Senin, 02/3/26 | 20:51 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Penamaan Tempat di Nagari Andiang

Minggu, 20/7/25 | 11:20 WIB
Penamaan Tempat di Nagari Andiang

Oleh: Annisa Aulia Amanda
(Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Andalas dan  Mahasiswa KKN Nagari Andiang

 

Pemberian nama atau alamat pada suatu wilayah merupakan hasil dari kesepakatan kolektif masyarakat pada masa tertentu. Penamaan ini tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi bertujuan untuk memudahkan identifikasi dan pengenalan terhadap suatu kawasan tempat tinggal. Setiap nama yang disematkan biasanya memiliki latar belakang dari pihak atau kelompok yang memberikan nama tersebut. Seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat setempat, nama-nama daerah tersebut pun mengandung makna yang mencerminkan nilai-nilai historis, sosial, atau budaya yang hidup dalam komunitas tersebut.

BACAJUGA

Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” Karya Rendra

Metafora dalam Puisi-puisi Sanusi Pane

Minggu, 09/6/24 | 16:07 WIB
Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” Karya Rendra

Idiom dalam Puisi “Teratai” Karya Sanusi Pane

Minggu, 26/5/24 | 09:27 WIB

Nagari Andiang merupakan salah satu nagari yang berada di Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berdasarkan situs Batu Sandaran Niniak Nan Barampek di Nagari Limbanang, menunjukkan bahwa penduduk Nagari Andiang berasal dari kaum Niniak Nan Barampek, yaitu Niniak Nan Tuo, Dt. Maharajo Indo, yaitu Inyiak Koto Loweh yang menempati dataran  di bawah kaki bukit. Hal ini menjadi awal dari peradaban Nagari Andiang.

Secara administratif, Nagari Andiang merupakan hasil pemekaran dari Nagari Limbanang yang resmi terbentuk pada tahun 2009. Tokoh pertama yang menjabat sebagai Wali Nagari adalah Bapak Dedi Sardi yang memimpin sejak 2009 hingga 2015. Kemudian, dilanjutkan tahun 2016 hingga sekarang oleh Bapak Gusfialdi. Nagari ini memiliki luas wilayah sekitar 640 Ha. Pada awalnya, nagari ini terkenal dengan perkebunan Jeruk Jermannya. Namun, seiring berjalannya waktu dan perubahan kondisi sosial ekonomi, masyarakat Nagari Andiang memilih untuk menonjolkan potensi persawahannya.

Berdasarkan hasil yang didapati dari masyarakat Nagari Andiang secara langsung, penamaan nagari memiliki latar belakang penceritaan yang dipercayai oleh masyarakat sekitar. Cerita dimulai dengan kelompok yang tinggal di mudiak (arti: hulu) dan kelompok yang tinggal di hilia (arti: hilir). Kedua kelompok tersebut memiliki perselisihan yang berujung pada pertengkaran tanpa menemukan kesepakatan untuk hidup bermasyarakat. Kelompok dari mudiak mengatai kelompok hilia dengan binguang ang (arti: bodoh) dan kelompok hilia mengatai kelompok mudiak dengan andia ang (arti: bodoh). Akhirnya, ada tokoh yang menjadi penengah antara kedua kelompok dan kata lontaran yang dilemparkan berubah menjadi sebuah nama nagari. Kelompok dari hilia dengan Nagari Binuang dan kelompok dari mudiak dengan Nagari Andiang.

Selain nama nagari, nama jorong-jorong di Nagari Andiang juga memiliki alasan-alasan tertentu, seperti faktor geografis, sejarah lokal dan lainnya yang berkaitan erat dengan masyarakat. Penjelasannya seperti berikut:

Jorong Siboka

Nama Jorong Siboka diambil dari keberadaannya yang berdekatan dengan Gunung Siboka. Secara etimologis, kata “Siboka” berarti “punuk”, yang merujuk pada bentuk fisik gunung tersebut yang menyerupai punuk hewan. Ciri khas geografis inilah yang menjadi dasar masyarakat setempat dalam menamai wilayah tersebut sebagai Jorong Siboka.

Jorong Padang Bungo

Penamaan Jorong Padang Bungo tidak merujuk pada makna leksikal sebagai “lapangan bunga”, melainkan mengacu pada kebun jeruk yang dahulu banyak terdapat di wilayah tersebut. Pada masanya, Jeruk Jerman merupakan salah satu penghasilan unggulan sekaligus ikon khas Nagari Andiang dan Jorong Padang Bungo dikenal sebagai kawasan dengan jumlah perkebunan Jeruk Jerman terbanyak. Istilah “bungo” dalam konteks ini mengacu pada bunga dari tanaman jeruk, yang menandai awal pertumbuhan buah. Berdasarkan latar belakang inilah, jorong tersebut kemudian dinamai Jorong Padang Bungo.

Jorong Simpang Limo

Penamaan Jorong Simpang Limo berasal dari kondisi geografis wilayahnya yang memiliki lima persimpangan jalan yang menghubungkan jorong ini dengan jorong-jorong lain di sekitarnya. Dalam bahasa Minangkabau, “Simpang Limo” berarti “lima simpang”, yang secara langsung menunjukkan identitas bentuk wilayah tersebut. Berdasarkan latar belakang geografis inilah, wilayah tersebut dinamai sebagai Jorong Simpang Limo.

Jorong Kampuang Baru

Jorong ini dinamakan Kampuang Baru, yang secara leksikal berarti “kampung baru”. Penamaan ini mencerminkan kondisi wilayah tersebut yang merupakan kawasan pemukiman baru dibandingkan dengan jorong-jorong lain di Nagari Andiang. Salah satu buktinya adalah jumlah penduduk di jorong tersebut yang lebih sedikit daripada jorong-jorong lainnya.

Kesimpulannya, penamaan wilayah di Nagari Andiang bukan dilakukan secara sembarangan, melainkan memiliki latar belakang dan alasan, baik secara geografis, historis, maupun budaya lokal. Nama-nama tersebut merupakan hasil kesepakatan masyarakat dan mencerminkan keterkaitan erat antara identitas tempat dan kondisi alam di sekitarnya. Hal ini sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang menjadikan alam sebagai sumber pembelajaran dan pedoman. Nama Nagari Andiang sendiri memiliki sejarah sosial berupa cerita asal-usul. Lalu nama-nama jorong seperti Siboka, Padang Bungo, Simpang Limo, dan Kampuang Baru menunjukkan bentuk alam, posisi strategis, serta perkembangan pemukiman menjadi dasar penamaan. Dengan demikian, penamaan tempat di Nagari Andiang tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai budaya dan alam masyarakat setempat.

Catatan: artikel dibuat berdasarkan hasil wawancara masyarakat sekitar secara langsung dan studi pustaka.

50 Kota, 16 Juli 2025

Tags: Annisa Aulia Amanda
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Berbagai Bentuk dan Makna Kata Ulang

Berita Sesudah

Modernisasi Penampilan Rabab Pasisia Di ISI Padangpanjang

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Berita Sesudah
Modernisasi Penampilan Rabab Pasisia Di ISI Padangpanjang

Modernisasi Penampilan Rabab Pasisia Di ISI Padangpanjang

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024