
Kata seperti dan sepertinya hanya dibedakan oleh partikel -nya, tetapi maknanya menjadi sangat berbeda. Penambahan partikel -nya di beberapa kata yang kemudian mengubah makna kata itu tidak hanya terdapat di dalam kata sepertinya, tetapi juga ada pada kata lain, misalnya biasa dan biasanya. Penambahan artikel -nya di belakang suatu kata, pada umumnya dipahami sebagai bentuk “kepemilikan” orang ketiga tunggal, sebagai contoh:
- Ini adalah rumah aku (Ini adalah rumahku).
- Ini adalah rumah kamu (Ini adalah rumahmu).
- Ini adalah rumah dia (Ini adalah rumahnya).
Pada poin ketiga, keberadaan partikel -nya setelah kata rumah berfungsi sebagai kata penunjuk pengganti kepemilikan dari dia (orang ketiga tunggal). Secara umum, masyarakat pengguna bahasa Indonesia dapat memahami makna dari contoh tersebut. Akan tetapi, ketika partikel -nya ditambah dengan kata yang tidak teridentifikasi sebagai suatu kepemilikan, akan memberikan makna lain dari kata tersebut. Dalam edisi Klinik Bahasa Scientia kali ini, kita akan mengambil salah satu contoh yaitu perbedaan antara kata seperti dan sepertinya. Kata seperti di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki enam makna, yaitu:
- serupa dengan; sebagai; semacam
- sama halnya dengan; tidak ubahnya
- sebagai mana; sesuai dengan; menurut
- seakan-akan; seolah-olah
- misalnya; umpamanya
- adapun yang sebagai; akan hal
Dari pemaparan makna yang terdapat di dalam KBBI tersebut, kita bisa mengambil beberapa contoh kalimat yang sering digunakan di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
- Wah, kue itu cantik sekali. Bentuknya persis seperti bunga mawar.
- Menurutku, cara bicara anak ini sama seperti ibunya.
- Kita akan melaksanakan kegiatan ini seperti apa yang sudah kita rencanakan kemarin.
- Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, mereka akan datang ke kota ini dengan membawa barang-barang yang akan diolah sebagai produk ramah lingkungan.
- Dongeng Indonesia banyak menggunakan sosok binatang sebagai tokoh utamanya, seperti kancil, harimau, dan kura-kura.
Dari berbagai contoh penggunakan kata seperti, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kata ini “menghubungkan suatu objek dengan objek lainnya sebagai referen, pedoman, atau acuannya”. Hal yang dihubungkan oleh kata seperti adalah suatu kemiripan, kesamaan, atau kesatuan lingkup medan makna dari dua objek tersebut. Kita bisa membaca kembali contoh kalimat nomor 1 dan 2. Kata kue dikaitkan dengan bunga mawar karena adanya kesamaan bentuk. Bunga mawar adalah referen, pedoman, atau acuan dari kue, sebab di dalam kalimat tersebut, bunga mawar adalah objek yang nyata sebagai yang ditiru, sedangkan kue adalah objek yang menyerupai bentuk asli bunga mawar. Hal ini juga berlaku untuk contoh kalimat nomor 2. Frasa anak ini menyerupai ibunya dalam gaya bicaranya. Ibunya menjadi acuan dari hal yang ditiru oleh anak tersebut.
Dengan pemahaman yang serupa, kalimat nomor 3 dan 4 juga memiliki referen sebagai acuan-acuan kalimatnya, yaitu “seperti apa yang sudah kita rencanakan” dan “seperti yang sudah saya katakan sebelumnya”. Tidak jauh berbeda dengan itu, kalimat nomor 5 juga memiliki referen sebagai pedomannya, yaitu kata binatang yang menjadi acuan medan makna untuk kata-kata kancil, harimau, dan kura-kura. Dengan demikian, dalam hal ini kita bisa memahami bahwa penggunaan kata seperti mengabungkan dua objek yang salah satunya berfungsi sebagai acuannya, sedangkan yang lainnya berfungsi sebagai “tiruan, jenis, atau penjelasannya”.
Setelah memahami makna kata seperti, kita kemudian beralih ke kata kedua, yaitu sepertinya. Ada penambahan -nya di kata kedua. Penambahan -nya membuat kata seperti tidak lagi mengusung makna yang sama dengan yang sudah diuraikan sebelumnya. Kata sepertinya memberi konteks yang berbeda, yaitu “suatu kemungkinan, dugaan, prediksi, dan sebagainya”. Kita bisa melihat contohnya dalam kalimat-kalimat berikut.
