![Gubernur Sumbar, Mahyeldi saat pertemuan koordinasi percepatan penyelenggaraan MBG se-Sumatera Barat.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/10/IMG-20251002-WA0007.jpg)
Mahyeldi menyampaikan, program MBG merupakan bagian dari program strategis nasional yang harus mendapat dukungan penuh dari semua pihak. Menurutnya, kebutuhan operasional dapur MBG di Sumbar cukup besar. Satu dapur menghabiskan biaya produksi sekitar Rp45 juta per hari, atau Rp900 juta per bulan. Jika dihitung setahun, total biaya mencapai Rp10,8 miliar per dapur.
“Angka ini jauh lebih besar dibandingkan alokasi anggaran satu nagari atau desa yang hanya sekitar Rp1 miliar. Maka perlu strategi agar penyediaan bahan pangan MBG ini bisa disuplai dari produksi masyarakat di nagari masing-masing. Dengan begitu, bukan hanya kebutuhan gizi anak terpenuhi, tapi ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” ujar Mahyeldi.
Saat ini, Sumbar memiliki 120 dapur MBG, namun baru 84 yang beroperasi. Setiap dapur melayani dua nagari. Gubernur berharap ke depan ketersediaan pangan untuk MBG lebih banyak dipenuhi dari hasil pertanian dan peternakan lokal agar perputaran ekonomi semakin merata di daerah.
Namun, Mahyeldi juga menyinggung masalah serius yang baru-baru ini terjadi. Sebanyak 86 warga di Kabupaten Agam dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi nasi goreng dari program MBG. Menyikapi hal tersebut, operasional dapur terkait untuk sementara dihentikan.
“Kita tidak bisa main-main dengan masalah keamanan pangan. Standar higienitas dan kualitas makanan harus dijaga. Saya minta Satgas, Bupati, dan Wali Kota benar-benar mengawasi agar setiap anak mendapatkan makanan yang layak dan sesuai standar. Jika ada masalah di lapangan, segera lakukan tindakan cepat,” tegas Mahyeldi.
Sekretaris Satgas Percepatan Penyelenggaraan MBG Sumbar, Iqbal Ramadipayana, menambahkan bahwa kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat koordinasi lintas sektor dalam percepatan penyelenggaraan MBG di Sumbar.
“Kami menghadirkan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) wilayah Riau, Kepri, dan Sumbar, Syariwidya, sebagai narasumber. Pesertanya terdiri dari Forkopimda, Bupati/Walikota, serta Satgas MBG se-Sumbar,” jelas Iqbal.
Dengan adanya pertemuan ini, Pemprov Sumbar berharap pelaksanaan program MBG bisa semakin terarah, aman, dan memberikan manfaat ganda: kesehatan anak-anak terjamin, sekaligus ekonomi nagari ikut berkembang melalui pemanfaatan pangan lokal.(Adpsb)
![Update sementara data korban bencana Hidrometeoroligi di Sumbar. Minggu, (30/11) pukul 09.00 WIB [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG-20251130-WA0008-120x86.jpg)
![Pembaruan data dampak bencana hidrometeorologi oleh Pusdalops BPBD Sumbar per Sabtu, (29/11) pukul 24.00 WIB.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/1000758761-120x86.png)

![Update sementara data korban bencana Hidrometeoroligi di Sumbar. Minggu, (30/11) pukul 09.00 WIB [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG-20251130-WA0008-350x250.jpg)
![Anggota DPRD Sumbar, Fraksi PKB, Donizar saat meninjau kondisi Jembatan Ampang Gadang, Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman yang tertutup material. Sabtu malam, (30/11).[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG-20251129-WA0047-350x250.jpg)

![Pembaruan data dampak bencana hidrometeorologi oleh Pusdalops BPBD Sumbar per Sabtu, (29/11) pukul 24.00 WIB.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/11/1000758761-350x250.png)


![Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/07/FB_IMG_17535045128082-350x250.jpg)