Minggu, 13/9/26 | 15:32 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memahami Pedagogi dan Andragogi dalam Pembelajaran

Minggu, 13/3/22 | 07:06 WIB

Oleh:
Rona Almos, S.S., M.Hum.
(Dosen Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Pedagogi merupakan ilmu yang membicarakan persoalan-persoalan dalam bidang pendidikan, seperti cara melaksanakan pendidikan, tujuan pendidikan, serta pendidik dan anak didik. Menurut Sulaiman (2004), pedagogi adalah metode dalam pengajaran mengikuti berbagai aspek dalam kaitannya dengan penyampaian ilmu. Pedagogi dapat juga di artikan sebagai keterampilan dalam mengajar yang digunakan oleh seorang guru untuk menyampaikan pengetahuan yang khusus dalam suatu bidang kepada muridnya. Gurulah di sini yang menjadi fasilisatornya untuk menyampaikan informasi, memberikan kemudahan dengan mengunakan metode-metode tertentu (yang membuat peserta didik semangat, nyaman dan menyenangkan) dalam proses pembelajaran kepada peserta didiknya.

BACAJUGA

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB
Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Berdasarkan UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dan diperjelas lagi oleh Permendiknas Nomor 16 tahun 2007, seorang guru yang bekerja sebagai sebuah profesi harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogi, kepribadian, profesional, dan kompetensi sosial (Marlina, 2019). Dari keempat kompetensi di atas, pedagogi berada pada urutan yang pertama artinya seorang guru harus mampu memahami kemampuan yang dimiliki oleh seorang murid melalui berbagai cara.

Stepen Pew (2007) mendefenisikan pedagogi sebagai “seorang guru sekolah”. Dalam pedagogi, seorang guru akan memikul tanggung jawab untuk membuat suatu keputusan tentang apa yang dipelajari, bagaimana dan kapan sesuatu itu akan dipelajari.  Pedagogi dapat digunakan untuk merujuk pada seluruh domain tanggung jawab kepada anak-anak, untuk kesejahteraan, pembelajaran, dan kompetensi mereka. Artinya gurulah yang menjadi pusatnya.

Sementara itu, andragogis adalah seni dan ilmu yang membantu orang dewasa belajar. Hakikat andragogik adalah bagaimana seorang pendidik membantu peserta didik dalam proses pembelajaran. Fokus pendidikan dalam pedagogi adalah pada transmisi, dalam lingkungan yang sangat dikontrol oleh seorang guru. Fokus pendidikan pada andragogi adalah memfasilitasi perolehan dan pemikiran kritis tentang konten dan penerapannya dalam pengaturan praktis kehidupan nyata. Dalam model andragogi, ada lima pernyataan:1). Memberi tahu peserta didik mengapa sesuatu itu penting untuk dipelajari; 2). menunjukkan kepada peserta didik bagaimana mengarahkan diri mereka sendiri melalui informasi; 3). menghubungkan topik dengan pengalaman peserta didik. Selain itu; 4). orang tidak akan belajar sampai mereka siap dan termotivasi untuk belajar; 5). Hal ini membutuhkan bantuan untuk mengatasi hambatan, perilaku, dan keyakinan tentang belajar.

Rachal (2002) menyatakan bahwa andragogi juga menyerukan kontrol pelajar, ukuran perolehan pengetahuan berdasarkan standar kinerja, dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Siswa yang masih memandang orang lain untuk bertanggung jawab atas pembelajaran mereka akan menemukan lingkungan pedagogis yang lebih nyaman. Profesor yang berakar pada andragogi akan berusaha mengabdikan sebagian besar waktu mereka untuk mengajar, bukan memotivasi. Mereka yang mempraktikkan model pedagogis dalam lingkungan pendidikan tinggi dengan siswa dewasa mungkin menemukan upaya pengajaran mereka sebagai waktu dan tenaga lebih dicurahkan untuk mendorong dan memotivasi peserta didik daripada mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan konsep bidang studi. Motivator internal seperti pencarian untuk pengetahuan menopang siswa.

Dalam penerapan prinsip pedagogi, peserta didik memiliki keleluasaan untuk menentukan kesepakatan dalam proses dalam pembelajaran agar para peserta didik merasakan pembelajaran yang lebih kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai serta dapat memunculkan minat peserta didik dalam belajar. Hal ini sesuai dengan teori konstruktivisme yang membangun kemandirian dalam berpikir dan mengeksplorasikan pengetahuannya (Hasyim, 2015).

Tags: #Rona Almos
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

“Sumbu” Wujud Kerja Nyata Kuflet di Ranah Sastra

Berita Sesudah

Puisi-puisi Bambang Kariyawan Ys dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Bambang Kariyawan Ys dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi Bambang Kariyawan Ys dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Musancab dan UKK DPAC PKB Padang Selesai, Yusri Latif: PKB Solusi Untuk Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026