Senin, 02/3/26 | 20:54 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Cinta Seorang Ibu dan Nenek dalam Film How to Make Millions Before Grandma Dies

Minggu, 26/5/24 | 08:30 WIB
Ideologi Simbolik dalam Cerpen “Jangan Bakar Lumbung Padi”

Oleh: Rizky Amelya Furqan
(Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

“Saat Meninggal, Aku Ingin Dikuburkan di Makam Yang Layak, Biar Keluarga yang Kutinggalkan Terlihat Makmur Dan Kalian Mau Berkumpul di Makamku Nanti”

BACAJUGA

Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

Skizofrenia antara Bahasa dan Realitas

Minggu, 14/9/25 | 15:33 WIB
Memori Kolektif Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto

Memori Kolektif Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto

Minggu, 06/10/24 | 06:53 WIB

Amah-Film How to Make Millions Before Grandma Dies

Belakangan ini, beranda sosial media tik tok dipenuhi dengan potongan-potongan sebuah film sedih dari Thailand yang berjudul How to Make Millions Before Grandma Dies. Potongan tersebut terkait dengan reaksi penonton yang bahagia sebelum menonton, tetapi setelah menonton film itu malah mata mereka sembab karena menangis. Berbagai scene yang dihadirkan film itu membuat sedih. Hal ini tentu saja menarik perhatian banyak orang yang belum menonton untuk ikut serta menonton film tersebut.

Film yang sudah ditonton oleh 800.000 penonton pada penayangan hari ke-8 ditulis dan disutradarai oleh Pat Boonntipat yang sudah menjadi sutradara semenjak tahun 2016. Beberapa karyanya yang sudah mencuri perhatian, di antaranya Diary of Tootsies pada tahun 2016, Project S: Skate Our Souls pada tahun 2017, Bad Genius pada tahun 2020, #Hatetag pada tahun 2021, dan akhirnya semakin dikenal dengan film How to Make Millions Before Grandma Dies pada tahun 2024 ini. Bilkin, aktor muda Thailand yang juga menjadi salah satu pemeran utama film ini berperan sebagai M, cucu tertua dari anak perempuan satu-satunya. Kemudian, Usha Seamkhum yang menjadi tokoh nenek atau dipanggil dengan Amah juga mencuri perhatian walaupun ini merupakan film pertamanya.

Di Indonesia film ini mulai tayang pada tanggal 15 Mei 2024, tetapi di Thailand sudah tayang dari bulan April. Film ini mencuri perhatian karena bercerita tentang kehidupan seorang perempuan tua yang anak dan cucunya sudah tidak tinggal bersamanya. Mereka hanya bisa datang ke rumahnya pada akhir minggu saja. Sampai pada akhirnya ia jatuh di pemakaman orang tuanya ketika menabur bunga karena cucunya yang menabur bunga secara asal. Pada saat di rumah sakit baru diketahui bahwa dia menderita kanker. Namun, anak-anaknya tetap tidak bisa menemani Amah dan pada awalnya berusaha merahasiakan sakitnya. Akan tetapi, M, cucu pertamanya menceritakan bahwa Ia menderita penyakit kanker dan hanya memiliki waktu untuk hidup selama satu tahun.

M yang memutuskan untuk merawat Amahnya hanya karena ingin mengincar harta warisan. Namun, lama kelamaan dia benar-benar mencintai Amah. Ia kecewa ketika Amah memberikan warisan kepada anak bungsu laki-lakinya. Amah tidak memberikan kepadanya sebagai cucu tertua yang sudah merawat Amah dengan sepenuh hati. Begitu juga dengan anak laki-laki tertuanya yang juga kecewa karena keputusan Amah yang mewariskan rumah pada adik bungsunya. Akan tetapi, hal paling menarik perhatian dari keseluruhan cerita adalah cinta seorang ibu pada anak dan cucunya yang disampaikan dengan cara yang berbeda-beda. Anak perempuan satu-satunya merasa Amah tidak mencintainya seperti pada kakak dan adiknya. Hal ini terlihat dari dialog antara Amah dan anak perempuan.

“Kau tidak boleh memakan makanan kadaluarsa. Aku seringkali memakan ini sehingga terkena kanker dan kanker ini juga genetik,” kata Amah.

