
Linguistik fungsional sistemik (LFS) merupakan konsep yang melihat bahasa dari segi fungsinya. LFS mulai berkembang sejak tahun 1960-an awal dan diperkenalkan oleh Michael Alexander Kirkwood (M.A.K) Halliday, ahli linguistik berkebangsaan Inggris. Halliday mendedikasikan hampir sepanjang hidupnya untuk mengembangkan LFS bersama istrinya, Ruqaiya Hasan. Ia dilahirkan pada tahun 1925 di Leeds Inggris dan meninggal di Sidney, Australia pada tahun 2018. Demikian sedikit sejarah tentang Halliday.
Halliday menjelaskan bahwa konsep “sistemik” merujuk kepada bentuk-bentuk bahasa dalam berkomunikasi, pilihan klausa sebagai penentu komunikasi, jenis klausa yang digunakan, deklaratif, indikatif, aktif, atau pasif. Konsep “fungsional” dalam LFS merujuk kepada keberadaan bahasa yang ditentukan oleh konteks penggunaanya dan bentuk-bentuk bahasa yang mengemban fungsi tertentu di dalam teks atau wacana.
LFS sebagai konsep linguistik yang bersistem mempersoalkan teks dan tata cara pemilihan bentuk-bentuk bahasa yang terikat pada konteks (Wiratno, 2018). Ketika seseorang berbicara atau menulis, mereka sedang menghasilkan sebuah teks dan istilah teks merujuk pada segala bentuk bahasa dalam semua medium yang mempunyai makna bagi seseorang yang mengetahui maknanya (Halliday & Matthiessen, 2008). Dengan demikian, teks atau wacana dapat dimaknai sebagai bahasa yang memiliki sistem dan memiliki fungsi yang ditentukan oleh konteksnya.
Dalam perkembangannya, LFS menjelma sebagai pendekatan kebahasaan yang dinamis. LFS mengalami perubahan sejalan dengan lingkungan tempat penggunaannya. LFS menjadi pendekatan yang stabil sejak pertama digunakan pada tahun 1960-an dan masih tetap stabil hingga sekarang meskipun juga terus mengalami perkembangan/perubahan. LFS menjadi sistem yang terbuka saat mengalami perubahan. Fakta menunjukkan bahwa LFS merupakan sistem kebahasaan yang dinamis dan terbuka adalah ide dan arah gagasan baru yang dinyatakan oleh para pengikut LFS. Ide ini juga berasal dari situasi kontak metalinguistik pada banyak lingkungan yang berbeda sejak LFS mulai digunakan pada tahun 1960-an hingga kini (Halliday dan Webster, 2009).
Fenomena serupa dieksplorasi oleh para sarjana yang menggunakan metabahasa berbeda atau kerangka kerja teoretis, misalnya LFS digunakan untuk mempelajari dan memodelkan pembelajaran, seperti contoh yang ada di Indonesia. LFS digunakan untuk menyusun kurikulum pembelajaran berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia pada Kurikulum 2004 dan 2013 di Indonesia. Fakta ini menunjukkan kerja yang dilakukan para ahli linguistik fungsional sistemik dengan menarik gagasan Bruner tentang perancah yang dikembangkan dalam psikologi kognitif sejak 1950-an (Unsworth, 1997; Painter, 1999; Gibbons, 2002; Martin & Rose, 2005) dalam (Halliday, 1993).
Dalam penyelidikan yang sifat bahasa probabilistik, ahli linguistik fungsional sistemik tertarik pada teori informasi, seperti yang dikembangkan oleh Claude Shannon dan lainnya sejak tahun 1940-an (Ayomi, 2001). Dalam memodelkan linguistik fungsional sistemik sebagai metabahasa, ahli linguistik fungsional sistemik telah menggunakan karya Ron Brachman tentang pengetahuan representasi pada tahun 1970-an (Matthiessen & Nesbitt, 1996; Halliday & Matthiessen, 1999; Teich, 1999, Ayomi, 2021). Jadi, LSF dapat disimpulkan sebagai salah satu pendekatan linguistik yang sudah mencapai kemapanan dalam perkembangannya dan masih tetap mapan hingga saat ini.
LFS juga menyatakan bahwa bahasa Adalah sistem semiotika sosial. LFS locates language, in its turn, as one among a wider class of systems called “semiotic” systems — systems of meaning. The opposition here is that between semiotic and material: systems of meaning and systems of matter (Halliday dan Webster, 2009). Artinya, LFS disebut sebagai teori yang mampu menempatkan bahasa yang pada fungsinya sebagai salah satu di antara kelas sistem yang lebih luas yang disebut dengan sistem semiotik–sistem makna. Oposisi antara semiotika dan materi adalah sistem makna dan sistem materi.
Dalam pandangan LFS bahasa memiliki sifat sebagai sistem semogenik atau sistem yang menciptakan makna. Sebaliknya, arti potensi suatu bahasa bersifat terbuka adalah bahwa bahasa selalu menciptakan makna baru dari produktivitasnya. Ketika menyebut bahasa sebagai sistem semiotik, istilah “sistem” di sini adalah singkatan dari “sistem & proses”. Dengan kata lain, bahasa mencakup kedua potensi makna dan tindakan makna yang menghidupkan potensi tersebut. Contohnya dapat dianalogikan pada musik. Musik adalah sistem semiotik dan musikologi yang berkaitan tidak hanya dengan kemungkinan komposisi melodi dan harmonik, tetapi juga dengan produksi dan penerimaan teks musik. dalam analisis terhadap bahasa, LSF mencakup tiga fungsi yang dikenal dengan metafungsi.
Metafungsi terdiri atas fungsi ideasional, fungsi interpersonal, dan fungsi tekstual. Fungsi ideasional adalah fungsi yang merepresentasikan pengalaman dunia penulis teks. Fungsi interpersonal adalah fungsi yang merepresentasikan bagaimana bahasa digunakan dalam interaksi sosial. Fungsi tekstual adalah fungsi yang merepresentasikan relasi atau hubungan antarunsur bahasa dalam membentuk kohesi (kesatuan) dan koherensi (kepaduan) sebuah teks atau wacana. Selain itu, LFS juga dapat membicarakan leksikogramatika teks yang meliputi morfologi dan sintaksis serta konteks sosial budaya dari fenomena kebahasaan. Konteks sosial budaya berkaitan dengan bagaimana bahasa memberikan makna pada sebuah teks yang dilihat melalui konsep medan (topik/tema), tenor (hubungan antarpartisipan), dan modus (bentuk komunikasi yang digunakan).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan mengapa LFS dapat disebut sebagai pendekatan atau teori yang mapan dan dinamis. Hal itu disebabkan oleh luasnya cakupan dalam analisis kebahasaan. Demikian bahasa dalam pandangan LFS yang diharapkan dapat membukakan perspektif lain bagi para peneliti dan praktisi bahasa yang akan menggunakannya.
![Dirut PDAm Kota Padang, Hendra Pebrizal.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/01/Dirrut-PDAM-Kota-Padang-120x86.jpg)
![Kantor PDAM Kota Padang.[foto : net]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/07/FB_IMG_17535045128082-120x86.jpg)






