Pariaman, Scientia – Kondisi lokasi konservasi penyu di Kota Pariaman memantik keprihatinan. Fasilitas yang semestinya menjadi garda depan perlindungan satwa dilindungi itu justru tampak terbengkalai, minim perawatan, dan jauh dari standar pengelolaan konservasi.
Pantauan Scientia.id di lapangan, Senin, (26/1) menunjukkan bangunan utama konservasi tidak terurus. Sampah dedaunan berserakan di berbagai sudut, sementara dasar sejumlah kolam terlihat kotor karena lama tidak dibersihkan. Lumut menutupi keramik kolam, menandakan perawatan yang nyaris absen.
Di area penangkaran yang berada di samping ruang karantina, terdapat enam kolam kecil dan dua kolam besar. Namun, seluruh kolam tersebut hanya diisi empat ekor penyu, tiga ekor berada di kolam kecil dan satu ekor di kolam besar. Kondisi kolam yang berlumut dan air yang tidak jernih memperburuk situasi satwa yang seharusnya dirawat secara intensif.
Kondisi serupa juga terlihat di lokasi hatchery. Dari total 12 kolam yang tersedia, hanya delapan kolam yang terisi, masing-masing satu ekor penyu. Sementara itu, area inkubasi telur penyu tampak sangat kotor. Pasir inkubasi dipenuhi dedaunan kering yang dibiarkan menumpuk.
Ironisnya, fasilitas penunjang pun tak luput dari pembiaran. Di ruang bangunan pakan, hanya terdapat beberapa freezer kosong yang dipenuhi kotoran dan mulai berkarat. Tidak terlihat stok pakan maupun sarana pendukung lain yang menandakan aktivitas pengelolaan berjalan normal.
Ruang galeri konservasi juga jauh dari kata layak. Ruangan tersebut tampak kotor dan berfungsi layaknya gudang. Di dalamnya hanya terdapat fiber penyimpanan ikan berisi pasir, mesin pemotong rumput, serta sejumlah peralatan lain yang tidak jelas peruntukannya. Kondisi bangunan pun mengkhawatirkan. Loteng atap galeri terlihat rapuh, dengan pelapis atap yang sudah menggantung dan berpotensi membahayakan.
Di luar bangunan, halaman kawasan konservasi pun tidak luput dari pembiaran. Rumput taman tidak terawat dan dedaunan kering menutupi hampir seluruh area, mempertegas kesan bahwa kawasan ini luput dari perhatian pengelola.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen pemerintah daerah dalam menjaga konservasi satwa dilindungi. Di tengah gencarnya kampanye pelestarian lingkungan, potret konservasi penyu di Kota Pariaman justru menunjukkan paradoks antara slogan dan kenyataan di lapangan.(yrp)







