Jumat, 29/8/25 | 10:35 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home EDUKASI

Pelatihan Menulis Ilmiah HMJ Sastra Indonesia

Senin, 28/10/24 | 06:47 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi
(Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Minggu, 20 Oktober 2024, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, menyelenggarakan Pelatihan Sastra dan Pengabdian Masyarakat. Peserta kegiatan ini adalah mahasiswa semester III Jurusan Sastra Indonesia. Ada sekitar 70 mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini. Jumlah tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Rizky Amelya Furqan yang juga dosen Prodi Sastra Indonesia menyampaikan materi kepada kelompok pertama. Sementara itu, saya mendapat jatah memberikan materi kepada kelompok kedua.

BACAJUGA

Aia Bangih Bukan Air Bangis

Jumlah Kosakata sebagai Bentuk Relativitas Bahasa

Minggu, 05/1/25 | 07:17 WIB
Aia Bangih Bukan Air Bangis

Aia Bangih Bukan Air Bangis

Minggu, 01/9/24 | 08:33 WIB

Panitia kegiatan mengundang saya menyampaikan materi penulisan ilmiah. Saya membuka materi dengan memancing para peserta lewat pertanyaan, “Ilmiah itu apa, sih?” Wajah-wajah segar para peserta tampak antusias menanggapi pertanyaan itu. Mereka berupaya merumuskan dan menyampaikan gagasannya tentang definisi ilmiah. Peserta yang menjawab mampu mendefinisikan ilmiah dengan merujuk pada karakteristiknya. Mereka mengatakan ilmiah sebagai proses yang mengandalkan metodologi dan prinsip objektivitas, serta berbasis pada data.

Setelah itu, saya mengantarkan peserta untuk memahami jenis-jenis karya berdasarkan kadar keilmiahannya. Secara ringkas, saya mengategorikan karya berdasarkan tiga jenis, yakni karya ilmiah, karya semiilmiah, dan karya nonilmiah. Ketika saya minta untuk menyebutkan bentuk-bentuk karya pada masing-masing jenis, peserta mampu menjawab dengan tepat. Mereka tahu bahwa skripsi, tesis, dan disertasi masuk kategori karya ilmiah. Sementara itu, artikel populer dan esai mereka kategorikan sebagai karya semiilmiah. Untuk karya nonilmiah, mereka menyebutkan karya-karya yang berkecenderungan fiksional, seperti puisi, cerpen, dan novel. Bagi saya, selain menunjukkan antusiasme terhadap materi, kemampuan mengategorikan jenis karya seperti itu mengindikasikan pengetahuan dasar yang baik dari para peserta.

Saya sempat bertanya, “Kenapa karya seperti puisi, cerpen, dan novel dikategorikan sebagai karya nonilmiah? Padahal, penulis karya-karya tersebut juga melakukan riset menggunakan metodologi tertentu sebelum menulis sebagaimana dilakukan oleh penulis karya ilmiah.” Seorang peserta menjawab, “Karya-karya tersebut diolah menggunakan imajinasi dari penulisnya. Meskipun berangkat dari realitas sosial, karya seperti cerpen dan novel telah dibumbui sedemikian rupa, sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya.”

Lagi-lagi, saya kagum kepada peserta yang satu ini. Memang saya tidak ingat namanya, tetapi saya terkesan kepadanya karena berkali-kali berani menyampaikan gagasan. Bukankah mahasiswa memang dituntut agar berani menyuarakan dan mempertanggungjawabkan gagasannya kepada publik? Mahasiswa bukanlah status yang pantas bagi orang-orang yang malu-malu menyampaikan gagasannya, yang bersuara lantang ke dalam seolah-olah sedang berbisik pada dirinya sendiri.

Materi berikutnya yang saya sampaikan berkaitan dengan etika penulisan dan publikasi karya ilmiah. Saya menyampaikan berbagai contoh fenomena pelanggaran etika yang dilakukan oleh para pejabat di Indonesia belakangan ini, mulai dari publikasi artikel di jurnal predator, penggunaan joki dalam menyusun karya ilmiah, plagiarisme, sampai dengan penggunaan kecerdasan buatan dalam menghasilkan karya.

