menepati janji untuk bertemu karena yang sulit adalah mencari waktu untuk berkumpul. Kira-kira begitu.

Beda pula ceritanya jika rencana itu berkaitan dengan harapan dan cita-cita. Tentu harus berusaha untuk diwujudkan. Bagi yang sedang mengerjakan tugas akhir, seperti skripsi, tentu punya rencana yang harus dijalankan demi kelancaran pengerjaan skripsi. Begitu juga bagi yang sedang berusaha meluluhkan hati seseorang, tentu harus ada rencana yang matang pula agar ia dapat menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Meluluhkan hai seseorang dibutuhkan keseriusan karena ada karakter pribadi yang harus ditaklukkan dan restu orang tua yang harus didapatkan.

Saat rencana sudah ditentukan, dibutuhkan keseriusan untuk mewujudkannya. Jangan terlalu banyak berkhayal hingga lupa untuk berbuat. Saya jadi teringat cerita Si Lebai Malang yang ragu-ragu untuk menghadiri sebuah hajatan. Ia menerima undangan hajatan yang diadakan secara bersamaan dengan jamuan yang berbeda. Akibat terlalu lama mengkhayal masakan dua hajatan itu, ia datang saat hajatan telah selesai dan semua jamuan makanan habis. Tentu saja cerita itu dapat dijadikan pelajaran agar terhindar dari hal yang merugikan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Irawan Winata dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Cerpen “Sawah Terakhir” Karya Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Berita Sesudah
Cerpen “Sawah Terakhir” Karya Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Cerpen "Sawah Terakhir" Karya Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Discussion about this post

POPULER

  • Kehilangan Ijazah Bukan Akhir Segalanya, Ini Prosedur Resmi Dapatkan SKPI yang Sah di Mata Hukum.

    Kehilangan Ijazah Bukan Akhir Segalanya, Ini Prosedur Resmi Dapatkan SKPI yang Sah di Mata Hukum.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Capaian Pembangunan di Dharmasraya Tahun 2025 Dinilai Progresif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Bahaya Tersembunyi, Ahli Ingatkan Pentingnya Kuras Dispenser Secara Rutin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Padang Setujui LKPJ Walikota Padang Tahun 2025 Dengan Berbagai Catatan , Untuk Meningkatkan Kinerja Pemko

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026