Jumat, 23/10/26 | 04:06 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Ketidakkonsistenan Penggunaan Kata Ganti Orang

Minggu, 10/1/21 | 10:26 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Penggunaan kata ganti orang atau pronomina persona dalam dunia tulis-menulis bukan suatu hal yang mudah. Tidak jarang ditemukan ketidakkonsistenan penggunaan kata ganti orang dalam sebuah tulisan, apalagi pada tulisan penulis-penulis pemula.

Ketidakkonsistenan ini adalah salah satu di antara sekian banyak kesulitan atau hambatan dalam tulis-menulis. Pemahaman yang baik sangat dibutuhkan dalam penggunaan kata ganti orang, terutama pemahaman tentang penggunaan kata ganti orang dalam bahasa Indonesia. Lalu, apa yang dimaksud dengan kata ganti orang? Mari kita lihat pengertian dan contoh-contohnya.

Kata ganti orang atau pronomina persona merupakan kata yang menunjukkan kategori persona (kata ganti), seperti saya, ia, mereka, dan sebagainya (Kridalaksana, 2008:200). Kata ganti orang juga didefinisikan sebagai pronomina mengacu terhadap orang, saya, aku, kita, kami, engkau, kamu, kalian, Anda, Anda sekalian, bapak, ibu, dia, ia, beliau, dan mereka serta kata ganti orang juga digunakan untuk kepentingan tertentu, seperti untuk prosa dan syair. Kata ganti orang yang digunakan agak berbeda dengan kata ganti yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, contohnya beta, hamba, patik, Adinda, Kakanda, Bunda, Ayahanda, dan sebagainya. Selain itu, juga ada kata ganti orang atau pronomina persona yang disebut dengan bagian dari klitik, yaitu proklitik dan enklitik (Mulyono, 2013:33).

Klitik merupakan bentuk terikat yang secara fonologis tidak mempunyai tekanan dan tidak bisa dianggap morfem terikat karena dapat mengisi gatra pada tingkat frase atau klausa, tetapi tidak mempunyai ciri-ciri kata karena tidak bisa berlaku sebagai bentuk bebas (Kridalaksana, 2008:126). Secara sederhana, klitik merupakan bentuk terikat yang tidak bisa disebut kata dan tidak bisa pula disebut sebagai imbuhan atau afiks serta poisisinya tidak berdiri sendiri atau melekat pada kata dasar yang lain. Klitik terbagi atas dua, yaitu proklitik dan enklitik. Proklitik merupakan kata ganti orang yang melekat di depan kata dasar, misalnya -ku pada kata kupakai dan kusapa. Enklitik merupakan kata ganti orang yang melekat di belakang kata dasar, misalnya -mu dan -ku pada kata hari-harimu, hatimu, jiwamu, bungaku, anakku, dan hidupku. Tata cara penulisan proklitik dan enklitik adalah disatukan atau dilekatkan pada kata dasar yang ada di belakang atau di depannya.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Selanjutnya, dalam praktik tulis-menulis, seringkali ditemukan ketidakkonsistenan penggunaan kata ganti orang dalam tulisan-tulisan penulis pemula, misalnya pada awal kalimat, penulis menggunakan kata ganti aku untuk menarasikan sebuah peristiwa, lalu pada kalimat kedua penulis menggunakan kata ganti saya, dan pada kalimat selanjutnya, penulis kembali menggunakan aku. Contohnya penggunaan kata ganti orang yang tidak konsisten dalam cerita:

“Aku seorang istri. Selama hampir dua kalender hari raya, saya dan suami menjalani hidup masing-masing dalam ikatan pernikahan. Akhir minggu, aku sibuk dengan komunitas senamku. Siangnya, aku harus mengurus klub membaca. Sore harinya, saya menghadiri arisan ibu-ibu kompleks, tempat segala cerita kesempurnaan hidup dan hal-hal bersifat privasi sering disuguhkan. Sebenarnya, aku tidak cocok bergabung di sana. Aku tidak suka sentimentil dalam menilai kehidupan. Bagiku, privasi tidak perlu dibicarakan dan kesempurnaan tidak perlu dipamerkan. Meskipun begitu, saya tetap menghadirinya dengan hati yang kuusahakan senyaman mungkin.”

Meskipun kata ganti aku dan saya sama-sama kata ganti orang pertama tunggal,  kata ganti aku dan saya mempunyai perbedaan secara makna dan ruang lingkup pemakaiannya. Kata ganti aku digunakan untuk situasi informal, santai, dan menimbulkan kesan lebih menyentuh sisi-sisi emosional atau kedekatan tertentu dalam interaksi, sedangkan kata ganti saya digunakan untuk situasi formal, netral, datar, dan jauh dari kesan emosional. Berdasarkan perbedaan itu, ada kemungkinan pembaca akan mengidentifikasi tokoh aku dan saya sebagai dua orang yang berbeda dalam contoh cerita di atas padahal rangkaian kegiatan yang diceritakan masih mengacu pada orang yang sama. Ini disebut dengan ketidakkonsistenan yang membingungkan.

Penggunaan kata orang merupakan hal penting dalam cerita karena pembaca biasanya mengidentifikasi kata ganti orang untuk memahami isi cerita dan mengenali karakter tokoh dalam cerita. Jika penggunaan kata ganti orang tidak konsisten, pembaca akan gagal memahami cerita dan mengenali karakter tokoh dalam cerita. Selain itu, paralelisme atau kesejajaran sebagai unsur pembangun keindahan atau estetika dalam cerita juga berkurang akibat ketidakkonsistenan ini. Ketidakkonsistenan ini tidak hanya ditemukan untuk kata ganti orang pertama, ketidakkonsistenan terkadang juga ditemukan dalam hal kata penggunaan kata sapaan, seperti pada awal cerita menggunakan kata Saudara untuk menyapa seseorang dalam situasi formal, lalu pada bagian tengah cerita menggunakan kata sapaan Anda.

Jadi, mari belajar konsisten dalam menggunakan kata ganti orang saat menulis agar tulisan kita mudah dipahami dan enak dibaca. Proses menuju konsistensi ini dapat dilakukan dengan banyak latihan. Latihan menuliskan, membaca kembali, dan menyunting tulisan. Langkah-langkah ini dapat mengurangi ketidakkonsistenan dan dapat membuat tulisan lebih fokus, terutama fokus dalam penggunaan kata ganti orang. Semoga mencerahkan.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pungutan Kata dari Bahasa Inggris

Berita Sesudah

Tanda Hubung: Penghubung Dua Unsur

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Pada kolom Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Berita Sesudah

Tanda Hubung: Penghubung Dua Unsur

Discussion about this post

POPULER

  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bagikan Masker di Lubuk Alung, Firdaus: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Asap Karhutla, Nakes di Dharmasraya Diminta Jemput Bola Tangani Pasien ISPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Sosialisasikan Perda Koperasi dan Usaha Kecil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026