Padang, Scientia — Anggota DPRD Sumatera Barat yang juga Majelis Pembina Nasional (Mabinnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Firdaus, membuka Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Kota Padang di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Padang. Momentum dua dekade usia organisasi itu dimanfaatkan untuk menegaskan arah kaderisasi di tengah tantangan internal dan dinamika sosial yang kian kompleks.
Dalam sambutannya, Firdaus menilai usia 20 tahun PMII Kota Padang bukan lagi fase pertumbuhan, melainkan kedewasaan organisasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam melahirkan kader yang sejalan dengan tujuan dan nilai dasar PMII.
“Dua puluh tahun bukan usia muda. PMII Kota Padang harus menunjukkan kematangan dengan melahirkan kader yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Firdaus.
Ia juga menyebut, PMII Kota Padang merupakan cabang tertua di Sumatera Barat yang selama ini menjadi barometer pengembangan organisasi di daerah tersebut. Posisi itu, menurut dia, menuntut tanggung jawab lebih besar dari pengurus untuk menjaga marwah organisasi sebagai teladan.
Namun demikian, Ketua Cabang PMII 2009 – 2010 itu juga menyinggung catatan internal PMII yang pernah diwarnai konflik. Dinamika tersebut, kata dia, sempat menghambat laju pengembangan organisasi. Ia berharap pengalaman itu tidak terulang dalam kepengurusan mendatang.
“Konflik internal jangan sampai menghambat gerak organisasi. Itu harus menjadi pelajaran agar PMII tetap solid,” katanya.
Firdaus mengingatkan, tantangan terbesar PMII ke depan bukan hanya menjaga eksistensi, tetapi memastikan kaderisasi tetap hidup dan relevan. Ia mengingatkan agar kader yang sudah mapan tidak lengah hingga menyebabkan meredupnya aktivitas organisasi.
“Jangan sampai kaderisasi PMII Kota Padang redup, apalagi hilang. Jika itu terjadi, ini akan menjadi catatan buruk dalam sejarah PMII di Sumatera Barat,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan peran sosial kader PMII sebagai bagian dari masyarakat. Kader dituntut peka terhadap isu-isu yang berkembang dan tidak bersikap apatis terhadap persoalan publik.
“Kader PMII harus hadir di tengah masyarakat, peka terhadap kondisi sosial, dan tidak menutup mata terhadap persoalan yang terjadi,” kata Firdaus.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar aktivitas berorganisasi tidak mengorbankan tanggung jawab akademik. Firdaus menegaskan, PMII justru harus menjadi ruang lahirnya sarjana unggul yang siap menghadapi tantangan zaman.
“Jangan sampai karena ber-PMII tidak lulus kuliah. Dan jangan menjadikan PMII sebagai kambing hitam,” ucapnya.
Menutup sambutannya, Firdaus mendorong kepengurusan baru yang akan terbentuk melalui Konfercab untuk merumuskan program kerja yang konkret dan berdampak.
“Siapkan program terbaik. PMII harus terus melahirkan kader unggul yang mampu menjawab tantangan zaman,” kata dia.(yrp)
![Ketua Mabincab PMII Kota Padang, Wendriadi saat membrikan sambutan pada pembukaan Konfercab. Sabtu, (25/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260425-WA00042-120x86.jpg)
![Wakil Menteri Perindustrin, Faisol Riza didampingi Bupati Pasaman, Welly Suheri saat menguji Balon Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif. Kamis, (23/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/1001101833-120x86.jpg)
![Ketua Mabincab PMII Kota Padang, Wendriadi saat membrikan sambutan pada pembukaan Konfercab. Sabtu, (25/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260425-WA00042-350x250.jpg)
![Wakil Menteri Perindustrin, Faisol Riza didampingi Bupati Pasaman, Welly Suheri saat menguji Balon Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif. Kamis, (23/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/1001101833-350x250.jpg)
![Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_49952-350x250.jpg)


