
Agam, Scientia.id – Banjir bandang yang menerjang Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Kamis (27/11), menjadi peristiwa yang tak akan dilupakan Abdurrachman Syafiq. Dalam satu sore, ia merasakan langsung bagaimana hidup dipertaruhkan oleh kekuatan alam yang datang tanpa peringatan.
Syafiq mengingat, saat itu ia sedang beristirahat bersama keluarga di rumah. Suasana mendadak berubah ketika suara gemuruh keras terdengar dari arah hulu sungai.
“Awalnya saya kira gempa. Suaranya keras sekali dan bikin panik,” ujar Syafiq mengenang peristiwa tersebut.
Tak lama berselang, teriakan orang tuanya memecah kebingungan. Mereka memperingatkan bahwa banjir bandang sedang melaju menuju permukiman. Syafiq bersama keluarga bergegas menyelamatkan diri, namun derasnya arus air bercampur lumpur dan material bangunan bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan.
Tubuh Syafiq terseret arus sejauh puluhan meter. Di tengah situasi kacau itu, ia masih sempat melihat seorang warga lanjut usia berusia sekitar 78 tahun yang kesulitan menyelamatkan diri.
“Saya refleks saja waktu itu. Yang ada di pikiran cuma bagaimana orang tua itu bisa ikut selamat,” katanya.
Usaha tersebut berujung pada situasi yang nyaris merenggut nyawanya. Arus lumpur membuat tubuhnya terjatuh dan tertindih kayu serta puing rumah. Dalam kondisi gelap dan sesak, napasnya kian terbatas.
“Dada terasa ditekan, napas hampir habis. Tapi saya paksa diri untuk tetap tenang, jangan panik,” tutur Syafiq.
Dengan sisa tenaga, ia meraba sekeliling hingga menemukan pecahan dinding bangunan yang sudah runtuh. Dari sanalah ia berhasil mengangkat kepala dan kembali menghirup udara. Namun cobaan belum berakhir. Di sekitarnya, jeritan keluarganya kembali terdengar.
Salah satu adik perempuannya terjepit reruntuhan, sementara saudarinya yang lain menangis memanggil sang ibu. Meski pahanya lebam akibat tertimpa kayu, Syafiq berusaha tetap bergerak.
“Waktu lihat adik terjepit, rasa sakit itu seperti hilang. Yang penting kami bisa keluar dari situ,” ujarnya.
Bersama kedua saudarinya, Syafiq mengikuti aliran lumpur susulan dengan berpegangan pada kayu dan sisa bangunan, hingga akhirnya mencapai lokasi yang lebih aman. Keesokan harinya, ia harus mendapatkan perawatan medis akibat luka yang dialaminya.
Bagi Syafiq, peristiwa banjir bandang Palembayan bukan sekadar bencana alam, melainkan pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap hidup.
“Saya sadar hidup bisa berubah dalam hitungan detik. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha, saling menolong, dan berserah,” ucapnya.
Kisah tersebut menjadi gambaran nyata keteguhan manusia saat berada di titik paling rapuh, tak hanya berjuang untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama, meski nyawa sendiri berada di ujung batas. (*)









