
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di berbagai tempat meninggalkan lelah yang tidak selalu bisa diucapkan, dan duka yang sering hanya disimpan dalam diam. Namun begitu, ada kisah-kisah kecil tentang bertahan, warga yang saling membantu, dapur darurat yang menyala, dan percakapan hangat yang menjaga harapan tetap hidup. Dari suasana inilah kita melangkah menuju tahun 2026, bukan dengan sorak-sorai, melainkan dengan kesadaran bahwa kepedulian dan kebersamaan adalah bekal penting untuk melanjutkan hari.
Di titik reflektif ini, Rubrik Renyah ikut menoleh ke belakang. Sejak pertama kali hadir di Scientia.id pada awal tahun 2022, Renyah mengambil jalan yang sederhana dan bersahaja. Ia memilih membahas berbagai persoalan sosial, budaya, hingga keseharian dengan bahasa yang santai dan ringan. Tidak berpretensi menjadi paling benar, apalagi menggurui. Renyah ingin menjadi bacaan akhir pekan yang menemani, bukan membebani.
Selama empat tahun perjalanannya, banyak hal telah disampaikan melalui rubrik ini. Ada kegelisahan kecil yang dibagi, ada renungan tentang hidup yang pelan-pelan disusun, ada humor tipis yang diselipkan agar pembaca tersenyum sebelum kembali menghadapi pekan. Namun, seperti hidup itu sendiri, perjalanan Renyah tidak selalu mulus. Beberapa bulan terakhir, ada akhir pekan ketika edisi Renyah harus alpa. Alpa yang lahir dari berbagai keadaan, waktu yang tak selalu ramah, energi yang perlu dipulihkan, dan kenyataan bahwa menulis juga membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.
Meski begitu, Renyah terus berusaha kembali. Dengan kesadaran bahwa konsistensi bukan soal hadir tanpa jeda, melainkan keberanian untuk kembali menyapa. Rubrik ini ingin tetap menjadi ruang kecil yang hangat, tempat pembaca bisa berhenti sebentar, membaca dengan tenang, lalu melanjutkan hari dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Memasuki tahun 2026, Renyah membawa pengalaman, keterbatasan, dan harapan sekaligus. Ia tahu dunia tidak selalu baik-baik saja, tetapi selama masih ada cerita yang bisa dibagikan dengan jujur dan hangat, Renyah ingin tetap hadir. Sebab terkadang, yang paling kita butuhkan di akhir pekan bukan jawaban besar, melainkan sapaan sederhana yang mengingatkan, kita sedang berjalan bersama.






