Sabtu, 17/1/26 | 09:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

Minggu, 12/11/23 | 16:59 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Kegiatan tulis-menulis tidaklah segampang yang terlihat. Banyak orang mengalami hambatan dalam menulis karena tidak paham dengan teknik menulis. Menulis merupakan keterampilan dalam menyampaikan ide atau gagasan dalam bentuk jalinan kata dan konjungsi menjadi sebuah teks yang bermakna dan dapat diterima oleh logika. Tidak sedikit orang yang kewalahan saat menulis karena tidak menguasai teknik dan tidak terampil dalam merangkaikan kata dengan konjungsi. Alhasil, kalimat yang ditulis tidak bisa dipahami, kehilangan makna, dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Salah satu keterampilan yang mesti diasah oleh seorang penulis agar dapat menghasilkan kalimat yang baik dan dapat diterima logika adalah harus paham teknik penggunaan kata penghubung atau konjungsi. Konjungsi didefinisikan sebagai partikel yang digunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan kalimat, atau paragraf dengan paragraf (Kridalaksana, 2008). Jika konjungsi tidak digunakan dengan baik, sebuah kalimat hanyalah tumpukan kata yang acak-acakan dan tidak dapat dimaknai karena tidak ada jembatan yang merangkaikan kata-kata tersebut menjadi sebuah jalinan kalimat yang indah, paragraf yang apik, dan teks yang kaya makna.

Kata penghubung cukup banyak ragamnya. Ada kata penghubung antarkalimat dalam paragraf, contohnya Oleh sebab itu, Dengan demikian, Selain itu, Selanjutnya, Kemudian, dan sebagainya. Selain itu, ada kata penghubung intrakalimat atau kata-kata yang menghubungkan antarklausa dalam sebuah kalimat, seperti dan, sedangkan, tetapi, atau, sebab, akibatnya, karena, maka, sehingga, agar, jika, dan lain-lain. Para ahli bahasa juga membagi konjungsi dengan jumlah yang beragam, seperti Kridalaksana (2008) membagi konjungsi atas sembilan, yaitu 1. konjungsi adversatif, 2. konjungsi ekstratekstual, 3. konjungsi ingkar, 4. konjungsi intrakalimat, 5. konjungsi intratekstual, 6. konjungsi kausal, 7. konjungsi koordinatif, 8. konjungsi korelatif, dan 9. konjungsi subordinatif.

Dalam klinik bahasa edisi ini, kita tidak akan membahas semua jenis konjungsi. Kita hanya akan membicarakan penggunaan salah satu konjungsi yang sering keliru digunakan dalam tulis-menulis. Keliru menggunakan konjungsi sama halnya dengan menyajikan tumpukan kata yang acak-acakan tanpa makna. Penggunaan konjungsi yang sering keliru tersebut adalah konjungsi antarkalimat dalam paragraf yang menyatakan makna kausal atau sebab akibat.

BACAJUGA

Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Literasi Semiotika dan Hermeneutika untuk Bencana

Senin, 08/12/25 | 07:55 WIB

Konjungsi antarkalimat yang menyatakan makna kausal atau kausalitas dalam bahasa Indonesia terbagi atas dua, yaitu Oleh sebab itu dan Oleh karena itu. Kedua konjungsi kausalitas itu banyak digunakan dalam paragraf atau teks-teks deskriptif, naratif, dan eksposisi. Konjungsi kausalitas berfungsi untuk menyatakan makna kausalitas atau sebab akibat yang diakhiri dalam bentuk kesimpulan. Konjungsi ini sering digunakan dalam latar belakang dalam karya ilmiah maupun pada bagian akhir sebuah teks naratif yang didahului dengan rincian atau penjelasan induktif dan diakhiri oleh kesimpulan deduktif.

Penggunaan konjungsi Oleh sebab itu dapat dilihat pada contoh paragraf di bawah ini.

Aida sering terlambat masuk kantor. Ia juga sering salah dalam menyampaikan pendapat ketika rapat. Ia juga kerap kali keliru dalam menyelesaikan tugas yang diberikan atasan. Bahkan, Aida juga tidak luput dari keteledoran dalam menyelesaikan laporan keuangan. Oleh sebab itu, Aida diskors atasannya selama satu bulan.

Paragraf di atas berisi kalimat-kalimat yang menyatakan sebab Aida diskors yang terletak pada bagian awal dan kemudian diakhiri dengan kalimat akibat yang ditandai dengan penggunaan konjungsi kausalitas Oleh sebab itu.  Selain contoh penggunaan konjungsi Oleh sebab itu, penggunaan konjungsi Oleh karena itu dapat dilihat pada contoh paragraf di bawah ini.

