Selasa, 03/3/26 | 06:04 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kritik terhadap Para Pemimpin dalam Cerpen “Saksi Mata” Karya Seno Gumira

Minggu, 30/3/25 | 07:30 WIB
Kritik terhadap Para Pemimpin dalam Cerpen “Saksi Mata” Karya Seno Gumira
Oleh: Tomi Pratama
(Mahasiswa Progra, Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Seno Gumira Ajidarma adalah seorang jurnalis terkenal enggan disebut sastrawan  yang lahir di Boston, Amerika Serikat pada tanggal 19 Juni 1958, tetapi tumbuh dan besar di Yogyakarta. Seno Gumira banyak meyuguhkan karya sastra salah satunya cerpen yang berjudul “Saksi Mata” ditulis berdasarkan insiden yang terjadi di Dili Timor Timur pada 12 November 1991. Cerpen Saksi Mata merupakan  cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma. Cerpen ini ditulis di Jakarta pada 4 Maret 1992. Cerpen ini menjadi judul buku cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang terbit pada tahun 1994. Pada buku ini tidak hanya cerpen Saksi Mata, tetapi masih ada 15 cerpen terdapat dalam buku yang menyuguhkan cerita tentang kekejaman dan derita manusia kelas bawah. Atas kisah-kisah tersebut, buku ini juga mendapatkan penghargaan Penulisan Karya Sastra pada tahun 1995 dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Cerpen “Saksi Mata” bertema kebenaran yang ditutup-tutupi yang di mana pengarang terinspirasi dari kejadian nyata zaman orde baru pada saat itu masih dipimpin oleh Soeharto sehingga banyak sekali metode yang menyebabkan  masyarakat tidak dapat menyuarakan haknya. Pada cerpen ini, Seno Gumira menggambarkan seorang wartawan menjadi saksi mata atas salah satu  peristiwa. Akan tetapi, ia tidak dapat mengungkapkan kejadian yang sebenarnya karena sudah kehilangan kedua bola matanya.

Cerpen “Saksi Mata” diawali dengan permasalahan sang Saksi Mata yang kehilangan bola matanya. Cerpen ini menggunakan alur maju dan mundur, serta dengan akhir yang menggantung. Hal ini menyebabkan pembaca harus masuk dalam imajinasi mereka masing-masing agar dapat memahami cerita. Selanjutnya, latar tempat pada cerpen “Saksi Mata” berada di ruangan pengadilan yang sedang berjalannya proses pengadilan. Tokoh utamanya adalah Saksi Mata dengan tokoh pendukung Hakim, masyarakat, ninja, dan sopir hakim. Saksi Mata memiliki sifat peduli terhadap keadilan dan masyarakat dalam cerpen memiliki sifat tidak peduli terhadap keadaan yang terjadi. Hakim memiliki sifat acuh tak acuh pada persidangan, ninja memiliki sifat yang patuh pada perintah atasan, dan sopir memiliki sifat berpihak pada kebenaran. Pada akhir paragraf, menceritakan bahwa tokoh Saksi Mata dicabut lidahnya oleh ninja. “Pada waktu tidur, ia bermimpi, ada lima orang berseragam ninja mencabut lidahnya- kali ini menggunakan catut.” Hal tersebut merupakan permainan disengaja oleh atasan ninja supaya Saksi Mata tidak dapat bersaksi di pengadilan karena lidahnya dicabut.

BACAJUGA

No Content Available

Seno Gumira memperlihatkan perbedaan kelas sosial yang ada dalam masyarakat dalam tulisannya. Tokoh Saksi Mata adalah seorang yang tertindas dan tidak dapat menyuarakan keadilan karena rakyat biasa yang tinggal di lingkungan kumuh dibungkam oleh kekuasaan, sedangkan tokoh Hakim adalah seseorang yang memiliki kuasa di ranah hukum harus mengikuti aturan sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.

Bila dikaitkan pada zaman sekarang, kondisi ini tentunya masih ada pada saat ini. Seno Gumira menyuarakan kritikannya terhadap pemimpin dalam tulisan cerpen “Saksi Mata” secara tidak langsung untuk menyadarkan para pemimpin dan pembaca agar berani menegakkan keadilan. Tidak hanya dalam cerpen, pada tulisan lainnya yang berjudul “Ketika Jurnalis Dibungkam, Sastra Harus Bicara”, Seno juga menyuarakan keadilan. Buku tersebut sangat berkaitan di era rezim pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Para jurnalis tidak boleh meliput politik agar para pemimpin bisa seenak dalam menjalankan pemerintahan Indonesia.

Seno Gumira sengaja membuat akhir yang menggantung supaya pembaca harus membaca berulang kali agar dapat memahami tulisan dari cerpen “Saksi Mata”, seperti analogi ninja dan darah yang menggambarkan akibat-akibat dilakukan oleh para penguasa. Tokoh ninja menggambarkan  orang yang mengancam Saksi Mata agar tidak dapat memberikan kesaksian di pengadilan. “Nah, itu ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”  Darah menggambarkan keserakahan para penguasa terhadap fasilitas yang dibangun oleh negara. Akan tetapi, keserakahan mereka tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Hal tersebut tergambar jelas pada kutipan “Darah mengalir perlahan-lahan tapi terus menerus sepanjang jalan raya sampai kota itu banjir darah. Darah membasahi segenap pelosok kota bahkan merayapi gedung-gedung bertingkat sampai tiada lagi tempat yang tidak menjadi merah karena darah. Namun ajaib, tiada seorang pun melihatnya.”

Tags: #Tomi Pratama
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata “Salam” dan “Salim” saat Lebaran

Berita Sesudah

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1446 H pada 31 Maret 2025

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Berita Sesudah
Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1446 H pada 31 Maret 2025

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1446 H pada 31 Maret 2025

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa dan (Ber) Pikiran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Sebar 216 Tim Safari Ramadhan 1447 H, Salurkan Bantuan hingga Rp50 Juta per Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebutuhan Darah Sumbar Capai 200 Kantong per Hari, Wakil Ketua DPRD Sumbar Ajak Semua Unsur Rutin Donor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024