Selasa, 17/3/26 | 16:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Konstruksi Kata “di mana” dalam Kalimat

Minggu, 12/2/23 | 07:00 WIB
Oleh: Ria Febrina (Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)

Di mana merupakan kata tanya dalam bahasa Indonesia. Kata tanya berada dalam kalimat tanya atau disebut juga dengan kalimat interogatif. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia (2021: 486), kalimat interogatif digunakan untuk bertanya dan ditandai oleh kehadiran kata tanya apa, siapa, berapa, kapan, bila, bagaimana, dan di mana. Dalam buku yang berjudul Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia ini, dijelaskan bahwa kata tanya tersebut dapat diikuti partikel –kah  sebagai penegas, misalnya ”Apakah pemerintah akan menaikkan harga minyak dan gas?”

Kata tanya berupa apa, siapa, berapa, kapan, bila, bagaimana, dan di mana tadi digunakan untuk mendapatkan jawaban, misalnya “Berapa lama pengiriman paket makanan dari Yogyakarta ke Jakarta?” Dari pertanyaan tersebut, tampak bahwa dibutuhkan jawaban terkait waktu, seperti jumlah jam atau jumlah hari terkait pengiriman paket makanan yang ditanyakan. Pertanyaan tersebut akan menghasilkan jawaban berupa 20 jam atau 2 hari. Dari penjelasan tersebut, tampak bahwa kata tanya digunakan pada kalimat tanya untuk mendapatkan sebuah jawaban.

Namun, tidak semua pengguna bahasa Indonesia dapat menggunakan kata tanya sesuai dengan kaidah. Dari 20 kalimat teratas yang menggunakan kata tanya di mana dalam korpus web Indonesia (IndonesianWaC) yang terdapat di Sketch Engine (https://www.sketchengine.eu/), hanya tiga kalimat yang menggunakan kata tanya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Berikut ketiga kalimat tersebut.

(1) Buku ini adalah sebagai arahan atau petunjuk di mana dan ke mana memancing ikan sehingga orang dapat makan ikan terus-menerus tanpa harus minta lagi.
(2) “Di mana silapnya ni … ?”, bisik hati kecil Azimah.
(3) Di mana abang letak bill-nya …?

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Dari tiga kalimat tersebut, tampak kata di mana digunakan untuk (1) menanyakan tempat; (2) menanyakan bagian; dan (3) menanyakan tempat. Sementara itu, tujuh belas kalimat lainnya justru menggunakan kata tanya di mana tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Semua kalimat menggunakan kata di mana di tengah kalimat, tetapi kata di mana tersebut tidak berfungsi untuk menanyakan sesuatu. Berikut contoh kalimat yang menggunakan kata di mana tersebut.

(4) Dengan akses-akses dan kemudahan-kemudahan yang disediakan oleh teknologi internet, jurnalisme daring akhirnya menimbulkan sebuah pengaruh di mana informasi bersifat mudah untuk dimiliki oleh semua orang/audiens.

(5) PBB yang patih terhadap itu keputusannya menetapkan bahwa Timor-Timur masih wilayah tanpa pemerintahan di mana rakyatnya berhak menentukan nasib sendiri.

(6) Kasus yang sama juga pernah terjadi pada 1996, di mana kasus kehilangan pendengaran terjadi setelah dua hari konsumsi obat.

Jika kalimat tersebut dianalisis secara sintaksis atau dianalisis berdasarkan kajian linguistik mengenai susunan kalimat dan bagiannya, kata di mana ternyata digunakan untuk menjelaskan bagian sebelumnya, bahkan klausa yang berada setelah kata di mana dapat menjadi satu kalimat baru karena mengandung subjek dan predikat. Kita bisa lihat pada kalimat (4) berikut.

(4a) //Dengan akses-akses dan kemudahan-kemudahan yang disediakan oleh teknologi internet (keterangan),/ jurnalisme daring (subjek)/ akhirnya menimbulkan (predikat)/ sebuah pengaruh (objek).//

(4b) //Informasi (subjek)/ bersifat (predikat)/ murah (pelengkap)/ untuk dimiliki oleh semua orang/audiens (keterangan tujuan).//

Terlepas dari diksi atau pilihan kata yang tidak efektif, hal yang sama juga terjadi pada kalimat (5). Klausa yang berada setelah kata di mana pada kalimat (5) dapat menjadi satu kalimat baru karena mengandung subjek dan predikat.

(5a) //PBB yang patih terhadap itu keputusannya (subjek) menetapkan (predikat) bahwa (konjungsi subordinatif) Timor-Timur masih wilayah tanpa pemerintahan (anak kalimat).//

(5b) //Rakyatnya (subjek) berhak (predikat 1) menentukan (predikat 2) nasib sendiri (objek).//

Kata patih pada kalimat tersebut merupakan kata yang salah dan kata yang dimaksud adalah patuh. Kata itu pada kalimat tersebut seharusnya terletak di belakang kata keputusannya sehingga unsur subjek terbentuk menjadi PBB yang patuh terhadap keputusannya itu. Artinya, kalimat (5) dapat menjadi dua kalimat dengan fungsi kalimat kedua menjelaskan isi kalimat pertama.

