Jumat, 16/1/26 | 16:01 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kreativitas Linguistik atau Gejala Klinis, Neologisme?

Minggu, 21/9/25 | 14:46 WIB

Oleh: Reno Novita Sari dan Leni Syafyahya
(Mahasiswa dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Bahasa selalu lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia adalah cerminan batin, jendela untuk memahami seseorang, sekaligus ruang untuk menciptakan makna baru. Bagi penderita skizofrenia, bahasa sering hadir dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka menciptakan kata-kata baru yang tidak ditemukan dalam kamus resmi atau fenomena yang biasanya disebut dengan istilah neologisme. Namun, apakah fenomena neologisme pada penderita skizofrenia ini hanya tanda dari gangguan pikiran atau justru sebagai bentuk kreativitas linguistik?

BACAJUGA

No Content Available

Salah seorang pasien penderita skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan menyebut kopi hitam dengan menggunakan istilah “my soulwengi”. Kata ini merupakan penggabungan dari kata soul yang berarti jiwa dalam bahasa Inggris dan wengi yang berarti malam dalam bahasa Jawa. Hasilnya adalah kiasan yang menggambarkan kopi sebagai jiwa malam. Bagi orang lain, ungkapan ini mungkin terdengar aneh atau tidak lazim dan membingungkan. Namun, bagi pasien, kata tersebut memiliki makna yang mendalam. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas dan pengalaman pribadi. Kata lain dari pasien yang sama adalah istilah “Skeba” yang digunakan untuk menamai fitur visual dalam permainan komputer, atau “ngefregen” untuk menggambarkan kondisi yang sibuk. Meskipun tidak ada dalam kamus, istilah-istilah ini tetap memiliki makna bagi si penutur.

Dalam ilmu psikiatri, fenomena neologisme disebut sebagai disorganisasi bahasa, salah satu ciri khas skizofrenia yang tercatat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (American Psychiatric Association, 2013). Dengan kata lain, kemunculan kata-kata baru dianggap sebagai tanda adanya gangguan dalam cara berpikir. Namun, dari sudut pandang linguistik, hal tersebut juga bisa dimaknai sebagai bentuk kreativitas. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita pun sering menciptakan kata-kata baru karena pengaruh tren, teknologi, maupun media sosial. Bedanya, pada penderita skizofrenia kata-kata ini tercipta dari pengalaman batin yang sangat pribadi sehingga sulit dipahami oleh orang lain.

Fenomena neologisme menjadi istimewa karena kata-kata baru yang diucapkan oleh penderita skizofrenia bukan sekadar kesalahan bahasa, melainkan cara mereka untuk menyebut pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa. Contoh istilah lain yang disebutkan oleh salah satu pasien penderita skizofrenia seperti “glindro” untuk mengumpamakan suara berisik dalam kepalanya. Hal ini dapat dipahami sebagai ekspresi kreatif dalam menamai sesuatu yang abstrak dan mungkin tidak pernah dialami oleh orang lain. Oleh karena itu, daripada melihatnya sebagai bahasa yang aneh, lebih baik kita memahaminya sebagai cara penderita untuk menggambarkan pergulatan batinnya. Dari sudut pandang medis, fenomena ini memang dianggap penting sebagai tanda klinis dalam diagnosis. Namun, dari perspektif linguistik, hal ini menunjukkan bahwa bahasa manusia tetap produktif, bahkan ketika pikiran sedang kacau. Sementera itu, dari sudut pandang kemanusiaan fenomena ini memberikan pelajaran bahwa penderita skizofrenia bukan hanya pasien dengan gangguan, tetapi juga individu dengan dunia bahasa yang unik dan kaya imajinasi.

Dengan demikian, bahasa menunjukkan bahwa kreativitas manusia tidak pernah berhenti, bahkan ketika kondisi mental sedang sakit. Seseorang tetap berusaha mencipatkan makna baru melalui kata-kata. Pada penderita skizofrenia, hal ini terlihat jelas bahwa mereka memiliki imajinasi yang seharusnya dihargai, bukan sekadar dilihat sebagai gejala sakit. Dengan sedikit empati, kita bisa memahami bahwa di balik kata-kata yang terdengar aneh dan janggal. Ada usaha yang tulus untuk menyampaikan pengalaman batin kepada orang lain.

Neologisme pada skizofrenia menunjukkan bahwa bahasa manusia selalu bergerak antara dua sisi, yaitu gangguan dan kreativitas. Kata-kata seperti “my soulwengi”, “Skeba”, “ngefregen”, atau “glindro” bukan sekadar rangakaian huruf tanpa makna, melainkan bukti usaha seseorang untuk tetap berkomunikasi dan berkreasi meskipun pikirannya terganggu. Daripada menganggapnya hanya sebagai sesuatu yang aneh, lebih tepat bila kita melihatnya sebagai bagian dari cerita manusia yang berusaha keras untuk tetap hadir dan dimengerti.

Tags: #Reno Novita Sari dan Leni Syafyahya
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kecerdikan Kancil dalam Fabel Indonesia dan Melayu: Analisis Sastra Bandingan

Berita Sesudah

Bahasa Gaul dan Panggung Ekspresi Anak Muda

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa Gaul dan Panggung Ekspresi Anak Muda

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Tegaskan Gerakan Pramuka Pembentuk Generasi Muda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PDAM Kota Padang Putuskan Sambungan Air Tanpa Peringatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024