
Jakarta, Scientia.id – Terdengar aneh jika kita masih membicarakan apa dan bagaimana peran perempuan pada tahun 2026 ini. Ini bukan lagi hal tabu yang tak layak diperbincangkan. Di belahan dunia manapun, peran perempuan saat ini hampir setara dengan kaum pria. Apa yang tidak bisa dilakukan perempuan saat ini? Nyaris semuanya bisa. Bahkan terkadang, perempuan bisa lebih unggul. Kalau urusan dapur, tak perlu ditanya lagi. Perempuan adalah ahlinya. Apalagi kalau cuma soal menjaga dan merawat anak. Perempuan tentu juaranya.
Pada tahun 2026 ini, peran perempuan tentunya akan semakin kompleks. Jika lima belas atau dua puluh tahun lalu perempuan hanya menuntut soal kesetaraan, namun kini tidak lagi. Mereka ingin lebih. Mereka ingin peran dan kuasa yang jauh lebih besar. Misal, mereka tidak lagi cuma ingin sekadar mengambil peran atau pekerjaan yang dulunya dikerjakan kaum pria. Kini, mereka ingin ambil alih semuanya. Dari hulu sampai hilir. Pokoknya, semua mereka yang menentukan.
Untuk saat ini, perempuan modern tidak lagi ditempatkan dalam satu identitas tunggal. Mereka tidak cuma seorang ibu atau seorang pengusaha. Tapi mereka bisa menjadi ibu, sekaligus pengusaha, motivator, penggerak lingkungan, guru bahkan tenaga Kesehatan. Bahkan mereka bisa menjadi pemadam kebakaran. Suatu hal yang tidak bisa dilakukan kaum pria. Pria hanya bisa fokus pada satu pilihan. Otak mereka tidak bisa multifungsi layaknya perempuan.
Inilah yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kaum perempuan pada tahun 2026 ini. Mereka sadar kalau peluang dan tantangan ini harus mereka kelola secara maksimal. Kalau tidak, peluang dan tantangan tersebut akan diambil oleh perempuan lainnya. Artinya, peluang dan tantangan ke depannya akan saling direbut oleh perempuan. Kaum pria bisa jadi hanya menjadi pelaksana saja.
Sekarang kita lihat, berapa banyak perempuan yang semakin memiliki kuasa kepemimpinan. Mereka adalah pengambil keputusan. Mereka yang menentukan lanjut atau berhentinya sebuah kerja sama. Artinya banyak dari mereka yang saat ini menjadi pemimpin. Kualitas mereka tentunya tidak kalah dari pria, bahkan bisa di atasnya.
Data dari Fortune 500 (2025) dari 55 perusahaan atau sekitar 11 persennya dipimpin oleh perempuan, menunjukkan peningkatan stabil. Bukan tidak mungkin angka ini akan terus tumbuh. Untuk diketahui, saat ini di Thailand hampir 30 persen dan di Tiongkok 19 persen pemimpin perusahaan atau CEO (Chief Executive Officer) adalah perempuan. Artinya, peluang kaum perempuan masih sangat besar untuk menggeser kaum pria dari jabatan pimpinan perusahaan.
Lalu bagaimana dengan Indonesia. Saat ini sudah semakin banyak pula perempuan memimpin perusahaan baik lokal maupun perusahaan internasional. Tidak hanya duduk dijajaran kursi kepemimpinan perusahaan. Tidak sekadar pemimpin di perusahaan. Kaum perempuan di Indonesia sekarang sudah ada yang menjadi kepala daerah, pengusaha tambang hingga mengelola usaha berbasis komunitas dan ekonomi kreatif. Meskipun belum ada angka pasti soal jumlah, namun, dipastikan angkanya terus bertambah.
Di bidang teknologi dan industry digital, saat ini juga perempuan sudah banyak yang ambil peranan. Banyak perempuan kini menjadi kreator konten. Bahkan banyak dari mereka yang terkenal dan viral. Konten mereka pun beragam. Dari konten ecek-ecek sampai konten berkualitas tinggi. Mereka mendapat panggung dan insight. Meskipun tanpa disadari mereka juga akan mendapat tekanan. Namun di situlah peran dan tanggung jawab mereka pertaruhkan.
Apa yang Perlu Dilakukan Perempuan?
Menghadapi kompleksitas tersebut, ada beberapa sikap dan strategi penting yang dapat menjadi pegangan perempuan di tahun 2026. Salah satu jebakan terbesar adalah mengukur diri dengan standar orang lain. Ya, kadang kaum perempuan selalu mengukur standar kesuksesan dengan orang lain. Padahal, standar sukses orang yang satu dengan orang yang lain berbeda. Di era yang serba terlihat, perempuan perlu berani menentukan definisi sukses versi dirinya sendiri.
