Padang, Scientia — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,9 persen pada periode 2026–2027. Untuk mencapai angka tersebut, pemerintah daerah mulai menggeser fokus pembangunan dari yang selama ini ditopang konsumsi rumah tangga menuju penguatan investasi dan hilirisasi ekonomi.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan investasi harus menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah dalam beberapa tahun ke depan. Menurut dia, ketergantungan terhadap konsumsi rumah tangga tidak lagi cukup untuk mendorong akselerasi ekonomi yang berkelanjutan.
“Karena itu, kita tidak bisa lagi bergantung pada konsumsi. Investasi harus menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi,” kata Mahyeldi.
Data Pemprov Sumbar menunjukkan struktur ekonomi daerah masih didominasi konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 50 persen terhadap perekonomian. Sementara itu, kontribusi investasi dinilai belum optimal meski nilainya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Nilai investasi di Sumbar tercatat melonjak dari Rp2,66 triliun pada 2022 menjadi Rp17,13 triliun pada 2025. Kenaikan tersebut menjadi sinyal positif bagi iklim usaha di daerah. Namun, Mahyeldi mengakui peningkatan investasi belum sepenuhnya berdampak pada penciptaan lapangan kerja karena sebagian besar masih bersifat padat modal.
“Tantangannya adalah bagaimana investasi yang masuk tidak hanya besar nilainya, tetapi juga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak,” ujarnya.
Untuk itu, Pemprov Sumbar berupaya mendorong investasi yang lebih berorientasi pada sektor produktif dan memiliki dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi daerah.
Pemprov menargetkan realisasi investasi terus tumbuh secara konsisten hingga 2030. Pada 2027, nilai investasi ditargetkan mencapai Rp13,3 triliun dan meningkat menjadi Rp18,8 triliun pada 2030.
Mahyeldi meyakini target tersebut dapat tercapai apabila seluruh daerah di Sumbar mampu mengoptimalkan potensi masing-masing dan membangun sinergi pembangunan yang terintegrasi.
“Setiap daerah memiliki keunggulan dan potensi masing-masing yang jika disinergikan secara terintegrasi akan mendorong perekonomian daerah naik ke level yang lebih tinggi. Kita optimistis untuk itu,” katanya.
Dorongan untuk memperkuat investasi dan hilirisasi juga datang dari pemerintah pusat. Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Medrilzam, menilai Sumbar perlu memperluas sumber pertumbuhan ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan.
Menurut dia, diversifikasi ekonomi menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya tahan ekonomi daerah terhadap berbagai tekanan dan perubahan global.
“Kita perlu melakukan diversifikasi sumber ekonomi yang lebih luas agar ekonomi Sumbar menjadi semakin tangguh,” kata Medrilzam.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan industri hilir. Sumbar dinilai tidak cukup hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi harus mampu menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Selain sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional, langkah tersebut dinilai dapat memperkuat kemandirian ekonomi daerah sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru.
Dengan kombinasi penguatan investasi, diversifikasi ekonomi, dan hilirisasi industri, Pemprov Sumbar berharap mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam beberapa tahun mendatang.(yrp)








