Rabu, 17/6/26 | 10:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memahami Pedagogi dan Andragogi dalam Pembelajaran

Minggu, 13/3/22 | 07:06 WIB

Oleh:
Rona Almos, S.S., M.Hum.
(Dosen Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Pedagogi merupakan ilmu yang membicarakan persoalan-persoalan dalam bidang pendidikan, seperti cara melaksanakan pendidikan, tujuan pendidikan, serta pendidik dan anak didik. Menurut Sulaiman (2004), pedagogi adalah metode dalam pengajaran mengikuti berbagai aspek dalam kaitannya dengan penyampaian ilmu. Pedagogi dapat juga di artikan sebagai keterampilan dalam mengajar yang digunakan oleh seorang guru untuk menyampaikan pengetahuan yang khusus dalam suatu bidang kepada muridnya. Gurulah di sini yang menjadi fasilisatornya untuk menyampaikan informasi, memberikan kemudahan dengan mengunakan metode-metode tertentu (yang membuat peserta didik semangat, nyaman dan menyenangkan) dalam proses pembelajaran kepada peserta didiknya.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Berdasarkan UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dan diperjelas lagi oleh Permendiknas Nomor 16 tahun 2007, seorang guru yang bekerja sebagai sebuah profesi harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogi, kepribadian, profesional, dan kompetensi sosial (Marlina, 2019). Dari keempat kompetensi di atas, pedagogi berada pada urutan yang pertama artinya seorang guru harus mampu memahami kemampuan yang dimiliki oleh seorang murid melalui berbagai cara.

Stepen Pew (2007) mendefenisikan pedagogi sebagai “seorang guru sekolah”. Dalam pedagogi, seorang guru akan memikul tanggung jawab untuk membuat suatu keputusan tentang apa yang dipelajari, bagaimana dan kapan sesuatu itu akan dipelajari.  Pedagogi dapat digunakan untuk merujuk pada seluruh domain tanggung jawab kepada anak-anak, untuk kesejahteraan, pembelajaran, dan kompetensi mereka. Artinya gurulah yang menjadi pusatnya.

Sementara itu, andragogis adalah seni dan ilmu yang membantu orang dewasa belajar. Hakikat andragogik adalah bagaimana seorang pendidik membantu peserta didik dalam proses pembelajaran. Fokus pendidikan dalam pedagogi adalah pada transmisi, dalam lingkungan yang sangat dikontrol oleh seorang guru. Fokus pendidikan pada andragogi adalah memfasilitasi perolehan dan pemikiran kritis tentang konten dan penerapannya dalam pengaturan praktis kehidupan nyata. Dalam model andragogi, ada lima pernyataan:1). Memberi tahu peserta didik mengapa sesuatu itu penting untuk dipelajari; 2). menunjukkan kepada peserta didik bagaimana mengarahkan diri mereka sendiri melalui informasi; 3). menghubungkan topik dengan pengalaman peserta didik. Selain itu; 4). orang tidak akan belajar sampai mereka siap dan termotivasi untuk belajar; 5). Hal ini membutuhkan bantuan untuk mengatasi hambatan, perilaku, dan keyakinan tentang belajar.

Rachal (2002) menyatakan bahwa andragogi juga menyerukan kontrol pelajar, ukuran perolehan pengetahuan berdasarkan standar kinerja, dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang masih memandang orang lain untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka akan menemukan lingkungan pedagogis yang lebih nyaman. Profesor yang berakar pada andragogi akan berusaha mengabdikan sebagian besar waktu mereka untuk mengajar, bukan memotivasi. Mereka yang mempraktikkan model pedagogis dalam lingkungan pendidikan tinggi dengan siswa dewasa mungkin menemukan upaya pengajaran mereka sebagai waktu dan tenaga lebih dicurahkan untuk mendorong dan memotivasi peserta didik daripada mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan konsep bidang studi. Motivator internal seperti pencarian untuk pengetahuan menopang siswa.

Dalam penerapan prinsip pedagogi, peserta didik memiliki keleluasaan untuk menentukan kesepakatan dalam proses dalam pembelajaran agar para peserta didik merasakan pembelajaran yang lebih kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai serta dapat memunculkan minat peserta didik dalam belajar. Hal ini sesuai dengan teori konstruktivisme yang membangun kemandirian dalam berpikir dan mengeksplorasikan pengetahuannya (Hasyim, 2015).

Tags: #Rona Almos
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

“Sumbu” Wujud Kerja Nyata Kuflet di Ranah Sastra

Berita Sesudah

Puisi-puisi Bambang Kariyawan Ys dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Bambang Kariyawan Ys dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi Bambang Kariyawan Ys dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pendokumentasian” dan Cultural Tourism

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aplikasi Sepakat Inovasi Pemprov Sumbar Tingkatkan Layanan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026