Mereka harus berani membuat standar kesuksesan bagi diri mereka sendiri. Apakah kesuksesan yang dimaksud berupa keseimbangan hidup, kemandirian finansial, kontribusi sosial, atau ketenangan batin?. Dengan cara ini tentunya mereka akan punya prioritas yang harus dicapai. Ingat, tidak semua harus dicapai sekaligus, dan itu bukanlah persoalan yang besar.
Perubahan teknologi dan dunia kerja menuntut perempuan untuk terus belajar. Jangan puas dengan kemampuan yang dimiliki saat ini. Ingat, meningkatkan kemampuan hukumnya wajib. Kalau tidak mereka akan kembali tertinggal. Selain meningkatkan kemampuan dibidang tersebut, perempuan juga harus meningkatkan kemampuan emosial. Kenali batas diri. Bahwa mereka bisa juga capek dan lelah sehingga pasti akan meminta bantuan orang lain. Dan itu bukanlah kesalahan atau kemunduruan.
Ini juga penting, bahwa pada tahun ini mereka hjarus saling bekerja sama. Perempuan harus saling mendukung. Ini menjadi nilai lebih daripada perempuan yang berjuang sendirian. Komunitas, mentor, dan jejaring profesional menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman, peluang, dan strategi bertahan. Solidaritas antarsesama perempuan bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan nyata. Tahun 2026 adalah waktu yang tepat bagi perempuan untuk hadir penuh, bersuara, dan mengambil peran tanpa harus terus-menerus membenarkan diri.
Tantangan Terbesar yang Masih Mengadang
Meski kemajuan terlihat nyata, tantangan besar tetap ada dan bahkan semakin kompleks. Salah satu tantangan terbesar perempuan saat ini adalah kelelahan kronis bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan emosional. Tuntutan untuk “bisa semuanya” sering kali tidak diimbangi dengan sistem pendukung yang memadai. Burnout menjadi isu serius, namun masih sering diremehkan.
Di banyak ruang, perempuan masih dihadapkan pada standar yang tidak setara. Tegas dianggap galak, ambisius dianggap mengabaikan keluarga, sementara kesalahan kecil bisa dinilai lebih besar. Bias ini tidak selalu kasat mata, tetapi dampaknya nyata terhadap kepercayaan diri dan peluang perempuan.
Di konteks masyarakat yang beragam seperti Indonesia, perempuan sering berada di persimpangan antara nilai tradisional dan tuntutan modern. Pilihan hidup menikah atau tidak, punya anak atau tidak, bekerja atau fokus di rumah sering kali menjadi konsumsi publik. Tekanan ini membuat perempuan harus terus bernegosiasi dengan ekspektasi sekitar.
Tidak semua perempuan memulai dari titik yang sama. Faktor ekonomi, pendidikan, lokasi geografis, dan dukungan keluarga sangat memengaruhi ruang gerak perempuan. Tantangan ke depan bukan hanya tentang perempuan yang sudah “maju”, tetapi juga bagaimana memastikan tidak ada yang tertinggal.
Tahun 2026 seharusnya tidak hanya menjadi tentang seberapa banyak peran yang bisa dijalani perempuan. Namun yang terpenting adalah kualitas hidup yang mereka rasakan. Kesetaraan sejati bukan berarti perempuan harus melakukan semuanya. Melainkan memiliki pilihan yang adil dan dukungan yang nyata. tahun ini adalah momentum untuk lebih jujur pada diri sendiri. Untuk berhenti mengejar kesempurnaan dan mulai merawat keberlanjutan hidup. Untuk berani bermimpi besar, tetapi juga memberi diri ruang untuk beristirahat.
Karena pada akhirnya, perempuan yang berdaya bukanlah perempuan yang paling sibuk atau paling terlihat. Perempuan berdaya adalah perempuan yang punya kendali atas hidupnya sendiri. Ia tidak tergantung dan bergantung dengan orang lain atas segala kompleksitas yang dijalani.
Penulis
Sugesti Edward



![Anggota DPRD Kota Padang, Fraksi PKB, Zalmadi. [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/05/DPRD-350x250.jpg)

![Koordinator lapangan dari Sumatera Barat, Alva Anwar saat unjuk rasa di Kantor Kemendes, Jakarta. Kamis, (17/04/2025) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/04/IMG-20250417-WA00002-350x250.jpg)
![Rapat evaluasi pengeloaan mudik tahun 2025 oleh Korlantas Polri. Selasa, (15/04/2025) [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/04/IMG-20250415-WA00162-350x250.jpg)