“Iya anak laki-laki mendapatkan warisan dan aku terkena kanker,” kata anak perempuannya.

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa hal yang baik-baik diturunkan pada anak laki-laki, tetapi hal buruk diturunkan pada anak perempuan. Secara sepintas mungkin terlihat bahwa cinta seorang ibu hanya pada anak laki-lakinya saja, tetapi ternyata seorang ibu mencintai anaknya dengan cara yang berbeda-beda. Pada anak perempuan cintanya berbentuk nasihat-nasihat. Hal ini semakin dikuatkan dengan dialog Amah bahwa dia tidak tahu siapa yang paling dicintai dalam keluarga, tetapi ia ingin tinggal dengan anak perempuannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seorang ibu merasakan kenyamanan dengan anak perempuan sehingga dia mudah menasihatinya. Itulah bentuk cinta seorang ibu pada anak perempuanya. Hal ini tentu saja berbeda dengan bentuk cintanya pada anak laki-lakinya yang dia cintai dengan cara memberikan harta karena anak laki-laki bungsunya tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Orang tua memberikan apa yang dibutuhkan oleh anaknya, tetapi seringkali dianggap tidak adil oleh anak-anak karena perlakuan satu sama lain tidak sama. Keadilan sering kali dilihat dengan cara perlakuan yang sama, padahal keadilan adalah memberikan apa yang dibutuhkan oleh masing-masing anak.

Penggambaran cinta seorang ibu dalam film ini mungkin membuat penonton merasa bahwa film itu related dengan kehidupan mereka. Kemudian, hal itu semakin diperkuat dengan cinta seorang nenek pada cucunya. Amah membuatkan tabungan untuk M sejak M kecil hingga ia dewasa sehingga tabungan tersebut sudah terkumpul jutaan bath. Tidak hanya itu, pohon delima yang ia tanam di depan rumah sudah berbuah dan tidak boleh diambil oleh siapa pun karena hanya untuk cucu tertua. Hal ini semakin mengingatkan penonton pada nenek mereka, apalagi mereka yang sudah tinggal bersama nenek ketika kecil.

Film ini diangkat dengan ide sederhana, yaitu hubungan ibu dengan anak serta nenek dengan cucu. Namun, dikemas dengan cara sederhana tanpa ada scene yang berlebihan. Hal ini terlihat dari komentar-komentar penonton di sosial media, di antaranya seperti berikut,

“How to make millions before grandma dies 10/10, baru keluar bioskop udah pengen balik nonton lagi. Plotnya ringan dan enjoyable terus lucunya ada sedihnya juga ada (brutal). Suka sinematografinya juga, refreshing, overall seru pokoknya, ga bakal lupa pengalaman nonton film ini” unggahan di akun X oleh @ritsuika

“Ada aja bahan untuk menangis, hari ini gara-gara how to make millions before grandma dies wkwk gitu deh. Semua nenek di seluruh dunia kayaknya kalau cucunya datang yang ditanya paling pertama “udah makan atau belum?” gw langsung nyes, sekarang udah ga ada lagi yang nanya” unggahan di akun X oleh @ppnnaaaa

Film yang dibuat dengan cara sederhana ternyata tetap bisa meninggalkan kesan yang mendalam bagi pononton, apalagi cerita tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mungkin saja dialami oleh penonton. Selain itu, saat ini sosial media juga menjadi atau memiliki peran penting dalam “meng-iklankan” sebuah film sehingga dapat meningkatkan jumlah penonton. Namun, terlepas dari itu semua, film ini mengingatkan penonton untuk kembali meluangkan waktunya bersama keluarga karena momen bersama keluarga tidak bisa didapatkan lagi ketika seorang ibu dan nenek sudah tidak ada. Seorang ibu tidak membutuhkan uang dari anak dan cucunya, tetapi waktu anak cucu yang datang untuk mengunjunginya.

Tags: #Film#Rizky Amelya Furqan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Melepas Rindu pada Indonesia di Sasang-gu

Berita Sesudah

“Playing Victim” dan Karakter Manipulatif

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Berita Sesudah
Manfaat Buku bagi Anak di Bawah Usia Tiga Tahun

“Playing Victim” dan Karakter Manipulatif

Discussion about this post

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024