Selasa, 17/2/26 | 10:29 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Persepsi Publik Terhadap Penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia

Minggu, 12/11/23 | 07:00 WIB

Oleh: Amaluddin Sope
(Dosen Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo)

 

Kawan Scientia, Kota Yogyakarta yang lahir dari adanya Perjanjian Gianti pada 13 Februari 1755, adalah salah satu dari kota bersejarah di Indonesia yang menyimpan kekayaan warisan budaya. Namun, ada yang menarik dari kota yang memiliki jargon “berhati nyaman” ini, tata ruang kotanya bukanlah pembangunan tanpa makna sebagaimana kota-kota lain di Indonesia, melainkan ada makna filosofi yang tersirat dari setiap penempatan bangunan. Kota ini membentang dari arah utara (Merapi) ke selatan (Laut Selatan) sebagai sumbu imajiner, di antaranya berdiri Tugu Golong Gilig/Tugu Jogja di sisi utara, Keraton Yogyakarta sebagai pusat filosofi, dan Panggung Krapyak di sisi selatan. Apabila ditarik garis lurus, akan terbentuk garis yang disebut dengan Sumbu Filosofi Yogyakarta.

BACAJUGA

No Content Available

Sumbu Filosofi Yogyakarta adalah simbol harmoni (keselarasan dan keseimbangan) hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah), sesama manusia (Hablun min Annas), dan manusia dengan alam, termasuk unsur kehidupan dan pembentuknya (api dari Gunung Merapi, tanah dari bumi Ngayogyakarta, air dari Laut Selatan, angin, dan langit). Keseluruhannya terinspirasi dari konsep filosofi Jawa, Sangkan Paraning Dumadi, dan oleh Sultan Hamengku Buwana I mengubahnya menjadi konsep filosofi Islam Jawa “Hamemayu Hayuning Bawana” dan “Manunggaling Kawula Ian Gusti”.

Foto 1. Tugu Golong Gilig/ Tugu Jogja (Sumber: Dokumen Pribadi, 2023)

Kawan Scientia, ide brilian Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I ) yang tertuang dalam tata ruang kota Yogyakarta, pada tanggal 18 september 2023 bertempat di Arab Saudi, Komite Warisan Dunia UNESCO dalam sidang luar biasa menetapkan The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks sebagai warisan dunia setelah melewati proses pengajuan sejak tahun 2014. Akhirnya, sumbu filosofi Yogyakarta dapat setara dengan situs-situs warisan dunia lainnya karena memenuhi kriteria (ii) dan (iii) Outstanding Universal Value (OUV) UNESCO.

Menyikapi penetapan tersebut, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat DI Yogyakarta-Jawa Tengah bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF) Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan sarasehan pada tanggal 16 Oktober 2023 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, melibatkan perwakilan tokoh masyarakat, akademisi, perwakilan perkumpulan pengusaha Malioboro (PPMAY) yang berada di area garis sumbu filosofi. Kegiatan sarasehan yang mengambil tema persepsi publik terhadap penetapan The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks sebagai warisan dunia ini berjalan lancar dan mendapat apresiasi positif dari narasumber dan peserta sarasehan.

Dalam sarasehan tersebut, hadir juga Kepala BPKSF, Dwi Agung Hernanto yang merespon persepsi publik terhadap penetapan sumbu filosofi Yogyakarta. Saat itu, BPKSF sedang mengupayakan beberapa kegiatan sosialisasi yang melibatkan berbagai stakeholder terkait setelah sebelumnya sosialisasi hanya dilakukan melalui media sosial.

Ini adalah langkah awal yang dilakukan untuk mengetahui persepsi publik terhadap penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Hasilnya, kita mengetahui beragam persepsi publik, terutama masyarakat yang tinggal dan mencari nafkah di sekitar garis sumbu filosofi. Persepsi masyarakat diwakilkan oleh Bapak Mustofa W. Hasyim, seorang budayawan dan juga tokoh masyarakat. Ada yang menjadi tanda tanya besar bagi beliau, mengapa penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta tidak seperti penetapan wayang, batik, dan pencak silat yang relatif mendapat respon positif dari masyarakat? Beragam jawaban muncul dari masyarakat ketika ditanya tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta. Ada yang tidak tahu, ada yang menganggap persoalan lain lebih mendesak misalnya persoalan sampah, dan ada yang mengapresiasi sumbu filosofi.

Foto 2. Narasumber BPKSF dan peserta Sarasehan/Anggota IAAI Komda DIY-Jateng (Sumber: Dokumentasi IAAI Komda DIY-Jateng, 2023)

Lain hal dengan persepsi pengusaha yang diwakilkan oleh Bapak Sadikin, mereka mempunyai persepsi yang relatif positif. Awalnya, para pengusaha tidak tahu mengenai sumbu filosofi namun setelah intens berinteraksi dengan dinas kebudayaan barulah mereka mengetahui tentang sumbu filosofi yang melewati area pertokoan mereka. Para pengusaha mendukung adanya penetapan sumbu filosofi sebagai warisan dunia karena akan menjadi milik bersama dan berharap adanya edukasi mengenai sumbu filosofi tersebut kepada wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Kemudian, informasi persepsi publik dari Dwi Pradnyawan, seorang pengajar di Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada dalam sebuah sarasehan. Beliau juga adalah masyarakat yang tinggal di area sumbu filosofi. Menurutnya, penetapan sumbu filosofi sebagai warisan dunia menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat, ada yang mengapresiasi sebagai prestasi dan kebanggaan dan ada yang skeptis dengan eksistensi sumbu filosofi. Hal yang paling penting setelah satu bulan penetapannya sebagai warisan dunia adalah memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kesadaran pelestarian sumbu filosofi Yogyakarta pada semua kalangan.

Tags: #Amaluddin Sope
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Ekspedisi Maut di Gunung Sorik Marapi” Karya Muttaqin Kholis Ali dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Hambatan Metamorfosis Usaha Kecil Mikro

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
Hambatan Metamorfosis Usaha Kecil Mikro

Hambatan Metamorfosis Usaha Kecil Mikro

Discussion about this post

POPULER

  • Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

    Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024