Sabtu, 25/4/26 | 21:48 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kesantunan Berbahasa

Minggu, 09/2/25 | 08:51 WIB

Oleh: Alex Darmawan
(Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Suatu pagi penulis  menerima pesan di aplikasi whatsapp dari mahasiswa. Pesan itu mengejutkan penulis. Bukan informasinya yang membuat  penulis terkejut, melainkan penggunaan bahasa oleh mahasiswa yang membuat penulis  tidak nyaman. Salah satu contoh pesan yang saya  terima seperti ini ; “Salam, Pak. Apakah Bapak hari ini ada di kampus?” Lanjut pesan berikutnya,“ Saya mau bimbingan, jam berapa Bapak punya waktu luang?,Maaf sebelumnya. Terima kasih.” Pikir penulis, kok seperti ini bahasa mahasiswa?  Seolah-olah penulis ini seperti teman sama besar saja atau kolega kerja mereka dan lain sebagainya dalam pikiran penulis. Pesan tersebut saya jawab, “Saya ada di kampus dari pagi sampai siang. Kita bisa bertemu setelah waktu zuhur saja.” Lalu jawab mahasiswa, “Saya lagi di kampung boleh atur jadwal baru, Pak?” Intinya, penulis merasa sangat tidak nyaman dan menolak untuk merespon kembali pesan tersebut.

Beberapa minggu yang lalu, sebelum libur panjang dimulai dan setelah ujian akhir semester dilaksanakan di kampus. Para dosen berkumpul di ruang kerja. Mereka bercengkrama satu sama lainnya. Salah satu topik hangat yang mereka perbincangkan  adalah  fenomena  di atas mengenai pesan singkat dari mahasiswa yang dikirimkan ke dosen. Pesan yang dikirimkan  mahasiswa ke dosen  banyak yang melanggar etika komunikasi alias tidak santun, menurut para dosen. Mereka bertanya-tanya mengapa generasi muda sekarang gaya komunikasinya lebih singkat dan cenderung melabrak batas-batas tata krama dalam berkomunikasi. Salah satu dosen memberikan informasi tambahan bahwa gejala komunikasi seperti  ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiwa mereka yang ada di Kota Padang saja, tetapi mahasiswa dari kota dan provinsi lain juga  demikian. Ini dibuktikan dengan banyaknya konten di tik-tok yang membahas etika mahasiswa ketika berbicara ke dosen baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebenarnya mengapa fenomena ini  bisa terjadi? Semakin hari semakin berkurang kesantunan dalam berkomunikasi.

BACAJUGA

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB
Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Kesantunan memiliki kaitan dengan kesopanan, rasa hormat, sikap yang baik atau perilaku yang pantas (Gunawan, 2013: 8). Istilah kesantunan tidak hanya berbentuk tindakan, tetapi juga dapat berupa tindak tutur. Lebih lanjut,  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi VI versi daring, santun memiliki arti 1. halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; 2. penuh rasa belas kasihan; suka menolong;. Kemudian, kata santun mendapatkan imbuhan ke-an menjadi kesantunan yang memiliki makna menyatakan hal yang disebutkan dalam kata dasar atau perihal. Lebih lanjut, Putrayasa (2014:107) merujuk pada Cambridge Advanced Learners Dictionary mendefinisikan kesantunan sebagai perilaku seseorang sedemikian rupa yang sesuai dengan aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan masyarakat dengan menunjukkan kepedulian serta kepekaan terhadap perasaan orang lain.

Menyoal kesantunan, banyak teori yang berbicara tentang kesantunan. Salah satunya pendapat Robin T. Lakoff yang dianggap sebagai bapak kesantunan berbahasa modern dari sudut pandang pragmatik. Dalam pandangannya, kesantunan merupakan sistem hubungan interpersonal yang dirancang untuk memperlancar interaksi dengan meminimalisasi potensi konflik dan konfrontasi yang melekat  pada semua bentuk komunikasi manusia. Secara umum,  kesantunan adalah keinginan yang tulus untuk berbuat baik kepada orang lain. Keinginan yang tulus dapat berwujud tindakan verbal berupa penggunaan bahasa, dan tindakan nonverbal berupa perilaku sehari-hari (Thomas dalam Oktavianus dan Revita, 2013). Dalam peristiwa komunikasi, bukan hanya variabel informasi saja yang dipentingkan, tetapi kesantunan juga menjadi variabel yang harus dipikirkan dan diikutsertakan sehingga komunikasi itu dapat berjalan lancar -tidak menimbulkan kesalahfahaman dan multitafsir-dan baik dalam bingkai budaya kesantunan berbahasa.