Atta Halilintar adalah contoh anak muda sukses yang suka menyumbangkan sebagian hartanya untuk membantu orang susah. Ia tidak perhitungan dan ringan tangan saat memberikan bantuan. Salah satu sumbangan yang diberikan YouTuber terkenal itu baru-baru ini adalah sumbangan untuk korban penjajahan Israel di Palestina. Oleh karena itu, wajar saja jika warganet menyebut Atta sebagai anak muda yang rendah hati, pemurah, patut dicontoh, dan diteladani.    

Selain konjungsi Oleh sebab itu dan Oleh karena itu, konjungsi Maka dari itu juga sering digunakan sebagai konjungsi yang menandakan hubungan kausalitas. Penggunaan konjungsi Maka dari itu sebagai konjungsi kausalitas merupakan bentuk yang keliru, tidak tepat, tidak baku, dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Alasan konjungsi Maka dari itu disebut keliru, tidak tepat, dan tidak benar adalah karena konjungsi ini terbentuk dari kata maka yang merupakan jenis konjungsi kausalitas intrakalimat atau konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan dua klausa di dalam kalimat. Sebagai bentuk yang tidak baku dan tidak tepat, konjungsi Maka dari itu tidak dianjurkan untuk digunakan dalam tulisan ilmiah ataupun semiilmiah. Penggunaan konjungsi Maka dari itu sebagai konjungsi kausalitas yang tidak tepat dapat dilihat pada contoh paragraf di bawah ini.

Dalam pemberitaan yang terbit di beberapa media nasional hari ini, rumput Jakarta International Stadion (JIS) menjadi sorotan. Rumput stadion tempat berlangsungnya pertandingan Piala Dunia U-17 itu terlihat jelek dan kurang segar dari televisi. Ada beberapa pernyataan dari warganet yang menyebut bahwa rumput JIS terlihat lebih jelek daripada Stadion Manahan, Solo dan juga Stadion Bung Tomo, Surabaya. Maka dari itu, Arya Sinulingga, Komite Eksekutif Persatuan Sepakbola Indonesia, menyarankan untuk melihat langsung kondisi rumput tersebut di lapangan karena kondisi pencahayaan masing-masing televisi penonton berbeda-beda dan menyebabkan rumput JIS terlihat jelek.

Penggunaan konjungsi Maka dari itu pada paragraf di atas merupakan bentuk yang tidak tepat. Penggunaan konjungsi kausalitas yang tepat dan benar untuk menggantikan konjungsi tersebut adalah Oleh sebab itu karena kata sebab menunjukkan makna lebih aktif dan merupakan jenis kata benda (nomina) yang dapat mengalami proses morfologis berupa penambahan kata di depan ataupun di belakangnya, seperti penambahan kata oleh dan itu pada Oleh sebab itu. Kemudian, Oleh karena itu berasal dari kata karena yang berstatus sebagai konjungsi. Seyogyanya, konjungsi mempunyai fungsi sebagai jembatan penghubung antarkata dalam sebuah kalimat, bukan antarkalimat dalam sebuah paragraf. Persoalan penggunaan konjungsi terlihat sepele dan remeh, tetapi sangat berperan dalam  menentukan kualitas kelogisan makna, estetika, dan keberterimaan sebuah tulisan.

Jika ketiga konjungsi yang menunjukkan makna kausalitas tersebut digunakan dalam tiga tulisan yang berbeda, tulisan yang paling layak mendapat nilai terbaik adalah tulisan yang menggunakan konjungsi Oleh sebab itu karena konjungsi tersebut merupakan bentuk yang tepat dan juga terbentuk dari proses yang mengikuti kaidah pembentukan kata dalam bahasa Indonesia.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerita dari Langkah Kaki Pengguna Sepatu Kets

Berita Sesudah

Mampir Sebentar di Distrik Gangnam

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Minggu, 04/1/26 | 21:16 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih (Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)    Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan...

Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Kata majemuk atau kompositum sering menjadi problem dalam...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Perbedaan Frasa “Sepatu Baru” dan “Sepatu yang Baru”

Minggu, 21/12/25 | 08:22 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Dari judul...

Serba-serbi Kritik Sosial Habis Lebaran

Penulisan Nama dalam Bahasa Asing

Minggu, 21/12/25 | 07:51 WIB

  Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu hari saya mendapat...

Berita Sesudah

Mampir Sebentar di Distrik Gangnam

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda Tunggakan Air PDAM Padang Naik Bertahap, Pelanggan Terancam Diputus Tanpa Pemberitahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024