
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)
Mantra merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Di Nagari Talang Anau, misalnya, mantra hadir bukan sekadar sebagai ungkapan magis, tetapi juga sebagai doa, pengharapan, dan sarana penyembuhan sederhana. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memadukan keyakinan spiritual dengan praktik pengobatan.
Sejak kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan praktik-praktik tradisi yang melekat dalam keseharian. Di Nagari Talang Anau, obat untuk sakit tidak selalu berbentuk pil atau kapsul. Ada cara lain yang diwariskan turun-temurun, yakni melalui mantra. Mantra bukan sekadar ucapan, melainkan representasi dari kearifan lokal yang menyatukan keyakinan, doa, dan praktik pengobatan sederhana.
Saya masih ingat, ketika kecil saya sering mengalami sakit kepala, perut, atau rasa mual. Alih-alih segera diberi obat medis, nenek atau ibu saya berkata, “Itu karena sapo-sapoan”. Istilah ini merujuk pada sakit yang dipercaya timbul akibat ditegur oleh roh leluhur, yang dalam bahasa setempat disebut rawah-rawah. Untuk menyembuhkannya, nenek mengambil kunyit atau bawang merah, membelahnya menjadi dua, lalu merapalkan doa yang disebutnya sebagai mantra.
Sambil merapalkan mantra, nenek menghadapkan kunyit ke bibirnya, lalu meletakkannya di punggung tangan dan menggesekkan tangan ke lantai. Kunyit yang jatuh dalam posisi tertentu kemudian digosokkan ke bagian tubuh saya: dahi, hidung, leher, hingga pusar. Proses ini diulang sampai diyakini semua roh leluhur telah disebutkan namanya.
Tidak hanya untuk sapo-sapoan, mantra juga hadir dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi masalah lain. Di rumah kami yang dikelilingi pepohonan, sengatan tabuhan atau kerawai adalah hal biasa. Jika itu terjadi, nenek tidak serta-merta mengambil salep atau obat. Ia akan mengambil sebilah pisau dapur, merapalkan doa, lalu menggesekkan mata pisau pada kulit yang terkena sengatan.
Belakangan, melalui penelitian yang saya lakukan mengenai mantra sebagai representasi kearifan lokal, saya menemukan lafaz doa yang lazim digunakan masyarakat untuk mengobati bisa sengatan. Bagi masyarakat Talang Anau, apa yang disebut mantra ini sejatinya doa. Ia memuat maksud, tujuan, serta pengharapan yang dalam.
Dalam perspektif kearifan lokal, mantra mencerminkan cara masyarakat menafsirkan sakit, bencana kecil, maupun ketidaknyamanan hidup. Mereka tidak sekadar mengandalkan ramuan atau benda fisik, tetapi juga kekuatan kata-kata. Kata dalam mantra diyakini mampu menetralkan bahaya, mendatangkan keselamatan, bahkan menolak marabahaya.
Kini, ketika saya meneliti kembali praktik-praktik itu, terasa jelas bahwa mantra adalah bentuk pengetahuan tradisional yang berfungsi ganda: sebagai sarana penyembuhan sekaligus simbol spiritualitas masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Talang Anau menjaga keseimbangan hidup melalui harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.
Dengan demikian, mantra tidak hanya sekadar “kata-kata lama” yang dilafalkan, melainkan bagian dari warisan budaya yang merekam kearifan lokal. Ia adalah penanda bahwa masyarakat memiliki cara pandang tersendiri dalam menghadapi kehidupan, yang berbeda dari logika medis modern, namun tidak kalah bermakna.




![Reses anggota DPRD Padang, fraksi PKB, Yosrizal Effendi.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/09/IMG-20250907-WA0006-75x75.jpg)
