Senin, 02/3/26 | 20:53 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Batik, Hati, dan Komunikasi: Pengalaman Bersama Teman Tuli

Minggu, 26/5/24 | 11:29 WIB
Satu Tikungan Lagi

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Dalam beberapa hari lalu, saya mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pelatihan membatik. Sebenarnya kegiatan pelatihan membatik bukan hal baru, karena dalam dua tahun terakhir saya sering terlibat dalam kegiatan serupa. Kebetulan tempat saya berkegiatan, lembaga SURI (Surau Intellectual for Conservation) memperoleh program Danaindonesiana untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Menariknya, pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh lembaga SURI selalu menggunakan motif-motif dari pengembangan iluminasi manuskrip Minangkabau. Namun, untuk pelatihan yang baru dilaksanakan ini kami melibatkan teman-teman penyandang disabilitas tunarungu. Tentu saja, hal ini menjadi pengalaman yang unik dan pertama bagi saya.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Pengalaman pelatihan itu mengajarkan saya banyak hal. Hal paling berkesan bagi saya bahwa komunikasi bukan hanya tetang suara, tetapi juga tentang hati yang terbuka. Saya menyadari bahwa setiap individu memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri, yang dapat bersinar jika diberi kesempatan.

Lebih dari sekadar pelatihan membatik, pengalaman ini adalah tentang menghargai perbedaan dan menemukan keindahan dalam setiap langkah yang kita ambil bersama. Namun di balik kebersamaan dalam pelatihan itu, ada hal yang membuat saya tertegun tentang persitilahan yang sering digunakan, tunarungu atau difabel rungu.

Melalui Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang mendampingi kegiatan ini, ia mengatakan bahwa teman-teman penyandang difabel rungu lebih suka dipanggil dengan sebutan Teman Tuli. Bagi mereka istilah tunarungu/difabel rungu dipahami memiliki konotasi negatif. Penjelasan dari JBI, tunarungu dimaknai sebagai penyakit atau istilah dalam dunia medis.

Istilah Teman Tuli (mengunakan kapital T) lebih disukai bagi mereka karena dimaknai sebagai identitas. Sejak itu, saya selalu menggunakan istilah Teman Tuli saat berkomunikasi dengan mereka (sering dibantu dengan Juru Bahasa Isyarat).

Pengalaman ini telah membuka hati dan pikiran saya. Dalam setiap gerakan tangan, senyuman, dan tatapan mata, saya menemukan keindahan yang begitu murni dari komunikasi tanpa suara. Menghargai perbedaan bukanlah sekadar menerima keberadaan mereka, tetapi juga merangkul dan memperlakukan mereka sebagai bagian integral dari kehidupan kita.

Teman Tuli telah mengajarkan saya bahwa setiap individu memiliki cara unik untuk berinteraksi dengan dunia. Dalam keberagaman inilah letak kekuatan sejati kita sebagai masyarakat. Saya merasa terhormat bisa berbagi waktu dan ruang dengan mereka, belajar tidak hanya tentang seni membatik, tetapi juga tentang seni berkomunikasi dan menghargai setiap langkah kecil dalam perjalanan hidup.

Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan saya tentang batik, tetapi juga memperdalam pemahaman saya tentang arti kebersamaan dan saling menghormati. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu membuka hati dan pikiran, menerima setiap individu apa adanya, dan menyadari bahwa di balik setiap perbedaan, terdapat keindahan yang menunggu untuk ditemukan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Buah Cinta Si Qomar” Karya Hayat Mardhotillah dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Susyi, Kimci, Piza, dan Kuliner Khas dari Negara Lain

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Kata “dalem“ dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Susyi, Kimci, Piza, dan Kuliner Khas dari Negara Lain

Discussion about this post

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024