Saya menekankan bahwa pemahaman dan ketaatan pada etika merupakan pengetahuan pertama dan utama yang perlu dihayati oleh seseorang sebelum mulai menulis atau mendaku sebagai penulis. Betapa pun mengagumkannya sebuah karya, apabila dihasilkan dengan cara-cara yang tidak etis, karya tersebut tidak bernilai apa-apa. Bukannya bangga, penulis semestinya justru malu karena karya yang dihasilkannya tidak datang dari olah pikirnya sendiri.

Karena waktu yang terus berlalu, saya melewatkan penyampaian materi tentang langkah awal penulisan ilmiah. Saya pikir, materi tersebut dapat dikembangkan lewat sesi tanya-jawab. Sebab, waktu yang panjang terasa singkat karena saya begitu menikmati proses belajar bersama-sama para mahasiswa itu. Tahu-tahu, waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 WIB, sedangkan pelatihan merumuskan ide tulisan setelah sesi tanya-jawab tengah menanti.

Berdasarkan pertanyaan yang datang dari para peserta, saya menyimpulkan bahwa mereka mengalami kesulitan pada tahap memperoleh ide untuk dikembangkan menjadi tulisan. Saya menangkap bahwa mereka berpikir terlalu rumit, padahal ide dapat datang dari mana saja, terutama dari pengalaman sehari-hari. Kesenangan menonton siniar di YouTube, membaca karya orang lain, memperhatikan tulisan pada plakat di sepanjang jalan, memperhatikan kebiasaan orang-orang sekitar, menyimak debat atau gelar wicara di televisi, bahkan menyimak obrolan orang lain di warung dapat mendatangkan inspirasi untuk dituliskan. Kuncinya, ya, itu. Kepekaan merespons fenomena sosial-budaya di sekitar kita.

Ada peserta yang mengatakan bahwa ia punya ide, tetapi kesulitan mengembangkannya menjadi tulisan. Saya kira, cara terbaik untuk mengasah keterampilan “menerjemahkan” ide menjadi tulisan adalah serakah membaca tulisan-tulisan lain yang serupa. Apabila hendak menulis esai, bacalah sebanyak mungkin esai yang ada di media massa. Apabila hendak menulis artikel untuk jurnal, bacalah sebanyak mungkin artikel yang sudah dipublikasikan di berbagai jurnal. Begitu pula untuk mengasah keterampilan menulis ulasan (buku, film, teater, pameran, dll.), cerita pendek, puisi, dll. Bacalah karya-karya serupa sebanyak mungkin.

Kemampuan menulis tidak turun begitu saja dari langit. Sekalipun seseorang, katakanlah, diberi berkah oleh Tuhan berupa bakat menulis, bakat tersebut hanya seperti bunga kuncup apabila si pemilik bakat tidak berupaya mengasahnya. Sebab, ibarat belajar mengayuh dan mengendarai sepeda, menulis adalah proses belajar yang butuh ketekunan dan kesinambungan. Seseorang yang andal dalam menulis, apabila ia tidak konsisten melakukannya, keterampilan itu akan pudar seiring waktu.

Sesaat sebelum kegiatan berakhir, belum satu pun peserta menyelesaikan tulisannya. Sebagian masih sibuk mempertanyakan kepantasan idenya. Panitia kegiatan memberikan waktu kepada peserta untuk menuntaskan tulisan mereka sebelum dibedah dan didiskusikan bersama-sama pada hari lain.

Saya merefleksikan semangat dan antusiasme peserta kepada diri sendiri. Rasanya, ketika duduk di bangku semester III, semangat menulis saya masih nol. Saya punya alasan untuk itu, sekalipun alasan yang teramat konyol: Saya minder terhadap kecakapan menulis para senior di kampus sekaligus ketakutan apabila tulisan saya dibantai orang lain. Namun, diam-diam, saya membaca dan mempelajari tulisan-tulisan mereka yang bertebaran di media massa. Dalam hati, saya bertekad, “Suatu saat, nama saya akan tampil di media yang sama.” Meskipun terlambat, akhirnya tulisan pertama saya yang berjudul “Menyoal Anjay” mejeng di Pikiran Rakyat. Betapa rasa gembira memenuhi dada saya. Semangat menulis berlipat ganda setelah tulisan pertama lolos tahap kuratorial media massa.

