
Di Kota yang Berbeda
Oleh: Aliftia Nabila Putri
Di sini aku masih sibuk dengan hariku,
Sama sepertimu yang berjuang di sana.
Hanya lewat layar ponsel aku menyapamu,
Menitipkan rindu yang tak kunjung reda.
Ada rasa yang sulit sekali kujelaskan,
Saat ingin bertemu tapi keadaan melarang.
Kita terpisah jauh oleh ribuan jalan,
Hanya bisa berharap kamu baik-baik saja di seberang.
Meski kita berada di kota yang berbeda,
Jangan pernah merasa bahwa kamu sendiri.
Percayalah, doa-doaku tetap menyertai kita,
Hingga waktu mempertemukan kita kembali.
Agam, 2025
Sesunyi Apa Rumah Itu Tanpa Nenek
Oleh: Aliftia Nabila Putri
Pintu membisu, senyap tiada sapa hangat,
Kursi di teras sunyi, tak ada lagi tawa riang.
Dinding membeku tanpa jejak nasihat yang kuat,
Setiap sudut dingin, aroma teh menghilang.
Langkah pelan Nenek kini tinggal bayangan,
Pandangan yang selalu memperhatikan jalan di luar.
Rumah ini terasa luas, tapi penuh kekosongan,
Hanya rindu mendalam yang terus menyebar.
Agam, 2025
Sang Harapan
Oleh: Aliftia Nabila Putri
Di tengah gelap malam,
Tersimpan cahaya yang tak terlihat.
Sang harapan melangkah penuh keyakinan,
Menembus kegelapan dengan cahaya redup.
Ia adalah jembatan antara impian dan kenyataan,
Menjalani setiap detik dengan perjuangan.
Menaruh secercah harapan di pundak yang lelah.
Ketika ombak menerpa,
Sang harapan tetap berdırı tak tergoyahkan.
Diiringi doa yang selalu dipanjatkan,
Menjadikan harapan berada di antara ribuan bintang,
Dalam díam harapan membangkitkan jiwa yang lara.
Menjadi mimpi yang harus diwujudkan,
Dalam perjalanan menaklukan berbagai rintangan.
Agam, 2025
Gelar Sarjana Di Pundakku
Oleh: Aliftia Nabila Putri
Di bawah langit kampus yang membiru,
Aku berdiri tegak, memegang buku tebal.
Setiap fajar menyapa, hasratku menderu,
Mengejar ilmu yang jalannya kian terjal.
Tugas akhir menanti, bagai samudra luas tak bertepi,
Pengorbanan waktu dan pikiran, tiada terhitung.
Namun, di setiap rintangan, aku temukan arti,
Bahwa mimpi ini tak bisa lagi di ubah.
Aku tempuh lorong-lorong ilmu dengan napas memburu,
Gelar sarjana bukan akhir, ia adalah permulaan.
Sebuah janji yang kelak akan kusampaikan,
Bahwa gelar di pundakku adalah hasil dari perjuangan.
Padang, 2025
Teman Cerita
Oleh: Aliftia Nabila Putri
Tak perlu mewah untuk merasa bahagia,
Cukup duduk berdua sambil bercerita.
Tentang beban kuliah atau masalah dunia,
Hingga beban di pundak terasa sirna.
Kamu bukan sekadar teman biasa,
Tapi pendengar setia yang paling sabar.
Saat aku merasa kehilangan asa,
Kau ingatkan aku untuk terus tegar.
Dunia mungkin akan berubah nanti,
Dan kita akan sibuk dengan jalan masing-masing.
Tapi dalam hati yang paling sunyi,
Namamu tetap jadi sahabat yang paling bening.
Padang, 2025
Biodata Penulis:
Aliftia Nabila Putri adalah seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Ia berasal dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Aliftia dapat dihubungi melalui email aliftia0612@gmail.com atau melalui media sosial Instagram @alftnbla_