- Saya mohon maaf tidak bisa ikut makan malam hari ini karena sepertinya saya akan lembur. Sampai saat ini, pekerjaan saya masih belum selesai.
- Sepertinya sore ini akan hujan. Apakah kita akan tetap pergi ke pantai?
- Sepertinya dia sedang ada masalah. Dia hanya bermenung saja dari tadi.
- Sepertinya dia akan senang menerima kado ini.
- Teman-teman, maaf ya, aku tidak bisa pergi dengan kalian. Saat aku menelepon ayahku tadi, ayah diam saja. Sepertinya ayahku marah.
- Sepertinya dia akan terlambat lagi hari ini.
Dari enam contoh kalimat tersebut, kata sepertinya mengusung konteks suatu “dugaan” atau “prediksi” yang kenyataannya belum bisa dipastikan 100%, meskipun cenderung hampir sesuai dengan yang disangka. Akan tetapi, sampai di sini, kita bisa menyadari bahwa kata seperti dan sepertinya memang memberi kesan dan konteks yang berbeda. Benarkan demikian? Mari kita bahas lebih seksama. Kata seperti memiliki sebuah referen atau acuan yang berfungsi sebagai sesuatu yang dimiripkan. Objek yang dijadikan referen adalah objek yang benar-benar bisa dibandingkan. Akan tetapi, kata sepertinya tidak memiliki acuan khusus yang benar-benar konkret bisa dimiripkan.
Sebuah dugaan atau prediksi nyatanya tidak memiliki suatu hal yang bisa dibandingkan secara konkret karena hasilnya bisa saja tepat atau keliru. Kita bisa mengambil contoh kalimat nomor 1. Di dalam kalimat tersebut, ada “prediksi” bahwa si penutur akan lembur bekerja sehingga tidak bisa ikut makan malam. Prediksi ini bisa disimpulkan karena ada faktor pendukungnya, yaitu pekerjaan yang belum selesai. Dengan demikian, kata sepertinya lebih mengarah ke sebuah dugaan atau prediksi yang hasilnya “hampir tepat”. Mengapa “hampir tepat”? Karena kesimpulan ini bisa berdasarkan pengalaman dari situasi atau kondisi serupa yang pernah terjadi sebelumnya. Istilah lembur yang digunakan di dalam kalimat tersebut, adalah sebuah situasi yang sangat besar kemungkinan pernah terjadi. Apa penyebabnya? Salah satunya adalah pekerjaan yang belum selesai hingga batas waktu jam kerja berakhir. Hal itu ternyata terjadi lagi sehingga dengan situasi yang mirip, sebuah prediksi atau dugaan akan bisa disimpulkan. Dengan demikian, kita bisa menarik sedikit benang merah antara kata seperti dan sepertinya. Hubungan yang bisa ditarik dari dua kata ini adalah “referen, acuan, atau pedoman”.
Di dalam kata sepertinya yang meskipun dipahami sebagai dugaan atau prediksi, tetap saja dugaan dan prediksi tersebut bisa disimpulkan karena adanya situasi serupa yang terjadi sebelumnya. Situasi serupa inilah yang menjadi acuan persamaannya. Untuk lebih detailnya, kita bisa membaca kembali kalimat nomor 2. Mengapa seseorang bisa memprediksi “akan hujan?”. Tentunya ada faktor pendukung, yaitu langit dan awan yang mulai gelap. Tentu saja situasi ini pernah terjadi sebelumnya. Oleh sebab itu, dugaan “akan hujan” bisa dituturkan. Hal ini juga berlaku untuk kalimat-kalimat lainnya di dalam contoh tersebut.
Dugaan atau prediksi yang bisa dijadikan referen atau pedoman adalah pengalaman-pengalaman penutur dengan situasi serupa sebelumnya. Mengapa penutur tersebut bisa mengatakan “sepertinya ayahku marah?” Ada dua jawaban. Pertama, penurut memiliki pengalaman yang persis sama. Kedua, penutur memiliki referen kata marah dengan wujudnya sebagai “diam”. Pada intinya, prediksi dan dugaan tersebut tetap saja memiliki referen. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan antara seperti dan sepertinya terletak di objek yang dijadikan referen. Kata seperti memiliki objek yang konkret karena cenderung mengacu pada kemiripan, sedangkan kata sepertinya memiliki referen yang tidak konkret (bisa saja keliru) karena berdasarkan pengalaman sebelumnya.






