Kamis, 15/10/26 | 01:35 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pengobatan Alternatif: Bisakah Menjadi Pilihan?

Senin, 04/11/24 | 12:32 WIB

Oleh: Hardisman
(Guru Besar Kedokteran Komunitas dan Pencegahan, FK-UNAND)
 

Tidak bugar, kurang fit, dan sakit adalah keniscayaan yang akan di alami setiap orang. Tidak selamanya kita sehat dan bugar untuk melaksanakan semua aktivitas keseharian. Bahkan tidak jarang, kita justru jatuh sakit dan membutuhkan istirahat dan perawatan.

Dalam mencari dan melakukan pengobatan berbagai penyakit yang diderita, masyarakat juga menggunakan berbagai pengobatan alternatif, di antara masyarakat juga beranggapan bahwa pengobatan alternatif merupakan pengobatan yang minim risiko dan efek samping. Benarkah demikian?

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu perlu diketahui jenis penyakit, organ, dan sistem yang terdampak, serta tingkat keparahannya. Berbagai penyakit yang diderita dapat dibedakan menjadi lima kategori. Kelompok penyakit tersebut berupa penyakit kongenital atau bawaan lahir, peradangan dan infeksi, trauma fisik atau kecelakaan, pertumbuhan jaringan abnormal dan keganasan (kanker), serta penyakit metabolik degeneratif. Kelima kelompok penyakit tersebut tentunya membutuhkan penanganan dan pengobatan dengan pendekatan yang berbeda pula.

Trauma, seperti luka, perdarahan, atau fraktur (patah tulang) terbuka membutuhkan penanganan yang segera dan emergency. Pengobatannya membutuhkan penghentian pendarahan segera, menghilangkan nyeri hebat yang dirasakan, serta menutup luka untuk mencegah infeksi. Jika tidak dilakukan dengan tepat, akan dapat menimbulkan masalah atau penyakit yang lebih berat.

Sebalik, penyakit kronis degeneratif dan metabolik membutuhkan pemeriksaan untuk menegakkan diagnostik yang lebih lengkap. Selanjutnya, pelaksanaan dan pengobatannya membutuhkan pengobatan sistemik. Pengobatan tersebut juga membutuhkan modifikasi gaya hidup, pengaturan pola makan, dan aktivitas.

Dengan melihat kategori penyakit, dapatkah masyarakat menjadikan pengobatan alternatif sebagai pilihan? Jika dapat digunakan, kapankah pengobatan alternatif dapat digunakan? Lalu pengobatan alternatif yang mana yang dapat dilakukan?

Tentunya sebelum menentukan pilihan ataupun memulai pengobatan alternatif, perlu diketahui apa dan bagaimana pengobatan alternatif tersebut bekerja.

Mengenal Pengobatan Alternatif

Akhir-akhir ini, perhatian dan minat masyarakat terhadap  pengobatan alternatif  semakin meningkat. Sebagian beranggapan bahwa pengobatan alternatif menawarkan pendekatan yang berbeda dari pengobatan modern atau medis. Pengobatan alternatif dapat dijadikan pelengkap pengobatan yang dilakukan. Sebagian melihat pengobatan alternatif sebagai pengganti (subtitusi) dari pengobatan medis.

Pengobatan alternatif mencakup berbagai bentuk obat dan praktik kesehatan yang tidak termasuk dalam lingkup pengobatan medis modern. Pengobatan alternatif sering kali berasal dari tradisi budaya tertentu atau berakar pada praktik kesehatan tradisional yang telah digunakan selama berabad-abad secara turun-temurun.

Beberapa contoh pengobatan alternatif yang terkenal meliputi pengobatan herbal, akupuntur, pijat, refleksiologi, homeopati, dan yoga fisik. Pengobatan herbal merupakan semua bentuk pengobatan dengan menggunakan tanaman obat untuk mengobati berbagai penyakit. Akupuntur melakukan pengobatan menggunakan jarum tipis yang ditusukkan ke titik-titik tertentu di tubuh untuk merangsang aliran energi yang disebut dengan ‘qi’. Homeopati adalah pengobatan menggunakan dosis sangat kecil dari zat yang diyakini dapat menyebabkan gejala penyakit untuk merangsang kemampuan tubuh menyembuhkan diri. Bisa dikatakan homeopati merupakan penggabungan pengobatan herbal dengan teknik-teknik tradisional.

