Minggu, 30/11/25 | 21:47 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Slow Living: Mencari Ketenangan dalam Kehidupan yang Serba Cepat

Minggu, 21/7/24 | 09:55 WIB


Oleh: Anne Pratiwi
(Dosen Program Studi Sastra Inggris FIB Universitas Andalas)

Dalam dunia yang semakin cepat dan terhubung, teknologi dan tuntutan pekerjaan seringkali membuat kita merasa tertekan dan terburu-buru. Filosofi slow living, menawarkan sebuah alternatif yang menyegarkan. Slow living atau kehidupan yang lambat adalah sebuah pendekatan yang mendorong kita untuk memperlambat langkah dan menikmati setiap momen dengan lebih sadar.

Konsep slow living berasal dari gerakan slow food yang lahir di Italia pada akhir 1980-an sebagai reaksi terhadap munculnya restoran fast food. Seiring waktu, prinsip-prinsip dari slow food telah meluas ke berbagai aspek kehidupan kita, mulai dari cara kita makan hingga bagaimana kita bekerja, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Slow living mendorong kita untuk mengurangi kecepatan dalam rutinitas harian kita, dengan tujuan untuk lebih menikmati momen-momen kecil, membuat keputusan yang lebih bijaksana, dan menciptakan hidup yang lebih bermakna.

Pentingnya slow living dapat dilihat dari berbagai manfaat yang ditawarkannya. Di tengah kehidupan yang penuh tekanan dan tuntutan, slow living dapat membantu kita mengurangi stres dan kecemasan yang sering kali mengganggu kesejahteraan kita. Dengan memberikan diri kita waktu untuk berhenti, merenung, dan menikmati saat ini, kita bisa menemukan ketenangan yang kita butuhkan untuk mengatasi stres.

BACAJUGA

Dari Tangan ke Pikiran: Revolusi Belajar Bahasa Inggris melalui Ponsel Pintar

Dari Tangan ke Pikiran: Revolusi Belajar Bahasa Inggris melalui Ponsel Pintar

Minggu, 07/7/24 | 12:30 WIB

Selain itu, slow living juga meningkatkan kualitas hidup kita dengan memungkinkan kita untuk lebih menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti waktu bersama keluarga, menikmati makanan sehat, atau hanya menikmati kebersamaan dengan teman-teman. Prinsip ini juga mendorong kita untuk lebih sadar dan mindful, dengan menghadapi setiap aktivitas dengan penuh perhatian, alih-alih hanya menjalani rutinitas harian tanpa berpikir.

Slow living tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk lingkungan kita. Dengan memilih untuk hidup lebih lambat, kita dapat membuat keputusan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, misalnya dengan mengurangi konsumsi barang-barang yang tidak perlu, memilih produk yang ramah lingkungan, dan mengadopsi pola makan yang lebih sehat, kita berkontribusi pada pelestarian planet dan menciptakan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang.

Slow living juga memberikan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan orang-orang terdekat. Dengan meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman tanpa gangguan teknologi, kita bisa memperkuat ikatan kita dan menciptakan momen-momen yang benar-benar berarti.

Slow living bukan secara khusus memberikan manfaat untuk orang-orang yang lelah dengan rutinitas sehari-hari yang monoton dan penuh tekanan. Prinsip dalam slow living juga dapat diterapkan oleh orang-orang dengan kebutuhan yang berbeda. Para profesional yang merasa tertekan oleh tuntutan pekerjaan dapat menemukan cara untuk mengurangi stres dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan mereka melalui slow living.

Keluarga dengan jadwal yang sibuk juga bisa menggunakan prinsip slow living untuk menciptakan waktu berkualitas bersama dan menikmati kebersamaan. Selain itu, mereka yang mencari ketenangan dan mindfulness dapat menggunakan slow living untuk mengembangkan praktik mindfulness yang lebih mendalam dalam kehidupan mereka. Bahkan para pecinta alam dan aktivis lingkungan dapat memanfaatkan slow living untuk membuat keputusan yang lebih berkelanjutan dan memperkuat koneksi mereka dengan alam.

