Senin, 02/3/26 | 23:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Preposisi di dan Afiks di- dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 12/7/20 | 06:00 WIB
Oleh: Elly Delfia, Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Pembaca budiman, sejatinya ada dua bentuk di dalam bahasa Indonesia, yaitu di sebagai preposisi atau kata depan dan di- sebagai afiks atau imbuhan. Keduanya merupakan konsep yang berbeda dalam bahasa Indonesia. Tidak mudah membedakan keduanya walaupun terlihat kecil dan sederhana. Penggunaan keduanya sering menimbulkan masalah dalam dunia tulis-menulis karena keliru cara menuliskannya. Banyak orang punya ide brilian, tapi tidak semua orang mampu menuliskannya dengan baik karena tidak paham penggunaan bahasa Indonesia dengan benar. Lalu, apa penyebab hal demikian bisa terjadi? Kemungkinan penyebabnya ada dua. Pertama, benar-benar tidak tahu dan tidak punya ilmu yang cukup tentang tata cara penulisan yang sesuai dengan standar bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kedua, sudah tahu dan sudah banyak belajar, tapi cenderung meremehkan atau mengabaikan. Kata meremehkan memang tidak baik dipelihara. Meremehkan korek api yang kecil dapat menyebabkan kebakaran. Meremehkan paku kecil di jalan dapat menyebabkan ban bocor. Meremehkan penggunaan preposisi di dan afiks di- juga dapat menyebabkan karya hilang makna. Meremehkan kedua unsur tersebut bukan sikap terbaik dalam menulis. Walaupun terlihat kecil dan bukan berupa kata, preposisi di dan afiks di- tetap bagian penting dari bahasa Indonesia yang mempunyai fungsi dan makna.

Selanjutnya, mari kita lihat penjelasan dan arti penting keduanya dalam bahasa Indonesia. Pertama, kata depan atau preposisi di ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Preposisi adalah kata yang biasa terdapat di depan nomina, misalnya dari, dengan, di, ke (KBBI, 2008:1100). Preposisi juga didefinisikan sebagai kata yang terletak di depan kata lain sehingga membentuk frasa atau kelompok kata, contohnya di, ke, dari, demi, pada, kepada (Widjono, 2012:174). Preposisi di berfungsi menunjukkan keterangan tempat dan arah. Contoh di yang menunjukkan keterangan tempat, yaitu di gedung, di pasar, di luar negeri. Contoh di yang menunjukkan keterangan arah, yaitu di kiri, di kanan, di depan, di belakang, di selatan.

Kedua, afiks atau imbuhan di- ditulis tanpa spasi dengan kata sesudahnya atau ditulis gabung dengan kata yang mengikutinya. Afiks merupakan bentuk terikat yang ditambahkan ke bentuk lain yang mengubah makna gramatikalnya dan afiks mencakup prefiks, sufiks, simulfiks, konfks, kombinasi afiks, suprafiks (Kridalaksana, 2008:3). Afiks di- termasuk ke dalam jenis prefiks atau imbuhan yang ditambahkan di bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar, misalnya ber-, di-, me-, ter-, se- (KBBI, 2008:1100). Kridalaksana (2009:28) menyebut prefiks sebagai imbuhan yang terletak di muka bentuk dasar, misalnya me-, di-, ber-, ke-, ter-, pe-, per-, se-. Afiks di dalam linguistik disebut dengan unsur dari sebuah bentukan atau bentuk terkecil  (morfem) yang membentuk sebuah bentukan kompleks yang secara langsung membentuk bentukan yang ada di atasnya, misalnya unsur langsung bentukan dipermudah adalah di + permudah > dipermudah (M ulyono,2013:17). Lalu, fungsi afiks di- adalah menyatakan suatu perbuatan atau tindakan pasif. Pengertian pasif di sini bukan tidak melakukan apa pun sama sekali, tetapi pengertian pasif di sini semata-mata dihubungkan dengan fungsi subjeknya (Muslich,2010:70;Alisyahbana,1957; Purwo, 1988:32-34). Ramlan (2012:112-113) menyebut afiks di- berfungsi sebagai pembentuk kata kerja pasif, misalnya diambil, dimakan, ditulis, berbeda dengan me- yang membentuk kata kerja aktif misalnya mengambil, memakan, menulis. Selanjutnya, afiks di- mempunyai makna ‘suatu perbuatan yang pasif’.

Demikian penjelasan tentang preposisi di dan afiks di- yang berbeda fungsi dan cara penulisan dalam bahasa Indonesia. Taat pada tata cara penulisan unsur bahasa Indonesia yang baik dan benar sampai unsur terkecil, seperti preposisi atau kata depan dan afiks atau imbuhan merupakan tanggung jawab semua warga negara Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan salah satu bukti rasa cinta tanah air dan penghormatan tertinggi terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa nasional bangsa Indonesia.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Semoga mencerahkan.

 

 

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

La Sorbonne! au Pakistan –

Berita Sesudah

Pentingnya Sosialisasi Tahapan Pilkada

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Berita Sesudah
Pentingnya Sosialisasi Tahapan Pilkada

Pentingnya Sosialisasi Tahapan Pilkada

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Sebar 216 Tim Safari Ramadhan 1447 H, Salurkan Bantuan hingga Rp50 Juta per Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebutuhan Darah Sumbar Capai 200 Kantong per Hari, Wakil Ketua DPRD Sumbar Ajak Semua Unsur Rutin Donor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024