Jumat, 16/1/26 | 16:20 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Minggu, 11/5/25 | 11:53 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Sebagai orang yang benar-benar menghargai seni sepanjang sejarah hidupnya, Kahlil Gibran pernah berbicara tentang keadaan seni musik yang patut diketahui orang sebagai salah satu bentuk roh dan anugrah Tuhan. Hal tersebut disampaikan melalui karyanya yang berjudul Assilban. Meskipun Assilban tidak terlalu populer layaknya karya Kahlil Gibran yang lain seperti Sayap-sayap Patah, Sang Nabi, Pasir dan Buih, dan lain-lain, Assilban merupakan karya mashyur yang bernuansa religius dari kedalaman rasa seorang Kahlil Gibran terhadap seni. Assilban adalah karya sastra yang berupa teks drama. Karya ini dapat dibaca pada buku Kahlil Gibran: Cinta, Keindahan, Kesunyian. Buku tersebut merupakan buku terjemahan kumpulan dari beberapa karya Kahlil Gibran yang diterjemahkan oleh Dewi Candraningrum, Ahmad Lintang Lazuardi, dan Ahmad Norma.

Assilban
berlatar pada musim semi 1901 di Beirut. Terdapat lima pelaku, antara lain Paul Assilban (musikus dan sastrawan), Yosef Mussirah (sarjana dan sastrawan), Helen Mussirah (adik perempuan Yosef), Salem Mowad (sastrawan dan pemain kecapi), dan Khalil Bey Tamir (pegawai pemerintah). Inti dari permasalahan dari karya ini terdapat pada dialog Salem dan dialog Paul. Awal hingga akhir cerita berada di dalam rumah Yosef, orang-orang tersebut berkumpul saat senja datang. Salem dan Paul berdebat pada senja itu. Mereka memperdebatkan kejadian sebelum mereka datang ke rumah Khalil. Salem dan Paul sebelumnya berada pada sebuah pesta di rumah Jalal Pasha yang dihadiri para petinggi dan pengusaha besar. Paul yang seorang musikus saat itu bernyanyi dengan sukarela di pesta tersebut. Tetapi Paul tiba-tiba menghentikan nyanyiannya. Setelah itu Jalal Pasha mengatakan kepada Paul “Tanpa nyanyianmu roh dari pesta ini akan menghilang. Aku harap engkau mau menerima pemberianku ini bukan sebagai bayaran, tapi sebagai tanda hormatku dan penghargaan para hadirin kepadamu. Jangan kecewakan kami” Paul mencampakkan kantung itu dan berkata “Engkau menghinaku, Aku datang ke sini bukan untuk menjual diri, aku datang ke sini sebagai tamu yang sukarela”. Jalal Pasha memaki Paul dan Paul pergi meninggalkan rumah itu.

BACAJUGA

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Konflik pada Cerpen “Pak Menteri Mau Datang” Karya A.A. Navis

Minggu, 05/10/25 | 23:11 WIB
Folklor Siluman Penyedia Gamelan pada Wayang di Kawunganten

Folklor Siluman Penyedia Gamelan pada Wayang di Kawunganten

Minggu, 16/3/25 | 12:11 WIB

Alasan Paul berbuat hal itu adalah bentuk ia menentang bagaimana para orang kaya membeli para seniman dan cendikiawan untuk memajangnya di rumah-rumah. Hal tersebut menurut Paul sama saja seperti memelihara ayam, burung dan kuda. Mereka diminta untuk bernyanyi di pesta-pesta. Bila tidak ada pesta, maka para seniman itu terdiam. Paul tidak menyalahkan orang kaya, tapi menyalahkan para penyanyi, penyair, dan cendikiawan yang kehilangan harga diri mereka.

Musik adalah bahasa rohani, musik memiliki jiwa seperti biola, jika talinya kendor maka suaranya tidak keluar. Tali jiwa Paul telah lepas karena melihat tamu-tamu di rumah Jalal Pasha yang penuh ambisi dan sombong. Diperjelas lagi pada dialog Paul “Seni adalah roh, yang tak dapat dijual dan tak dapat dibeli. Kita, orang-orang timur harus memahami kebenaran ini. Para seniman kita harus belajar menghormati diri, karena mereka adalah cawan berisi anggur suci”. Cawan berisi anggur suci sering disebut chalice, salah satu bagian penting dari Perjamuan Kudus. Anggur melambangkan darah Kristus, jika diminum akan menjadi lambang penyucian dan pendekatan diri terhadap Tuhan.

