Jumat, 13/3/26 | 18:54 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

PKH dan Bahasa yang Memberdayakan

Minggu, 02/8/20 | 08:40 WIB
Oleh : Elly Delfia
(Dosen Linguistik Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Berbahasa sejatinya haruslah membangkitkan harapan. Berbahasa tidak seharusnya merendahkan atau mengecilkan arti diri seseorang atau sekelompok orang. Program Keluarga Harapan (PKH) yang digagas oleh pemerintah juga seharusnya memberikan harapan pada masyarakat untuk bangkit dari kemiskinan sesuai dengan namanya. Namun dalam praktiknya, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Pelaksanaan PKH sampai saat ini masih menyisakan berbagai permasalahan, seperti penyaluran yang belum merata, penerima yang tidak tepat sasaran, dan  lain-lain. Pemerintah tampak berusaha dengan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu caranya adalah membuat stiker yang berisi kalimat-kalimat penyadaran atau peringatan bagi masyarakat terkait dengan penerimaan PKH, seperti kalimat dalam stiker berikut ini:

“Saya benar keluarga miskin yang layak menerima PKH-Program BPNT/Sembako”

Ya Allah, sejahterakan keluarga saudara kami yang  miskin ini, tapi apabila mereka berpura-pura miskin maka azab-Mu amatlah pedih.

Dibaca sepintas lalu ataupun berkali-kali, ada masalah dengan kalimat di atas.  Kalimat pertama merupakan pernyataan yang dibuatkan dan ditujukan pada penerima keluarga PKH. Kalimat tersebut merupakan pengakuan yang dipaksakan pada penerima bahwa mereka adalah benar orang miskin. Sesungguhnya tidak ada seorang pun manusia yang mau disebut miskin apalagi dibuatkan pernyataan sebagai orang miskin, apalagi pernyataan tersebut ditempeli di pintu rumah mereka. Kemiskinan bukanlah hal yang patut dibanggakan dan diharapkan oleh semua orang. Secara tidak langsung kalimat pertama merendahkan martabat dan mempermalukan penerima PKH. Mereka dicap atau dilabeli sebagai keluarga miskin di tengah masyarakat. Seolah tidak ada lagi harapan bagi mereka. Kalimat pada baris kedua dan ketiga merupakan doa yang dipanjatkan kepada Tuhan agar keluarga miskin disejahterakan, namun di belakangnya ada klausa berisi doa yang terkesan mengancam dengan meminta Allah mendatang azab jika mereka berpura-pura miskin. Doa tersebut merupakan doa yang buruk, mendikte Tuhan, dan meragukan kinerja pemerintah sendiri yang telah melakukan survei lapangan dan mendata Kartu Keluarga (KK) untuk melihat layak atau tidaknya sebuah keluarga menerima PKH. Sebuah doa sejatinya dipanjatkan dengan kata-kata yang baik, dengan kalimat-kalimat yang penuh harapan, dan mengubah hidup ke arah yang positif. Namun dalam doa di atas, penerima PKH sudah direndahkan pada kalimat pertama serta dicurigai dan doakan mendapat azab pada kalimat kedua.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Secara keseluruhan kalimat di atas sudah melewati batas kesantunan berbahasa (language politness). Kesantunan berbahasa menunjukkan kesadaran akan martabat manusia lain saat setiap kalimat diucapkan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Menurut Lakoff (1973), kesantunan berbahasa dikembangkan oleh masyarakat guna mengurangi friksi dan interasi pribadi antara penutur dan lawan tutur. Ada tiga yang harus dipatuhi dalam kesantunan berbahasa, pertama formalitas (formality) artinya jangan terdengar memaksa atau angkuh dalam berbahasa, kedua, ketidaktegasan (hesitacy) artinya berbuat sedemikian rupa hingga mitra tutur menentukan pilihan sendiri, dan kesamaan atau kesekawanan (equality) artinya adanya kesamaan tindakan antara penutur dan mitra tutur. Dalam konsep kesantunan berbahasa, kalimat dan kata-kata yang diucapkan penutur tidak boleh menghilangkan muka atau mempermalukan mitra tutur atau lawan bicara. Dalam kalimat di atas, penutur adalah pihak pemerintah dan mitra tutur adalah keluarga penerima PKH yang dikondisikan seolah mereka yang bertutur. Kalimat pertama dibuatkan oleh pemerintah atas nama mereka. Mau tidak mau dan suka tidak suka, mereka harus menerima agar tetap menjadi penerima bantuan PKH. Kalimat tersebut jelas melanggar Pasal 34 ayat 1 dan 2 UUD 1945 yang meminta negara memperlakukan fakir miskin dan anak terlantar dengan baik sesuai dengan martabat manusia. Undang-undang ini menuntut negara hadir untuk masyarakat miskin dengan sepenuh hati dan dengan cara yang bermartabat, seperti yang terdapat dalam Pasal 1 dan 2.  Pasal (1) Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Pasal (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah  dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Pada akhirnya, PKH sebagai bantuan yang mewakili negara tidak cukup hanya hadir dalam bentuk bantuan materi dan sembako saja, tetapi juga harus hadir dengan bahasa yang santun, membangkitkan semangat, dan harapan agar masyarakat bangkit dari kemiskinan menuju kesejahteraan. Demikian seharusnya negara hadir dan merangkul rakyat agar berdaya. Bagaimana masyarakat miskin bisa sejahtera dan berdaya jika perlakuan yang diterima tidak memberdayakan mereka?

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

La Sorbonne! au Pakistan –

Berita Sesudah

La Sorbonne! au Pakistan –

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Berita Sesudah
MZK

La Sorbonne! au Pakistan -

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran berbuka puasa bersama, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas PUPR, dan Petugas Lembaga Pengelola Sampah (LPS) se-Kota Padang, di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Selasa (10/3/2026).(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Bakal Menggelar Lomba Kebersihan Tingkat RT se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Program Joyful Ramadhan  Wali Kota Padang Serahkan 300 Paket Sembako Pada Masyarakat Lintas Agama 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan antara Imbuhan me-kan dan me-i

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026