Sabtu, 17/10/26 | 00:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pandangan Kematian dalam Film Marry My Death Body

Minggu, 27/8/23 | 07:00 WIB

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro
(Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Marry My Body (2022) merupakan film Taiwan yang bergenre komedi. Film ini disutradarai oleh Cheng Wei-hao dan dibintangi oleh Greg Hsu, Austin Lin, dan Gingle Wang menceritakan pernikahan arwah yang dilakukan oleh nenek Mao-Mao dengan cucunya Mao-Mao yang sudah meninggal. Hal ini dilakukan agar cucunya tenang di alam baka. Alur film ini merupakan wujud dari ajaran budaya Tionghoa berupa menjalin hubungan tali asih yang tidak terputus dengan pemanggilan arwah (zhaohun).

Tujuan diadakannya hubungan ini adalah untuk memberikan “penyelamatan” kepada arwah agar tenang di alam baka atau berusaha memberikan “kebutuhan hidup” bagi arwah. Bagi budaya Tiongkok, tubuh sebagai hakikat kehidupan yang tidak terpisahkan dengan kematian. Adanya dua alam baik dunia nyata maupun baka dapat dihubungkan melalui tali asih yang tidak terputus. Hal ini merupakan gambaran yang dilakukan oleh Nenek Mao-Mao yang berusaha menikahkan cucunya.

Setelah adanya pasangan dianggap sebagai kiriman dari langit, pernikahan arwah pun dilaksanakan walaupun sebelumnya pasangan pengantin berusaha menolak. Namun, kesialan yang didapatkannya menjadikan tokoh Wu Ming-han (Greg Hsu) menerima ide pernikahan tersebut. Pernikahan yang dilakukan pada akhirnya memberikan peluang kepada Wu Ming-han untuk dapat melihat dan berkomunikasi dengan roh atau arwah dari pasangannya, yaitu Mao-Mao. Wu Ming-han yang pertama kali dapat melihat dan berkomunikasi sangat ketakutan dan berusaha untuk mundur sebagai pengantinnya. Namun, dengan berbagai usaha yang dilakukan oleh arwah Mao-Mao menjadikannya tetap bertahan. Hal yang menjadi fokus pada tulisan ini adalah penggambaran konsepsi permintaan tokoh arwah Mao-Mao kepada Wu Ming-han sebelum Mao-Mao melakukan reinkarnasi.

Permintaan yang diharapkan oleh Wu Ming-han merupakan sebuah keinginan yang belum sempat ia lakukan selama ia hidup. Permintaan yang dimaksud adalah menyelamatkan dunia dari pemanasan global dam menyuruh manusia (pasangan pengantinnya) untuk melaksanakan hal tersebut. Walaupun terlihat tidak masuk akal dan konyol, adegan yang berisi keinginan terakhir arwah Mao-Mao berupa penyelamatan bumi melalui penyelamatan beruang kutub oleh Wu Ming-han merupakan penggambaran film bergenre komedi.

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Tidak hanya itu, permintaan lainnya adalah mengucapkan kata-kata selamat tinggal kepada pacarnya yang sudah memiliki pasangan lain. Sebelumnya, Mao-Mao pun menginginkan foto dan video bersama pacarnya yang ada di telepon genggam miliknya dihapus. Selain itu,  ada juga permintaan untuk merawat anjing kesayangan Mao-Mao dan pencarian pelaku penabrakan Mao-Mao agar arwah Mao-Mao dapat pergi dengan tenang dan melakukan reinkarnasi.

Jika merujuk pada kepercayaan alam kematian orang Tionghoa, kematian bagaikan sebuah alam kehidupan sehingga diperlukan adanya bekal kubur. Namun, jika arwah tidak mendapatkan perlakuan layak, meninggal sebelum waktunya, meninggal dengan kondisi tragis, dan meninggal jauh dari keluarga perlu diadakannya pengembalian harkat yang disebut fuli (Cangianto).

Sebelum membahas terkait dengan reinkarnasi, Buddhisme memiliki 4 hal yang akan dialami oleh manusia, yaitu lahir, tua, sakit, dan mati. Nantinya, ketika seseorang mengalami kematian, seseorang akan lahir kembali aspek dari diri seseorang baik kesadaran, pikiran, jiwa atau entitas lainnya dalam wujud lain (Kalla, 2009). Dengan kata lain, seseorang tersebut mengalami reinkarnasi. Nantinya, kepercayaan masyarakat berupa bahwa seseorang dapat terlahir kembali sebagai manusia, hewan, atau makhluk lainnya.

Pada ajaran Buddha, seseorang yang sebelum mencapai moksa (kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi) tidak akan bisa lepas dari rantai reinkarnasi. Nantinya, siklus reinkarnasi ini akan berulang-ulang dan disebut sebagai samsara. Oleh karena itu, seseorang baru akan terlepas dari reinkarnasi dan mencapai nirwana atau dianggap sebagai kehidupan tanpa batas setelah mencapai moksa.

Penggambaran latar belakang reinkarnasi pun digambarkan melalui film ini. Tokoh Mao-Mao tidak ingin melakukan reinkarnasi karena ia ingin menyelesaikan keinginan-keinginan yang tidak dapat dilakukannya. Seperti dapat dikatakan masih memiliki hal yang mengganjal, tokoh Mao-Mao pun masih ingin berkomunikasi kepada pasangan pengantinnya agar dapat membantunya menyelesaikan berbagai keinginan terakhirnya.

Pada akhirnya, film pun menampilkan tokoh yang ingin melakukan reinkarnasi karena keinginan terakhirnya di dunia telah selesai dan terlaksana. Hal ini mengingat bahwa reinkarnasi yang dilakukan oleh arwah berdasarkan budaya Tiongkok adalah jiwa mungkin ingin mempertahankan hubungan dengan orang-orang tertentu atau mengatasi masalah yang belum terselesaikan dalam kehidupan sebelumnya.

Lebih jauh, adanya karma  dalam beberapa pandangan menyiratkan bahwa tindakan dalam kehidupan sebelumnya akan mempengaruhi kehidupan masa depan. Jiwa mungkin ingin mengatasi karma negatif atau belajar dari kesalahan sebelumnya melalui reinkarnasi. Keikhlasan atau motivasi tulus dalam tindakan dapat memiliki dampak positif pada reinkarnasi berikutnya. Tindakan yang dilakukan dengan niat baik dan tulus mungkin berkontribusi pada akumulasi karma positif yang pada gilirannya mempengaruhi pengalaman dan kondisi dalam reinkarnasi berikutnya.

Tags: #Roma Kyo Kae Saniro
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Suatu Siang di Malioboro

Berita Sesudah

Angka dalam Strategi Promosi Pariwisata Indonesia

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Metafora “Paradise” dalam Wacana Pariwisata

Angka dalam Strategi Promosi Pariwisata Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polres Padang Pariaman Ungkap 199 Kejadian Kejahatan Selama Agustus Hingga Oktober

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026