Senin, 02/3/26 | 20:33 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Mendongeng

Minggu, 16/4/23 | 09:14 WIB
Maskulinitas dalam Iklan Sampo Head & Shoulders

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Keberadaan karya sastra dapat menjadi media penyampaian informasi kepada anak-anak. Hal ini dapat dilakukan ketika anak mulai mengembangkan kemampuan berbicara. Biasanya anak aktif bertanya tentang apa pun yang menarik perhatiannya sehingga tidak jarang orang tua merasa kewalahan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

BACAJUGA

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB
Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Nurgiyantoro dalam bukunya Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) mengatakan bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan informasi pada anak dengan cara membacakan buku maupun menyediakan buku bacaan sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak. Orang tua juga dapat menyesuaikan buku bacaan yang disediakan untuk anak, misalnya pada usia 6-18 bulan. Buku bacaan sebaiknya didominasi oleh gambar ketimbang teks karena anak belum memahami huruf namun anak mulai dapat mengenal berbagai bentuk dan warna. Membacakan buku tidak hanya memberikan kesenangan bagi orang tua dan anak, tetapi juga dapat menambah kosakata dan meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara.

Pada tahapan selanjutnya, saat anak menginjak usia 2-3 tahun, anak sudah mulai mengembangkan imajinasi, serta meniru dan menyerap berbagai informasi yang ada di sekitarnya. Dalam hal ini orang tua mulai dapat memberikan buku dengan muatan gambar dan teks yang seimbang. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan pendampingan dan pemahaman terhadap buku bacaan yang diberikan pada anak. Misalnya cerita dongeng yang tokohnya berupa binatang yang bisa berbicara. Dalam hal ini biasanya terdapat tokoh-tokoh binatang yang memiliki sifat saling berlawanan. Tokoh binatang yang memiliki sifat jahat biasanya akan mendapatkan kesulitan atau tokoh binatang yang baik akan tampil sebagai pahlawan. Sastra anak tidak hanya menghadirkan fungsi kesenangan dan peningkatan aspek kognitif anak, tetapi juga memberikan pendidikan dan pengetahuan. Aspek pendidikan dan pengetahuan dapat berupa penanaman nilai-nilai kebaikan serta perilaku yang tidak boleh ditiru.

Mengajar dan mendidik anak merupakan kewajiban orang tua. Penanaman nilai-nilai kebaikan dan kejujuran dapat dilakukan salah satunya dengan cara mendongeng. Tradisi mendongeng telah berlangsung sejak turun temurun. Namun, bagi orang tua yang tidak terlalu mahir dalam mendongeng, terdapat alternatif lain seperti membacakan buku. Cerita dongeng yang dibukukan merupakan bentuk pelestarian dongeng-dongeng yang sebelumnya disebarluaskan secara lisan. Perubahan tradisi lisan dalam bentuk buku cetak memperlihatkan zaman yang semakin bergerak maju menuju kepada pemanfaatan teknologi yang ditandai dengan munculnya karya sastra berformat digital. Perkembangan teknologi kemudian mengubah kebiasaan anak dalam membaca. Kerap ditemukan anak yang berkurang minat bacanya karena teralihkan oleh gawai seperti televisi, tablet, hingga video game.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca anak adalah melalui pemanfaatan teknologi dengan cara digitalisasi sastra anak. Digitalisasi sastra anak dapat dimaknai sebagai usaha untuk mempertahankan keberadaan karya sastra dengan menyajikan konten menarik yang dapat menarik minat baca anak. Selain itu, peran orang tua juga sangat dibutuhkan dalam memberikan konten yang bersifat edukatif, serta memberikan pengawasan saat anak mendapatkan screen time. Tentunya pemilihan konten-konten tersebut harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Karya sastra anak berbentuk digital memiliki beberapa bentuk, mulai dari buku elektronik, text to speech berupa buku yang dilengkapi suara, animation to speech berarti buku bergambar yang disajikan dalam bentuk animasi bergerak, book and animation, yaitu sastra berbentuk buku yang tersambung dengan sebuah aplikasi digital, hingga complex book yang memungkinkan anak dapat berinteraksi dengan sesama pembaca cerita (Khasanah, 2018).

Ada satu kanal yang menyediakan konten sastra anak digital bernama @suaradongengid5711. Selain dapat diakses melalui YouTube, Suara Dongeng juga tersedia di Instagram dan tiktok. Akun Suara Dongeng dikelola oleh Alifia, alumnus Universitas Negeri Padang yang menyukai dongeng. Penulis menemukan konten ini melalui Syafni Aulia, mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Syafni mengatakan bahwa Alifia mengelola akun tersebut seorang diri, mulai dari membuat konsep cerita, mengedit video, hingga menambahkan suara. Dongeng-dongeng yang terdapat kanal ini menghadirkan binatang sebagai tokoh-tokohnya, seperti semut, kadal, rubah, hingga beruang. Kanal ini dapat dinikmati oleh orang-orang dari berbagai usia karena bahasa yang digunakan dalam setiap ceritanya adalah bahasa sehari-hari. Kanal ini tentunya menjadi alternatif tontonan yang menghibur bagi anak-anak sebagai bentuk pemanfaatan teknologi digital.

Dongeng Rubah yang Licik menceritakan seekor rubah yang terjatuh ke dalam sumur. Rubah berusaha untuk keluar dari sumur tersebut namun tidak berhasil hingga akhirnya ia ditemukan oleh seekor kambing. Rubah menjebak kambing masuk ke dalam sumur. Kambing yang sedang kehausan pun setuju. Keduanya terjebak di dalam sumur. Rubah memberikan ide pada kambing agar mereka dapat keluar bersama-sama, tetapi pada akhirya hanya rubah yang berhasil keluar dari sumur dan meninggalkan kambing sendirian. Selanjutnya, pada dongeng berjudul Beruang dan Lebah diceritakan seekor beruang yang diserang sekelompok lebah. Beruang merasa marah dan bermaksud menghancurkan sarang lebah. Hal itu kemudian memicu keluarnya lebih banyak kawanan lebah hingga mereka menyerang beruang untuk kedua kalinya.

Aspek-aspek seperti gambar bergerak, suara, musik, serta cerita yang terdapat dalam Suara Dongeng ditampilkan dengan sederhana namun semuanya saling mendukung untuk menghadirkan sebuah konten yang tidak hanya menghibur, tetapi kanal ini juga menyisipkan pesan moral di akhir cerita. Seperti pada Rubah yang Licik, tokoh rubah yang jahat tidak selalu dibuat kalah, tetapi menghimbau kepada pembaca agar lebih berhati-hati sebelum bertindak karena tidak semua orang memiliki niat yang baik. Kemudian, pada Beruang dan Lebah, amanat dan pesan moral diperlihatkan melalui pentingnya untuk tidak terbawa emosi ketika sedang marah karena marah hanya akan merugikan diri sendiri. Dengan demikian, kanal Suara Dongeng merupakan bentuk pemanfaatan teknologi digital dalam mendongeng sebagai hal positif, yaitu untuk meningkatkan minat baca anak, memberikan alternatif tontonan pada anak, serta mengajarkan nilai-nilai kebaikan.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Nama-nama Kue Lebaran

Berita Sesudah

Tradisi Buka Puasa Bersama Tak Lekang oleh Waktu

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Berita Sesudah
Peran Latar Tempat dalam Perfileman Horor Indonesia

Tradisi Buka Puasa Bersama Tak Lekang oleh Waktu

Discussion about this post

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Tahun Duo Srikandi Dharmasraya, Pendidikan dan OVOP Jadi Andalan Bangun Ekonomi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024