Berbicara  dalam konteks masyarakat Minangkabau, kaidah berbahasa dengan santun itu telah ada sejak dahulu. Masyarakat Minangkabau sering menggunakan metafora/kiasan dalam berbahasa. Hal ini terlihat  jelas dalam bahasa Minangkabau ragam adat. Bukan hanya dalam ragam bahasa adat saja kiasan digunakan. Terkadang, dalam komunikasi sehari-hari juga digunakan untuk menyampaikan maksud dengan santun. Kiasan yang digunakan itu dekat dengan alam, mungkin karena itu pulalah ada falsafah Minangkabau yang berbunyi Alam takambang menjadi guru. Kaidah berbahasa yang dimaksud adalah Kato nan Ampek atau sebut juga dengan Langgam Kato (Istilah yang dipopulerkan oleh A.A. Navis) yang merupakan tata krama berbicara sehari-hari dalam masyarakat Minangkabau. Kaidah berbahasa tersebut menjadi dasar petunjuk dalam bertutur kata masyarakat Minangkabau. Kaidah berbahasa meliputi; Kato Malereng, Kato Mandaki, Kato Manurun, dan Kato Mandata.

Namun demikian, budaya santun berbahasa masyarakat Minangkabau terutama generasi muda Minang agaknya sudah mulai tergerus  seiring  perkembangan zaman. Penyebabnya antara lain; Pertama; faktor keluarga. Orang tua tidak lagi menjadi role model (contoh) teladan bagi anak-anak dalam berbahasa, bahkan orang tua terkadang berbicara kasar terhadap anak. Mereka sibuk bekerja mencari uang dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tidak memperdulikan perkembangan anaknya, baik secara mental maupun cara berkomunikasinya. Anak dimanja dengan uang jajan dan berbagai fasilitas dengan harapan anak  tetap di rumah dan tidak kekurangan apapun. Kedua; faktor lingkungan. Lingkungan luar sangat memberikan pengaruh terhadap perkembangan seseorang, tempat bermain dan teman bermain. Semuanya menjadi faktor yang memengaruhi perubahan pribadi dan karakter seseorang. Lingkungan yang buruk bagi anak perlahan-lahan mewarnai karakter dan pribadi anak, bahkan cara berkomunikasinya pun akan terlihat kurang sopan. Ketiga; perkembangan teknologi. Tontonan media televisi sekarang sangat vulgar karena isinya caci maki saja, mulai dari para politisi sampai kepada para pelawak. Seakan-akan caci maki sesuatu yang lumrah dan umum yang bisa dilakukan di ruang publik.  Bahkan, tontonan tersebut memberi pelajaran kepada penonton/khalayak bahwa kita boleh mencaci maki bahkan kepada orang tua kita sendiri. Semoga kita dapat menyikapi dengan bijak fenomena tergerusnya budaya kesantunan berbahasa yang terjadi sekarang untuk berubah ke arah yang  lebih baik.

Tags: #Alex Darmawan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Festival Siti Nurbaya dan Cap Go Meh 2025 Dorong Pariwisata Sumbar

Berita Sesudah

Sastra, Teknologi, dan Peradaban Manusia Bercerita

Berita Terkait

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB

Oleh: M. Subarkah dan Maharani Syifa Ramadhan (Mahasiswa Program Magister Linguistik Universitas Andalas dan Mahasiswi Program Magister Sastra Universitas Padjajaran)...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)    Idulfitri merupakan frasa  bahasa Arab, terdiri...

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB

Oleh: Alya Najwa Abdillah (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan S1 Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Bahasa berkembang seiring dengan berjalannya...

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Oleh: Gilang Nindra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Dalam Tarmini dan Sulistyawati (2019: 1-2), sintaksis...

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Minggu, 12/4/26 | 15:41 WIB

Oleh: Febby Gusmelyyana (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Bahasa adalah sistem komunikasi paling sempurna yang...

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Berita Sesudah
Sastra, Teknologi, dan Peradaban Manusia Bercerita

Sastra, Teknologi, dan Peradaban Manusia Bercerita

POPULER

  • Bupati Annisa Hadiri Sosialisasi Pencabutan PBPH

    Bupati Annisa Hadiri Sosialisasi Pencabutan PBPH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Kantongi Hasil UKK, 15 Ketua DPC di Sumbar Segera Ditetapkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Jenis-jenis Pola Pikir Manusia, Begini Penjelasan Para Ahli Psikologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Generasi Emas Sawit, 114 Pemuda Dharmasraya Ikuti Sosialisasi Beasiswa SDM Perkebunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026