
Padang, Scientia.id – Upaya mengembangkan sistem komunikasi kebencanaan yang lebih dekat dengan karakter masyarakat lokal terus dilakukan melalui penelitian “Pengembangan Model Linguistik Komunikasi Darurat Berbasis Lokal pada Masyarakat Minangkabau Pascagalodo.” Salah satu tahapan penelitian dilaksanakan melalui pengumpulan data lapangan di Nagari Muaro Aia pada 14 Mei 2026 dengan mewawancarai masyarakat mengenai pengalaman, kebutuhan, dan pola komunikasi yang mereka gunakan ketika menghadapi situasi bencana.
Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ike Revita, dengan anggota peneliti Wuri Syahputi, Wani Maller, dan Ria Febrina, serta melibatkan 10 anggota tim penelitian mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui bagaimana masyarakat berkomunikasi sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana, termasuk media, bahasa, serta pola penyebaran informasi yang digunakan untuk menyampaikan peringatan dan mengarahkan masyarakat dalam situasi darurat.
Dalam wawancara dengan Wali Nagari Muaro Aia, Rido Maireza Putra, diketahui bahwa masyarakat telah memiliki sejumlah saluran komunikasi yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi bencana. Salah satunya adalah pengeras suara atau toa masjid yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi secara cepat kepada masyarakat dan menjangkau warga di lingkungan sekitar.
Mayurizal, masyarakat Nagari Muaro Aie, juga menambahkan bahwa selain melalui toa masjid, masyarakat memanfaatkan WhatsApp (WA) untuk saling mengabari ketika mulai muncul tanda-tanda atau situasi yang berpotensi menimbulkan bencana. Informasi dapat disampaikan dari satu warga kepada warga lainnya sehingga masyarakat mengetahui kondisi terkini dan dapat mengambil langkah yang diperlukan.
Namun, temuan lapangan juga memperlihatkan bahwa keberadaan sistem peringatan formal belum selalu menjamin informasi dapat diterima masyarakat secara efektif. Dalam kondisi cuaca ekstrem, misalnya, listrik dan sinyal seluler dapat terputus sehingga sistem komunikasi yang bergantung pada perangkat dan jaringan formal berpotensi mengalami gangguan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan saluran komunikasi alternatif yang tetap dapat digunakan ketika infrastruktur komunikasi mengalami kendala.
Di sisi lain, masyarakat lebih mengandalkan kearifan lokal, penyampaian informasi secara berantai, serta arahan tokoh masyarakat dan tokoh adat. Dalam situasi yang membutuhkan respons cepat, penggunaan bahasa Minangkabau menjadi salah satu faktor penting dalam membangun pemahaman dan mendorong tindakan bersama.
Menurut Prof. Ike Revita, bahasa Minangkabau memiliki fungsi penting dalam komunikasi darurat. Penggunaan bahasa lokal dinilai lebih dekat dengan keseharian masyarakat dan dapat memberikan pemahaman yang lebih cepat mengenai tindakan yang harus dilakukan. Hal tersebut tercermin dalam wawancara dengan warga, Mayurizal, “Kalau dalam bahasa Minang, urang langsung paham apo nan harus dilakukan.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan komunikasi kebencanaan bukan hanya menyangkut ketersediaan media penyampaian informasi, tetapi juga menyangkut pilihan bahasa dan bentuk pesan. Instruksi dengan bahasa Indonesia standar yang bersifat formal belum tentu secara otomatis menghasilkan respons kedaruratan yang diharapkan. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang familiar, langsung, dan sesuai dengan konteks sosial masyarakat dapat membantu membangun respons yang lebih cepat.
Penggunaan toa masjid, komunikasi melalui WhatsApp, penyampaian informasi secara berantai, serta keterlibatan tokoh adat menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah memiliki mekanisme komunikasi darurat berbasis lokal. Mekanisme tersebut menjadi modal penting bagi tim peneliti dalam mengembangkan model komunikasi yang tidak mengabaikan praktik komunikasi yang telah hidup dan dipahami masyarakat.
Menurut Prof. Ike Revita, temuan lapangan tersebut menjadi penting karena komunikasi dalam situasi bencana tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat informasi disampaikan, tetapi juga bagaimana informasi tersebut diterima, dipahami, dan diteruskan oleh masyarakat. Bahasa yang digunakan, media penyampaian, hubungan sosial antarwarga, kearifan lokal, serta keberadaan tokoh masyarakat dan tokoh adat menjadi bagian yang perlu dipertimbangkan dalam membangun sistem komunikasi kebencanaan.
Lebih lanjut, Prof. Ike Revita menyampaikan bahwa penelitian ini tidak semata-mata menghadirkan model komunikasi dari perspektif akademik, tetapi juga berupaya menggali praktik komunikasi yang telah berkembang di tengah masyarakat. Pengalaman masyarakat menggunakan toa masjid dan grup WhatsApp, termasuk pola penyampaian informasi secara berantai, menjadi bagian yang dapat diintegrasikan ke dalam pengembangan Model Linguistik Komunikasi Darurat Berbasis Lokal.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan komunikasi kebencanaan yang tidak hanya berorientasi pada kecepatan penyampaian informasi, tetapi juga mempertimbangkan aspek linguistik, budaya, kearifan lokal, dan praktik komunikasi masyarakat Minangkabau. Keberadaan toa masjid, jaringan WhatsApp, komunikasi berantai, serta penggunaan bahasa Minangkabau menjadi contoh mekanisme lokal yang dapat diperkuat dan diintegrasikan ke dalam model komunikasi darurat.
Dengan pendekatan tersebut, model yang dikembangkan tidak hadir sebagai sistem yang sepenuhnya baru, tetapi berupaya memperkuat pola komunikasi yang telah dikenal dan digunakan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Tahap selanjutnya akan diarahkan pada implementasi terbatas, simulasi, dan evaluasi untuk mengetahui tingkat keterterapan serta efektivitas model sebelum dikembangkan lebih lanjut sebagai rujukan komunikasi kebencanaan berbasis lokal. (*)







![Ketua PKC PMII Sumatera Barat, M. Yusur Rahman.[foto: ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260901-WA0016-350x250.jpg)
