Pasaman, Scientia — Bronjong yang dibangun di bantaran sungai dekat SMKN 1 Bonjol, Kabupaten Pasaman, terbukti mampu menahan dampak banjir bandang. Namun perlindungan itu dinilai belum cukup. Pihak sekolah kini meminta pemerintah melanjutkan penanganan dengan menormalisasi bantaran sungai di sekitar sekolah.
Aspirasi tersebut disampaikan Kepala SMKN 1 Bonjol, Muklis, saat Anggota DPRD Sumatera Barat dari Fraksi PKB, Donizar, menggelar reses di Nagari Ganggo Mudiak, Kecamatan Bonjol, Rabu, (19/8)
Muklis mengatakan pembangunan bronjong pada tahun sebelumnya memberikan manfaat nyata bagi sekolah. Bahkan, sekitar sepekan setelah pekerjaan selesai, banjir bandang menerjang kawasan tersebut.
“Seminggu bronjong selesai, datang banjir bandang. Alhamdulillah, sekolah tidak terdampak banjir itu,” ujar Muklis dalam dialog tersebut.
Meski bronjong dinilai efektif, Muklis mengatakan masih terdapat persoalan di bantaran sungai yang berada dekat lingkungan sekolah. Karena itu, normalisasi sungai dinilai penting untuk mengurangi risiko terhadap sekolah dan menjaga kegiatan belajar mengajar tetap aman.
Aspirasi itu kemudian mendapat perhatian Donizar. Anggota DPRD Sumbar tersebut menyatakan akan menjadikan usulan normalisasi bantaran sungai sebagai salah satu hal yang diperjuangkan.
Donizar bahkan langsung meninjau lokasi bantaran sungai bersama Kepala SMKN 1 Bonjol setelah agenda reses berlangsung.
Persoalan keselamatan sekolah bukan satu-satunya kebutuhan yang disampaikan masyarakat Bonjol. Dalam pertemuan itu, sejumlah kepala sekolah, wali nagari, petani, tokoh masyarakat dan warga menyampaikan berbagai persoalan pembangunan yang mereka hadapi.
Dari sektor pendidikan, Kepala SD, Munar, menyampaikan kebutuhan perangkat komputer untuk menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah. Ketersediaan perangkat tersebut dinilai penting untuk mendukung proses pendidikan yang semakin bergantung pada teknologi.
Sementara dari sektor pertanian, masyarakat meminta pembangunan jalan usaha tani di salah satu kawasan penghasil pisang di Bonjol. Jalan tersebut diharapkan dapat membuka akses yang lebih mudah menuju lahan pertanian sekaligus membantu mobilitas petani dalam membawa hasil produksi.
Beragam aspirasi itu disampaikan secara langsung kepada Donizar dalam suasana dialog terbuka. Reses menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan pembangunan yang mereka hadapi sehari-hari, bukan sekadar melalui forum formal pemerintahan.
Wakil Bupati Pasaman, Parulian, yang hadir dalam kegiatan tersebut meminta masyarakat memanfaatkan reses untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan secara langsung.
“Masyarakat manfaatkanlah momen ini untuk menyampaikan aspirasi,” kata Parulian.
Menurut dia, reses anggota DPRD Sumbar memiliki arti strategis karena aspirasi yang dihimpun dapat menjadi bahan perjuangan dalam penyusunan kebijakan dan pembangunan di tingkat provinsi.
“Kami sengaja hadir dalam reses ini. Karena reses berdampak positif bagi pembangunan daerah,” ujarnya.
Parulian juga berharap Donizar terus memperjuangkan kepentingan masyarakat Pasaman melalui DPRD Sumbar. Menurutnya, komunikasi langsung antara wakil rakyat dan masyarakat diperlukan agar kebijakan pembangunan tidak berjarak dengan kebutuhan di lapangan.
“Perlu kita satu arah, satu langkah dengan Bapak Donizar untuk Pasaman ini,” katanya.
Selain Parulian dan Donizar, reses tersebut dihadiri Asisten III Roichard, Kepala DPM Teddy Marta, sejumlah wali nagari, kepala sekolah se-Kecamatan Bonjol, tokoh masyarakat serta undangan lainnya.
Bagi masyarakat Bonjol, persoalan yang disampaikan dalam reses tidak hanya menyangkut pembangunan fisik. Kebutuhan komputer sekolah, akses jalan usaha tani hingga keamanan lingkungan pendidikan dari ancaman banjir menunjukkan masih adanya kebutuhan dasar yang harus ditangani secara berkelanjutan.
Reses itu pun menjadi titik awal bagi Donizar untuk membawa persoalan tersebut ke tingkat provinsi, terutama usulan normalisasi bantaran sungai yang dinilai berkaitan langsung dengan keselamatan sekolah dan keberlanjutan aktivitas pendidikan di Bonjol.(yrp)






![Ketua PKC PMII Sumatera Barat, M. Yusur Rahman.[foto: ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0016-350x250.jpg)