Untuk menerapkan slow living dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak perlu melakukan perubahan besar. Sebaliknya, kita bisa memulai dengan langkah-langkah kecil yang mudah diterapkan. Salah satu cara yang sederhana adalah dengan memulai dari hal kecil, seperti meluangkan waktu setiap hari untuk meditasi singkat atau mengatur waktu tanpa gadget selama makan malam. Selain itu, kita bisa merencanakan aktivitas tertentu, seperti menjadwalkan waktu untuk hobi atau melakukan piknik di taman.

Praktikkan juga mindfulness dalam rutinitas, dengan fokus pada aktivitas yang sedang kita lakukan, seperti menikmati makanan tanpa gangguan atau merasakan lingkungan saat berjalan. Kurangi konsumsi media sosial dengan membatasi waktu yang dihabiskan di platform tersebut dan melakukan digital detox sesekali. Adopsi juga pola makan yang sederhana dan sehat, dengan memasak makanan di rumah menggunakan bahan-bahan segar dan belanja lokal.

Sisihkan waktu untuk diri sendiri dengan melakukan perawatan diri, seperti mandi santai atau menulis jurnal. Fokuskan perhatian pada kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat, dan ciptakan ruang untuk ketenangan di rumah. Terakhir, ingatlah untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, dan berlatihlah untuk lebih memahami dan memaafkan diri sendiri dalam proses menerapkan slow living.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip slow living, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih seimbang, memuaskan, dan penuh makna. Slow living bukan hanya tentang mengurangi kecepatan, tetapi juga tentang menemukan kebahagiaan dan kepuasan dalam momen-momen kecil yang sering kali terlewatkan dalam kehidupan kita yang serba cepat. Melalui langkah-langkah sederhana ini, kita dapat mulai merasakan manfaat dari slow living dan menciptakan kehidupan yang lebih memuaskan dan penuh arti.

Tags: #Anne Pratiwi
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Berita Sesudah

Refleksi Pemikiran Hamka dalam Karya Fiksinya

Berita Terkait

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Jejak Sastra Melayu Klasik dalam Kehidupan Masyarakat Lampau

Minggu, 30/11/25 | 15:11 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Salah satu karya sastra tertua...

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Luka Peperangan Musim Gugur pada Cerpen “Tepi Shire” Karya Tawaqal M. Iqbal

Minggu, 23/11/25 | 06:57 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra dan Anggota Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas)   Musim gugur biasanya identik dengan keindahan....

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Sengketa Dokdo: Jejak Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Kini

Minggu, 16/11/25 | 13:49 WIB

Oleh: Imro’atul Mufidah (Mahasiswa S2 Korean Studies Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)   Kebanyakan mahasiswa asing yang sedang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Budaya Overthinking dan Krisis Makna di Kalangan Gen Z

Minggu, 16/11/25 | 13:35 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di tengah gemerlap dunia digital dan derasnya...

Aspek Pemahaman Antarbudaya pada Sastra Anak

Belajar Budaya dan Pendidikan Karakter dari Seorang Nenek yang ‘Merusak’ Internet

Minggu, 16/11/25 | 13:27 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di ruang keluarga. Seorang nenek sedang...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Konflik Sosial dan Politik pada Naskah “Penjual Bendera” Karya Wisran Hadi

Minggu, 02/11/25 | 17:12 WIB

  Pada pukul 10:00 pagi, 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Berkat desakan dari golongan muda,...

Berita Sesudah

Refleksi Pemikiran Hamka dalam Karya Fiksinya

Discussion about this post

POPULER

  • Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]

    PDAM Padang Kerahkan Mobil Tangki Gratis, Krisis Air Bersih Dipastikan Tetap Terkendali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Walikota Padang Desak PDAM Percepat Perbaikan IPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPW PKB Sumbar dan DKW Panji Bangsa Gerak Cepat Salurkan Sembako di Padang Pariaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana di Sumbar Terus Bertambah: 98 Meninggal dan 93 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Indonesia itu Mudah atau Sulit?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Bencana Hidrometeorologi di Sumbar Terus Bertambah, Tercatat 129 Orang Meninggal Dunia dan 86 Hilang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024