
Kabupaten Solok, Scientia.id – Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menargetkan perluasan areal perkebunan kopi arabika seluas 1.450 hektare pada 2026 melalui kelanjutan program strategis nasional yang didukung anggaran biaya tambahan (ABT).
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Taufik, mengatakan program tersebut merupakan kelanjutan dari rencana pengembangan kopi arabika seluas 2.000 hektare. Namun, pelaksanaan pada 2025 baru terealisasi seluas 525 hektare karena keterbatasan waktu.
“Untuk tahun 2026 ini dilanjutkan lagi program ABT, yaitu seluas 1.450 hektare untuk kopi arabika,” kata Taufik kepada Scientia.id, Kamis (22/10/2026).
Taufik menjelaskan, perluasan perkebunan kopi menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar. Usulan penambahan areal kopi tersebut telah disampaikan pemerintah daerah sejak 2024.

“Permintaan pasar sampai saat ini belum terpenuhi, makanya kami mengusulkan penambahan perluasan areal kopi,” ujarnya.
Terkait anggaran, nilai alokasi ABT untuk pelaksanaan program kopi arabika pada 2026 belum disebutkan dalam keterangan yang disampaikan Taufik. Karena itu, besaran anggaran maupun status pencairannya masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.
Selain program kopi arabika, Kabupaten Solok juga direncanakan memperoleh bantuan bibit kakao dari kementerian pada 2026. Bantuan tersebut meliputi perluasan areal tanam kakao seluas 100 hektare dan peremajaan tanaman kakao dengan luas yang sama.
Namun, kepastian dukungan biaya penanaman untuk program kakao masih bergantung pada keputusan kementerian. Taufik mengatakan, petunjuk teknis pelaksanaan telah memuat ketentuan mengenai kegiatan penanaman, tetapi realisasi dukungan biayanya belum dapat dipastikan.

“Kalau informasi sementara ini, belum tahu apakah biaya tanam itu bisa direalisasikan atau tidak. Itu tergantung ke kementerian,” katanya.
Saat ini, luas perkebunan kopi di Kabupaten Solok diperkirakan mencapai 3.000 hektare untuk jenis arabika dan 6.000 hektare untuk robusta.
Pemerintah daerah berupaya mengembangkan potensi tersebut untuk memperkuat posisi Kabupaten Solok sebagai salah satu sentra kopi di Sumatera Barat.

Menurut Taufik, pengembangan perkebunan kopi akan memanfaatkan lahan milik masyarakat yang belum dikelola secara maksimal, sehingga program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mendorong perekonomian masyarakat. (*)







![Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus saat memasangkan masker kepada warga.[foto: ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261020-WA0014-350x250.jpg)

