Kamis, 15/10/26 | 04:50 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pelanggaran Prinsip Kesantunan Bahasa Dibalik Kontoversi Lolly

Minggu, 03/11/24 | 13:59 WIB

Oleh: Shilva Lioni
(Dosen Prodi Sastra Inggris Universitas Andalas)

Dunia tanah air dalam beberapa waktu belakangan dihebohkan oleh  kasus perseteruan seorang artis kawakan tanah air berinisial NM dengan anaknya, Lolly. Sontak dalam beberapa waktu terakhir media sosial sempat dipenuhi dengan berbagai ulasan terkait dengan kasus perseteruan ibu dan anak tersebut hingga banyak video dan pihak memparodikan gerak, mimik, gestur, dan tuturan sang anak terhadap sang ibu.

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Luapan emosi sang anak yang menggebu-gebu menjadi viral dan menuai banyak komen pro dan kontra dari masyarakat. Tuturan Lolly disinyalir sebagai luapan emosi kemarahan dan kekesalannya dinilai tidak sopan dan kurang beretika untuk diucapkan. Sebagian masyarakat menilai  hal itu tidak elok untuk dipertontonkan secara terus-menerus. Beberapa komen netizen menghujat Lolly sebagai seorang anak durhaka. Terkait dengan ini tidak ada salahnya untuk mengurai tuturan bahasa Lolly dalam sudut pandang linguistik atau ilmu bahasa.

Linguistik adalah sebuah cabang ilmu yang mengkaji bahasa dan fenomena bahasa secara mendalam. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, linguistik menggunakan bahasa sebagai data utama untuk mengurai berbagai fenomena kehidupan, seperti identitas pelaku bahasa, regulasi, kultural, etnik, ideologi, dan bahkan dalam menilai kesantunan dan ketidak-santunan.

Konsep kesantunan dalam ilmu linguistik berada di bawah payung kajian pragmatik. Berbeda dengan konsep kesantunan secara umum, kesantunan berbahasa dalam ilmu linguistik yakni terjadi ketika sebuah tuturan atau ekspresi bahasa mampu memenuhi beberapa prinsip maksim kesantunan diantaranya seperti maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendah hatian, maksim kesetujuan, maksim simpati (Leech dalam Rahardi, 2005).

Prinsip kesantunan menurut Leech adalah enam maksim yang mengatur penggunaan bahasa, tindakan, dan interpretasi terhadap lawan bicara. Prinsip kesantunan berbahasa ini merupakan bagian dari kajian pragmatik yang didasarkan pada prinsip kesopanan dan kerja sama.

Terkait dengan hal tersebut, dalam berbagai ekspresi tuturan yang disampaikan Lolly dalam video yang diunggahnya di media sosial, kita dapat mencermati bahwa terjadi banyak pelanggaran terhadap maksim kesantunan yang ditampilkan, di antaranya tidak ditemukan kehadiran maksim kebijaksanaan, yakni meminimalkan kerugian orang lain dan maksimalkan keuntungan orang lain, tidak ditemukan kehadiran maksim kedermawanan yakni meminimalkan keuntungan diri sendiri dan maksimalkan kerugian diri sendiri, tidak ditemukan kehadiran maksim pujian yakni meminimalkan cacian kepada orang lain dan maksimalkan pujian kepada orang lain, tidak ditemuinya kehadiran maksim kerendahan hati yakni meminimalkan pujian kepada diri sendiri dan maksimalkan cacian kepada diri sendiri, tidak ditemukan kehadiran maksim kesetujuan yakni meminimalkan ketidaksetujuan dengan orang lain dan maksimalkan kesetujuan dengan orang lain, dan tidak ditemukan kehadiran maksim simpati meminimalkan antipati kepada orang lain dan maksimalkan simpati kepada orang lain.

Ungkapan ekspresi bahasa dan tuturan Lolly justru diwarnai oleh tuturan-tuturan yang memaksimalkan kerugian orang lain, memaksimalkan keuntungan diri sendiri, penuh dengan cacian kepada orang lain, dan menyombongkan diri dengan pujian-pujian terhadap diri sendiri. Sebagai ilustrasi hal ini dapat kita saksikan dalam contoh tuturan seperti, “Gue dibilang kabur, ngapain gua kabur. Lu bilang gua kabur, ngapain gua kabur. Ngapain lu kesini pas orangnya gak ada”.

“Gua gak habis pikir ya kenapa ya dia begitu ya. Udah sakit ya otak lu ya. Gila lu. Orang gak salah apa-apa lu tuduh lu fitnah. Udah kelewatan banget fitnah lu. Lu maksa masuk ngapain. Sampai grebek-grebek gitu ngapain.”

“Disini gua gk takut, gue gak takut sama elu. Disini gua megang kebenaran, fakta, gak ada gua takut sama elu”

“Licik lu. Otak jelek, otak licik lu gue paham. Lu ngehalalin semua cara biar kebenaran gak diungkap. Biar semua orang anggap lu ibu yang baik. Ibu yang perhatian. Aduuh.”

“Gampang buat gue beli lagi, emang berapa sih itu. Gila emang dipikir gua gak bisa beli sendiri. Ini Hp. Gue beli dari siapa. Gua beli sendiri, uang gua sendiri. Gua yang cari. Gila. Ini apartemen siapa yang bayar, gua. Kerja keras gua. Bukan dari lo. Gila kelewatan banget lo, udah sakit ya otak lo. Cuma laptop sama Ipad doang sampe segitunya. Dari awal lo gk ush kasih, gua bisa beli sendiri kok. Gua juga ga butuh.”

Apabila ditelaah dari sudut pandang pragmatik, tentu jelas tuturan-tuturan diatas yakni  tuturan-tuturan yang memaksimalkan kerugian orang lain, memaksimalkan keuntungan diri sendiri, penuh dengan cacian kepada orang lain, dan menyombongkan diri dengan pujian-pujian terhadap diri sendiri. Tuturan-tuturan ini jelas melanggar prinsip kesantunan bahasa yakni terutama maksim kedermawanan, maksim kebijaksanaan, maksim pujian, dan maksim kerendahan hati. Dari tuturan yang diungkapkannya, Lolly dalam hal ini cenderung sibuk menyudutkan dan menghina orang lain, namun pada saat yang bersamaan juga membanggakan dan memuji dirinya dalam tuturan.

Masalah kesantunan berbahasa pada dasarnya adalah isu yang penting untuk dibahas. Adanya pelanggaran yang dihasilkan terhadap prinsip maksim kesantunan dalam berkomunikasi sangat rentan dengan kehadiran konflik serta image yang buruk bagi si penutur bahasa. Oleh karena itu, dengan adanya rasa aware yang tumbuh dalam ekspresi berbahasa yang  dituturkan dapat menjadi nilai plus bagi kita dalam meminimalisasi konflik dan efek buruk terhadap diri karena bagaimana pun karena Lolly dicap sebagai seorang anak yang tidak santun dan durhaka, hal itu tidak terlepas dari tuturan dan ekspresi bahasa yang digunakannya. Kasus ini sudah semestinya menjadi pembelajaran bagi kita semua para pemakai bahasa.

Tags: #Shilva Lioni
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketua DPRD Sumbar Lakukan Kunjungan Kerja ke SMAN 3 Painan Boarding School

Berita Sesudah

Kecintaan yang Tak Terbatas: Menyelami Dunia Buku Langka

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Satu Tikungan Lagi

Kecintaan yang Tak Terbatas: Menyelami Dunia Buku Langka

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026