Kamis, 10/9/26 | 22:01 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Di Balik Keseruan Donald Duck: Pesan Tersembunyi Kapitalisme dan Imperialisme

Minggu, 07/4/24 | 10:16 WIB

Oleh: Riza Andesca Putra
(Dosen Departemen Pembangunan dan Bisnis Peternakan Unand & Mahasiswa Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM)

 

Siapa yang tidak kenal Donald Duck? Sebuah komik dan film kartun yang meraih popularitas di berbagai belahan dunia. Bebek antropomorfik yang ikonik dari Disney ini telah menjadi sumber hiburan bagi anak-anak dan orang dewasa selama bertahun-tahun. Namun, di balik keseruan dan humor yang dibawanya, tersimpan pesan-pesan tersembunyi yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang.

BACAJUGA

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Ariel Dorfman dan Armand Mattelart mengupas secara mendalam sisi lain Donald Duck dalam sebuah buku “How to Read Donald Duck”. Mereka menulis, Donald Duck bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sebagai alat propaganda yang mempromosikan kapitalisme, imperialisme, dan nilai-nilai Amerika.

Komik dan film kartun Donald Duck menggambarkan dunia yang terstruktur secara hierarkis, di mana kelas atas (seperti Gober Bebek) mengeksploitasi kelas bawah (seperti Donald Duck). Donald Duck mewakili “orang biasa” yang terjebak dalam sistem yang tidak adil dan terus-menerus frustrasi. Komik Donald Duck menormalisasi ide-ide seperti eksploitasi buruh, rasisme, dan kolonialisme. Disney menggunakan humor dan karakter yang menarik untuk membuat pesan ideologisnya lebih mudah diterima.

Ariel Dorfman dan Armand Mattelart juga menyoroti Donald Duck digunakan sebagai alat yang digunakan untuk menyebarkan nilai-nilai yang diinginkan pemerintah Amerika pada saat itu. Cerita terkait politik dalam komik dan kartun seringkali direkonstruksi secara ideologis untuk memperkuat hegemoni Amerika Serikat.

Selain itu, Dorfman dan Mattelart mengkritik bagaimana komik Disney mendorong konsumerisme dan kapitalisme dengan menyajikan gambaran kebahagiaan yang didasarkan pada akumulasi barang. Mereka menyoroti bagaimana karakter-karakter seperti Donald Duck digambarkan sebagai konsumen pasif yang terus-menerus dihadapkan pada konflik tanpa solusi yang nyata.

Contohnya, dalam cerita “The Little House”, Donald Duck berjuang untuk membangun rumah impiannya, tetapi selalu gagal karena kekurangan uang. Hal ini menunjukkan kesulitan yang dihadapi kelas pekerja dalam mencapai mobilitas sosial yang lebih tinggi. Dalam cerita lain “The Plundering Pirate”, Donald Duck digambarkan sebagai penjajah yang merampok harta benda orang lain. Pada cerita “The Contest”, Donald Duck dan tetangganya berkompetisi untuk mendapatkan promosi di tempat kerja, menunjukkan sifat kompetitif dalam sistem kapitalis.

Dalam kacamata penulis, Donald Duck dan karya-karya Disney lainnya, saat ini telah berhasil dengan gemilang atau minimal memberi kontribusi dalam mempengaruhi pikiran masyarakat dunia bahwa saat ini Amerika ditempatkan sebagai patron atau rujukan dalam semua hal. Seolah-olah mereka sebagai juru selamat dunia. Mereka berhasil menciptakan ketergantungan dari sisi budaya hingga ekonomi dari negara-negara berkembang terhadap negara maju melalui narasi-narasi di komik, film atau media massa secara umum. Pendapat yang sebelumnya juga pernah diutarakan banyak ahli pembangunan, seperti: Herbert Schiller dan Armand Mattelart.

Konsep kebahagiaan yang dipropagandakan Donald Duck, menurut penulis telah berhasil memporak-porandakan mental dan spiritual masyarakat, khususnya di Indonesia. Bahwa bahagia itu adalah memiliki akumulasi barang-barang yang diinginkan. Bahwa kompetisi itu mesti dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan  walaupun mengabaikan etika dan nilai-nilai. Bahkan saling menguasai menjadi sesuatu hal yang normal.

Konsep inilah yang berkembang hari ini di tengah-tengah masyarakat kita. Masyarakat hari ini dituntut memperoleh ini dan itu, memenangkan ini dan itu dengan mengalahkan orang lain, termasuk orang-orang dekat bahkan keluarga. Kondisi seperti itulah yang dikatakan bahagia.

Buku Dorfman dan Mattelart ini membuka mata kita bahwa terdapat agenda-agenda tersembunyi dibalik karya hiburan yang menyenangkan. Kita mesti kritis dalam memilih hiburan yang kita konsumsi. Karena tanpa kita sadari, hiburan tersebut dapat  mempengaruhi alam bawah sadar kita sehingga mempengaruhi perilaku sehari-hari.

Apalagi hari ini, pesatnya perkembangan media, terutama YouTube, Tik Tok, dan Instagram, membuat kita mesti meningkatkan jiwa kritis kita menjadi ultra kritis dalam memilih hiburan yang dikonsumsi, terutama untuk anak-anak. Jiwa dan pikirannya yang masih kosong mesti diisi oleh hal yang baik-baik yang sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut dan impikan. Jangan biarkan anak-anak kita dididik oleh tontonan yang tidak jelas dan tidak sesuai dengan nilai-nilai itu. Apa yang mereka peroleh sedari kecil adalah sesuatu yang akan dia miliki dan gunakan di masa akan datang. Semoga kita semua bisa lebih arif dalam memaknai kondisi ini.

Tags: #Riza Andesca Putra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Preposisi “dari kamu”, “daripada kamu”, “padamu”, “kepadamu”, “ke kamu”, dan “di kamu”;

Berita Sesudah

Di Balik Keseruan Donald Duck: Pesan Tersembunyi Kapitalisme dan Imperialisme

Berita Terkait

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Berita Sesudah
Manfaat Buku bagi Anak di Bawah Usia Tiga Tahun

Melihat Kebesaran Tuhan melalui Kacamata Ilmu Bahasa

Discussion about this post

POPULER

  • Wabah

    Wabah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Judul-judul Berita yang Melanggar Kaidah Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pulihkan Ekonomi, Yusri Latif Prioritaskan Penguatan 50 UMKM Lambung Bukit di Tahun 2027

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026