Kahlil Gibran tidak dikenal sebagai musikus, tetapi ia sangat menghargai semua bentuk seni, termasuk di dalamnya musik, puisi, dan lukisan. Ia menganggapnya sebagai bentuk ekspresi spiritual. Dapat dibuktikan dalam kutipannya “Music is the language of the spirit. It opens the secret of life bringing peace, abolishing strife” – Kahlil Gibran.

Musik adalah bahasa rohani bisa diartikan bahwa musik dapat menjadi alat penghubung antara manusia dan Tuhan. Tidak hanya persoalan ibadah dengan Tuhan saja. Ibadah memiliki arti luas. Ibadah yang sebenar ibadah tak hanya bersifat vertikal (manusia ke Tuhan), namun juga bersifat horizontal (manusia ke makhluk hidup lainnya). Dengan musik, manusia dapat membangkitkan ketenangan batin. Paul dalam Assilban ingin menegaskan kembali hal itu. Ia menyanyi bukan karena uang. Itulah rahmat Tuhan yang diberikan kepadanya. Ia menganggap bahwa menyanyi adalah sebuah ibadah. Ia bernyanyi berarti ia bersyukur dan menjalankan anugrah yang diberikan Tuhan kepadanya. Perilaku bersyukur merupakan aspek ibadah yang penting dalam ajaran sebagian besar agama yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan ia bernyanyi di depan makhluk lain berarti ia sedang menjalankan ibadah horizontal. Ia membuat orang-orang senang. Sayangnya, para pendengar lain itu tak mendengarkan. Mereka lebih sibuk dengan urusan bisnisnya yang hanya menguntungkan diri mereka sendiri. Sama seperti Paul melukis di depan orang-orang buta, menyanyi di hadapan orang-orang tentu tidak ada artinya. Lebih baik ia pergi meninggalkan rumah Jalal Pasha. Tuhan memberikan musik sebagai salah satu media pendekatan makhluk hidup terhadap Tuhan. Karena musik berasal dari alam semesta. Suara ombak, hujan, burung, semuanya adalah nada dan suara alami yang merujuk pada ciptaan Tuhan. Seluruh semesta ini bergetar, dan musik adalah bagian dari getaran tersebut. Bahkan dalam diri kita sendiri terdapat getaran.

Selain mewarnai pikiran sastrawan di dunia, Kahlil Gibran selalu mewakili jiwa bangsa Arab yang puitis. Bangsa yang memiliki kekayaan dalam berbahasa. Sebagai contoh lain, untuk kuda dan perang saja bangsa Arab memiliki dua ratus kosakata yang berbeda. Kahlil Gibran adalah salah satu dari beberapa penulis yang dapat menciptakan karya sastra yang nyaris sempurna. Ia benar-benar mampu membuat gejolak dalam batin pembaca. Kata-katanya begitu sejahtera. Ketika ia bicara mengenai kesedihan, tulisannya datang bagai malaikat maut yang membuat sesak di dada. Jika berbicara mengenai kesenangan, tulisannya datang bagai matahari yang membawakan rasa hangat dalam jiwa. Pada saat itu, ia juga memunculkan pemikiran mengenai seni yang harus dihargai dan harganya tak dapat dibeli. Seni adalah jiwa, dan musik memiliki jiwa yang membangkitkan jiwa yang lain.

“Bagaimana musik itu bisa diharamkan? Sedangkan sekujur tubuh kita penuh dengan nada” – Sujiwo Tejo.

Tags: Faathir Tora Ugraha
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Berita Sesudah

Menyulam Nilai Lewat Cerita: Inyiak Bayeh dan Cerita-cerita Lainnya

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Menyulam Nilai Lewat Cerita: Inyiak Bayeh dan Cerita-cerita Lainnya

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Tegaskan Gerakan Pramuka Pembentuk Generasi Muda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PDAM Kota Padang Putuskan Sambungan Air Tanpa Peringatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024