Senin, 27/7/26 | 08:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Takjil, Interferensi bahasa Arab ke Bahasa Indonesia

Minggu, 09/5/21 | 07:00 WIB

 

Oleh: Elly Delfia (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Takjil sebuah istilah yang populer pada bulan Ramadan. Istilah takjil populer digunakan dalam bulan Ramadan bersama beberapa istilah dari bahasa Arab, seperti iktikaf, iftar, saum, qiamulail, tarawih, qada, dan fidiah. Semua kata tersebut sudah masuk ke dalam lema atau entri Kamus Besar Bahasa Indonesia daring tanpa perlu dimiringkan penulisannya. Takjil merupakan salah satu contoh kata yang mengalami intererensi dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.

Interferensi adalah istilah pertama kali digunakan oleh Weinreich (1953) yang menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual. Penutur bilingual merupakan penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian (Chaer, 2010:120). Interferensi juga bisa dilakukan oleh penutur multilingual atau penutur yang menguasai beberapa bahasa dalam bertutur. Interferensi dalam bahasa Indonesia terjadi karena pengaruh agama dan kebudayaan lain terhadap masyarakat Indonesia.

Interferensi juga terjadi pada kata takjil. Takjil berasal dari bahasa Arab ajila yang artinya ‘menyegerakan atau perintah untuk menyegerakan berbuka puasa’ (Kompas.com, 13 April, 2021). Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata takjil ada dua, yaitu 1) v(verba) mempercepat dalam berbuka puasa, 2) n(nomina) makanan untuk berbuka puasa. Kata takjil mengalami interferensi atau perubahan sistem (makna) dari makna aslinya dalam bahasa Arab verba ‘menyegerakan’ berubah menjadi nomina dalam bahasa Indonesia dengan arti ‘makanan untuk berbuka puasa’. Interferensi terbagi 4, yaitu 1) interferensi tataran fonologi (bunyi), 2) interferensi leksikal (kata), 3) interferensi tataran morfologi (gramatikal), dan 4) interferensi tataran sintaksis (tata kalimat) (Sukoyo, 2011:97). Intererensi yang terjadi pada kata takjil adalah interferensi leksikal atau interferensi berupa perubahan sistem kelas kata verba dalam dalam bahasa Arab menjadi nomina dalam bahasa Indonesia.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

Senin, 27/7/26 | 05:28 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

Minggu, 19/7/26 | 21:01 WIB

Faktor penyebab terjadinya interferensi dikutip dari Sukoyo (2011:101) yang meneliti interferensi dalam bahasa Jawa, di antaranya: 1) kedwibahasaan penutur, 2) tipisnya kesetiaan penutur dalam berbahasa asal (bahasa Ibu), 3) tidak cukupnya kosakata pada bahasa yang sudah ada dalam menghadapi kebaruan, 4) keterbatasan kemampuan penutur dalam menggunakan bahasa yang ada.

Selain mengalami interferensi, kata takjil juga tidak memiliki padanan dalam bentuk kata dalam bahasa Indonesia, seperti halnya kata dari bahasa Arab yang lain. Beberapa kata dari bahasa Arab yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki padanan, seperti kata saum padanan katanya ‘puasa’, iftar ‘berbuka’, dan qiamulail ‘salat malam’. Dalam bahasa Indonesia, takjil hanya memiliki padanan dalam bentuk frasa nomina berupa gabungan tiga, yaitu ‘makanan berbuka puasa’. Takjil justru memiliki padanan kata dalam bahasa daerah, seperti pabukoan dalam bahasa Minangkabau.

Fenomena interferensi ini tidak hanya terjadi dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dari bahasa asing lain, seperti dari bahasa Inggris, bahasa Cina, bahasa Belanda, bahasa Jepang, dan dari bahasa Korea yang belakangan menjadi kiblat baru anak muda Indonesia, seperti kata oppa, hyung (hyeong) atau bro, sist setara dengan sapaan akrab untuk kakak laki-laki dan perempuan dalam bahasa Inggris, lalu kata mukbang (siaran makan-makan di televisi), dan lain-lain.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

PLTU Teluk Sepang: Cendera Mata Kezaliman Penguasa

Berita Sesudah

Alarm Bumi

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

Senin, 27/7/26 | 05:28 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Linguistik FIB Universitas Andalas) Ada yang menarik dari konten...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

Minggu, 19/7/26 | 21:01 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Bahasa didefinisikan sebagai...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata bantu dan tolong...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

Minggu, 07/6/26 | 22:48 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa waktu lalu, saya menyunting beberapa buku....

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Memahami Makna Peribahasa “Muluik Manih Kucindan Murah”

Senin, 01/6/26 | 08:57 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan)   Minangkabau memiliki banyak peribahasa. Peribahasa merupakan kelompok...

Berita Sesudah
Alarm Bumi

Alarm Bumi

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko-DPRD Bukittinggi Resmi Setujui Revisi Perda Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Luncurkan Program Smart Surau untuk Makmurkan Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026