Pasaman Barat, Scientia – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mulai menancapkan ambisi besar di pesisir Pasaman Barat. Kawasan Pelabuhan Teluk Tapang disiapkan menjadi pusat industri pengolahan atau hilirisasi sawit. Ambisi itu disokong Pemerintah pusat yang menggelontorkan Rp83 miliar dari APBN melalui Kementerian Perhubungan untuk pengembangan awal kawasan tersebut.
Suntikan dana itu menjadi sinyal kuat bahwa Teluk Tapang masuk radar proyek strategis daerah. Namun, proyek ini belum sepenuhnya mulus, karena status kawasan hutan di area pengembangan masih harus diturunkan sebelum pembangunan bisa digenjot.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengatakan proses penurunan status kawasan hutan tengah berjalan. “Tahun ini ada Rp83 miliar dana dari Kementerian Perhubungan yang masuk. Sekarang kita juga sedang menurunkan status kawasan hutan yang ada di sini, alhamdulillah prosesnya sedang berjalan,” ujar Mahyeldi saat meninjau Dermaga Pelabuhan Teluk Tapang, Jumat (13/2).
Menurut Mahyeldi, total lahan yang disiapkan untuk pengembangan mencapai sekitar 168 hektare. Kawasan itu dirancang sebagai sentra industri berbasis sawit yang terintegrasi dengan pelabuhan. Pemerintah provinsi mengklaim proyek ini dikerjakan secara sinergis bersama Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat.
“Mudah-mudahan ini berjalan sesuai rencana sehingga lebih kurang 168 hektare itu bisa kita bangun,” katanya.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi komoditas unggulan daerah. Pasaman Barat selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung sawit utama di Sumatera Barat. Namun, selama bertahun-tahun, komoditas itu lebih banyak dijual dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah signifikan.
Mahyeldi menegaskan, hilirisasi menjadi kunci agar daerah tidak hanya menjadi pemasok bahan baku. “Sawit memiliki banyak turunan yang bisa dikembangkan melalui hilirisasi. Ini menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah,” ujarnya.
Produk turunan sawit, menurut dia, sangat beragam, mulai dari biodiesel hingga avtur dan berbagai produk oleokimia lainnya. Jika industri pengolahan berdiri di Teluk Tapang, rantai pasok akan memendek dan biaya distribusi bisa ditekan karena langsung terhubung dengan pelabuhan.
Menariknya, meski pembangunan kawasan belum sepenuhnya rampung, minat investor disebut mulai berdatangan. Mahyeldi mengungkapkan ada investor yang sudah menanyakan ketersediaan lahan hingga 100 hektare untuk berinvestasi.
“Ada investor yang bertanya dan meminta disediakan lahan sekitar 100 hektare untuk berinvestasi di sini. Sentimen positif tersebut menambah optimisme kita terhadap masa depan Teluk Tapang,” katanya.
Dukungan APBN dan sinyal ketertarikan investor menjadi modal awal. Namun, proyek ini tetap bergantung pada percepatan penurunan status kawasan hutan serta kepastian regulasi tata ruang. Tanpa itu, rencana besar hilirisasi bisa tersendat di meja birokrasi.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Teluk Tapang berpotensi menjadi simpul baru industri berbasis sawit di pantai barat Sumatera. Pemerintah daerah berharap pengembangan ini bukan hanya memperkuat fungsi pelabuhan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan mengubah wajah Pasaman Barat dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi pusat industri bernilai tambah.(yrp)