Kalimat (6) tentunya juga memiliki konstruksi yang tidak berbeda dengan kalimat (4) dan kalimat (5). Klausa yang berada setelah kata di mana pada kalimat (6) dapat menjadi satu kalimat baru karena mengandung subjek dan predikat.

(6a) //Kasus yang sama (subjek) juga pernah terjadi (predikat) pada 1996 (keterangan waktu).//

(6b) //Kasus kehilangan pendengaran (subjek) terjadi (predikat) setelah dua hari konsumsi obat (keterangan waktu).//

Selain menghapus kata di mana dan membentuk klausa penjelas sebagai sebuah kalimat baru, kata di mana di tengah kalimat juga dapat diganti dengan kata hubung yang tepat. Kita bisa lihat pada kalimat berikut.

(7) Keterlibatan media komputer dalam dunia jurnalisme dimulai sejak era 1970-1980 di mana saat itu teknologi sedang berkembang dengan sangat pesat.

Kalimat (7) tersebut dapat diperbaiki melalui dua cara. Pertama, kalimat tersebut dikembangkan menjadi dua kalimat yang berfungsi saling menjelaskan. Hal ini bisa dilihat pada kalimat berikut.

(7a) Keterlibatan media komputer dalam dunia jurnalisme dimulai sejak era 1970– 980.

(7b) Saat itu teknologi sedang berkembang dengan sangat pesat.

Kedua, kita dapat mempertahankan kalimat tersebut sebagai satu kalimat yang utuh namun kata tanya di mana diganti dengan kata hubung yang tepat, yakni dengan kata hubung ketika. Dengan memperbaiki beberapa diksi dalam kalimat tersebut, kalimat yang terbentuk ialah sebagai berikut.

(7c) Keterlibatan media komputer dalam dunia jurnalisme terjadi pada 1970—1980 ketika teknologi sedang berkembang dengan pesat.

Penggunaan kata di mana di tengah kalimat yang tidak berfungsi sebagai kata tanya ini sebenarnya dipengaruhi oleh bahasa asing. J. S. Badudu (1974) dalam buku yang berjudul Pelik-pelik Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ditemukan kata-kata di mana, yang mana, hal mana, di atas mana, dan dari mana pada kalimat relatif bahasa Indonesia. Kata-kata tersebut dipakai karena didesak oleh kata penghubung yang berasal dari bahasa asing, khususnya dari bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Penyebabnya adalah sulitnya para penerjemah pada masa itu mencari kata hubung yang tepat dalam menerjemahkan teks-teks bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, serta kurangnya penguasaan struktur bahasa Indonesia oleh para penerjemah tersebut.

Kata-kata di mana, yang mana, hal mana, di atas mana, dan dari mana merupakan kata hubung pengganti sebagai terjemahan dari bahasa Belanda, seperti waar (mana), waarop (atas mana), waaronder (di bawah mana), waarmee (dengan mana), dan met mie (dengan siapa); serta dari bahasa Inggris, seperti on which, in which, in front of which, dan to whom. Salah satu contohnya, menurut J. S. Badudu (1974), dapat dilihat pada penggunaan kata yang mana yang merupakan hasil terjemahan dari kata welke (Bahasa Belanda). Penggunaan kata yang mana tersebut dapat dilihat pada kalimat berikut.

(8) Hasil musyawarah dana komite yang mana sudah kita bicarakan dapat disampaikan kepada orang tua murid.

Pada kalimat 8 tersebut, kata yang sudah cukup digunakan untuk menjelaskan unsur subjek berupa hasil musyawarah dana komite. Adanya kata mana yang mengikuti menyebabkan konstruksi kalimat tersebut menjadi salah. Dengan demikian, kalimat 8 yang benar adalah sebagai berikut.

(8a) Hasil musyawarah dana komite yang sudah kita bicarakan dapat disampaikan kepada orang tua murid.

Belajar dari konstruksi yang salah tersebut, kita dapat menentukan sikap bahwa kata tanya di mana hanya digunakan untuk kalimat tanya, seperti “Di mana kampusmu?” atau kalimat lain yang membutuhkan jawaban berupa tempat, lokasi, atau alamat tertentu. Seandainya ketika menulis kita menggunakan kata di mana di tengah-tengah kalimat, jangan lupa melanjutkan proses menulis dengan penyuntingan. Kita dapat menghapus kata di mana ketika melakukan penyuntingan. Dengan upaya tersebut, kita sudah menghasilkan konstruksi kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kata tanya di mana hanya digunakan untuk kalimat tanya dan cenderung terletak di awal kalimat tanya.

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kenangan di Yogyakarta (2): Sendal Tetangga di Kereta Jogja-Surabaya

Berita Sesudah

Pecinta dan Pencinta

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Bahasa adalah representasi dari semiotika...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Berita Sesudah
Menilik Penggunaan Kata Paracetamol dan Parasetamol

Pecinta dan Pencinta

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

    Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Babayo XI Lazis MUM Padang Ajak 500 Yatim & Dhuafa Belanja Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026