Dalam bayangan saya, status sebagai pemateri penulisan ilmiah ibarat dua sisi mata uang, yakni sebagai motivasi dan sebagai beban moral. Saya tentu menempatkan diri pada sisi yang pertama. Saya perlu terus mengasah keterampilan menulis dan menaati etika kepenulisan agar kata-kata saya kepada peserta kegiatan tidak menguap ke langit begitu saja sebagai omong kosong belaka.

Tags: #Ahmad Hamidi#Menulis ilmiah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pengumuman Hasil Seleksi Pengawas TPS Panwaslu Kecamatan Pulau Punjung

Berita Sesudah

“Skinny Fat”, Bahaya Tersembunyi Kesehatan Masa Depan

Berita Terkait

Negara ini Hapus Pajak Buku demi Tingkatkan Minat Baca Remaja

Negara ini Hapus Pajak Buku demi Tingkatkan Minat Baca Remaja

Rabu, 27/8/25 | 12:21 WIB

Jakarta, Scientia.id - Pemerintah Denmark mengambil langkah berani dengan menghapus pajak penjualan buku, setelah data OECD menunjukkan seperempat remaja berusia...

Ngeri! Bocah 13 Tahun Tewas Usai Lahap 3 Bungkus Mie Instan Mentah

Ngeri! Bocah 13 Tahun Tewas Usai Lahap 3 Bungkus Mie Instan Mentah

Selasa, 26/8/25 | 21:02 WIB

Jakarta, Scientia.id - Kebiasaan aneh makan mie instan mentah sebagai camilan ternyata bisa berujung maut. Seorang bocah laki-laki berusia 13...

Belut Itu Ular atau Ikan? Jawabannya Bikin Banyak Orang Keliru

Belut Itu Ular atau Ikan? Jawabannya Bikin Banyak Orang Keliru

Selasa, 26/8/25 | 10:05 WIB

Padang, Scientia.id - Bentuk tubuh belut yang panjang dan licin sering bikin orang keliru mengira hewan ini masih ada hubungannya...

Nenek 116 Tahun Resmi Jadi Orang Tertua di Dunia, Rahasianya Ternyata Sederhana

Nenek 116 Tahun Resmi Jadi Orang Tertua di Dunia, Rahasianya Ternyata Sederhana

Minggu, 24/8/25 | 05:51 WIB

Jakarta, Scientia.id - Guinness World Records resmi menobatkan Ethel Caterham, perempuan asal Hampshire, Inggris, sebagai orang tertua di dunia setelah...

Dosen Muda ITB Asal NTT Masuk Daftar Ilmuwan Top 2 Persen Dunia

Dosen Muda ITB Asal NTT Masuk Daftar Ilmuwan Top 2 Persen Dunia

Sabtu, 23/8/25 | 12:04 WIB

Jakarta, Scientia.id - Di usia 32 tahun, Grandprix Thomryes Marth Kadja telah menorehkan prestasi membanggakan. Dosen muda Institut Teknologi Bandung...

Guru dengan Gaji Fantastis, Ada yang Tembus Rp2,3 Miliar Setahun! Di Mana Saja?

Guru dengan Gaji Fantastis, Ada yang Tembus Rp2,3 Miliar Setahun! Di Mana Saja?

Jumat, 22/8/25 | 20:14 WIB

Jakarta, Scientia.id - Gaji guru di berbagai negara berbeda-beda, tergantung regulasi, jenjang pendidikan, hingga pengalaman. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa...

Berita Sesudah
Menguatkan Fungsi Keluarga Demi Kesehatan Ibu dan Anak

“Skinny Fat”, Bahaya Tersembunyi Kesehatan Masa Depan

POPULER

  • Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukittinggi Didorong Jadi Kota Beradat, Berbudaya, dan Ramah Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Solok Tutup Safari Berburu Hama, Dorong Perlindungan Pertanian dan Silaturahmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 401 PPPK di Pesisir Selatan Resmi Dilantik, Bupati Ingatkan Jangan Gadaikan SK ke Bank

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buzzer, Kominfo, dan Tensi Politik Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Pelaku Narkoba Ditangkap, Rekonstruksi Peredaran Sabu di Bukittinggi Terungkap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024