Pijat (massage) adalah pengobatan dengan menghandalkan manipulasi pada otot, tulang, dan sendi untuk meningkatkan kebugaran dan mencapai kesembuhan. Teknik dan pendekatan pijat sebagai pengobatan tradisional juga sangat beragam. Refleksiologi adalah terapi pijat pada titik-titik tertentu di tangan atau kaki yang diyakini berhubungan dengan organ tubuh lainnya.

Pengobatan alternatif memberikan manfaat yang menjadikan banyak orang tertarik dan menyukainya. Sebagian besar pengobatan alternatif melihat individu yang sakit secara holistik dan tidak hanya terpaku pada gejala pada organ yang sakit saja.  Jika menggunakan bahan obat, bahan yang digunakan adalah tanaman (herbal) atau bahan alami. Hal ini tentunya akan mengurangi kekhawatiran efek samping yang berat atau jangka panjang.

Begitu juga dengan tindakan yang dilakukan lebih jarang invasif atau mencederai. Hal ini sering mejadi pilihan bagi masyarakat jika pada pengobatan medis mesti melakukan tindakan bedah atau operasi.

Kapan Pengobatan Alternatif Bisa Menjadi Pilihan

Meskipun banyak manfaatnya, pengobatan alternatif juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan sehingga penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati. Tidak semua pengobatan alternatif aman atau cocok untuk semua orang, terutama jika digunakan sebagai pengganti pengobatan medis yang sangat diperlukan.

Pengobatan alternatif jelas kurang bukti ilmiah yang mendukung efektivitasnya. Banyak metode pengobatan alternatif yang belum melalui uji manfaat layaknya uji klinis yang ketat, seperti pengobatan medis modern sehingga efektivitasnya sulit disampaikan secara terukur dan terstandar. Begitu juga dengan efek sampingnya. Sebagian pengobatan alternatif belum dapat diprediksi secara tepat.

Meskipun pengobatan alternatif relatif alami, beberapa bentuk pengobatan juga dapat memiliki efek samping yang berbahaya, terutama jika digunakan secara tidak tepat atau berlebihan. Pengobatan alternatif herbal misalnya, tidak dapat diprediksi interaksi antar sesama bahan herbal dan juga dengan dengan obat-obatan medis lain.

Obat atau tindakan pengobatan alternatif lemah pengawasan dan standardisasinya. Tindakan dan pengobatan medis jelas diawasi oleh asosiasi dan kolegium melalui standar profesinya. Begitu juga dengan obat-obatan peredaran dan penggunaannya juga diawasi dengan regulasi yang ketat. Akan tetapi, hanya sebagian kecil pengobatan dan obat alternatif yang terawasi. Banyak pengobatan alternatif yang digunakan di masyarakat tidak terpantau sehingga kualitas obat alternatif yang beredar sangat bervariasi. Ada obat yang dijual tanpa kemurnian atau keamanannya sehingga semakin meningkatkan risiko kontaminasi atau dosis yang tidak tepat.

Penyakit yang membutuhkan penanganan segera, akut, atau kondisi kritis, hampir tidak ada bukti dapat ditangani dengan pengobatan alternatif. Jika penderita melakukan pengobatan alternatif terlebih dahulu, terjadi penundaan pengobatan. Hal ini tentunya menyebabkan kondisi kesehatan pasien memburuk karena tidak mendapatkan perawatan yang tepat dan tepat waktu, misalnya pada kasus-kasus trauma terbuka yang disertai luka dan keganasan (kanker).

Berdasarkan fakta dan pertimbangan tersebut, pengobatan alternatif bisa menjadi pilihan sesuai dengan penyakit dan kondisi pasiennya. Penggunaan obat alternatif tetap dengan menilai secara saksama pengobatan tersebut sebelum digunakan. Pengobatan alternatif juga bisa menjadi pilihan yang lebih aman untuk penyakit yang tidak memerlukan intervensi medis serius. Pengobatan alternatif tidak direkomendasikan untuk penyakit serius ataupun kondisi kritis.

Pengobatan alternatif dapat digunakan sebagai pelengkap pengobatan medis dengan tetap melihat jenis penyakit dan kondisi pasien, misalnya terapi yoga dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental pasien yang sedang menjalani perawatan medis untuk penyakit kronis. Pemberian herbal yang mengandung anti oksidan dapat diberikan pada pasien yang sedang menjalani pengobatan kardiovaskuler.

Tags: #Hardisman#pengobatan alternatif
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ribuan Peserta BPKH Hajj Run, Kampanye Kesehatan Calon Jemaah Haji

Berita Sesudah

10 Orang Tewas Dampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
10 Orang Tewas Dampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki

10 Orang Tewas Dampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026