Minggu, 26/4/26 | 06:29 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Penyandingan Kata “Mirip” dan “Jodoh”

Minggu, 18/2/24 | 11:28 WIB

Oleh : Shilva Lioni
(Dosen Program Studi Sastra Inggris FIB Universitas Andalas)

 

Berbicara tentang bahasa tidak akan ada habisnya, baik itu dari sisi fenomena penggunaannya, fungsinya, pemerolehannya, hingga keunikannya. Lebih lanjut berbicara tentang keunikan bahasa, salah satunya adalah fenomena keunikan bahasa yang cukup sering kita dengar adalah ketika penyandingan dua kata yang tidak memiliki hubungan makna jika ditelaah dari sisi linguistik. Namun, penyandingan kata ini lazim dilakukan oleh sebagian besar mayarakat. Salah satu contoh penyandingan kata tersebut yakni penyandingan kata “mirip” dan “jodoh”.

BACAJUGA

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB
Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Fenomena menarik ini bahkan disaksikan langsung oleh penulis ketika mengajar di sebuah kelas. Saat mahasiswa melakukan diskusi dengan para mahasiswa, mereka menggunakan kata itu. Saat ada grup yang persentasi di depan kelas, tanpa sadar, ada yang mengucapkan bahwa wajah mereka mirip ya. Hal itu ditujukan kepada sepasang mahasiswa yang sedang presentasi, lalu seketika itupun seisi kelas menjadi gaduh dan muka sepasang mahasiswa yang dikatakan mirip tersebut langsung memerah.

Ungkapan-ungkapan seperti “Wah wajahnya mirip ya, pantesan jodoh”, “mukanya mirip, mungkin jodoh”, “benar ya kata orang kalau jodoh itu wajahnya mirip”, “kalau mirip berarti jodoh”, “wajahnya mirip, fix jodoh” adalah sebagian besar ungkapan-ungkapan atau ekspresi yang seringkali kita dengar, bahkan menjadi kepercayaan di tengah sebagian besar masyarakat. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut, dari analisis makna atau ilmu semantik, makna pada kata “mirip” dan “jodoh” pada dasarnya tidak memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Jika diuraikan menurut analisa komponen penghimpun maknanya, kata “mirip” dapat dijabarkan menjadi serupa, memiliki komponen yang sama, sama secara fisik dan bentuk. Sementara itu, kata “jodoh” menurut KBBI memiliki komponen makna sebagai takdir, sepasang suami istri, terdiri dari lawan jenis yang berpasangan, pasangan hidup, memiliki kecocokan untuk dipasangkan.

Lebih lanjut, lalu bagaimana bisa kebanyakan kita seringkali menghubungkan kata “mirip” dengan “jodoh” ketika diucapkan meskipun kita paham benar bahwasanya keduanya tidak memiliki keterikatan dan keterkaitan makna antara satu dan yang lainnya? Bagaimana bisa dua kata yang memiliki komponen makna dan tidak terkait antar satu dan lainnya jika dikaji dalam persepektif ilmu bahasa menjadi hal lazim untuk diucapkan dalam masyarakat, bahkan sebagian orang bersepakat dan meyakini kebenarannya? Jawabannya adalah ada pada rasa dan logika.

Rasa atau sense dan logika adalah sebuah perangkat bawaan yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai anugerah dari sang Maha Pencipta. Melalui rasa dan logika yang terhubung dengan cara kerja yang sama kemudian manusia dapat menciptakan kesepakatan maknaa. Demikian juga halnya dengan kasus “mirip” dan “jodoh” ini.

Kebanyakan orang meyakini bahwa kata “mirip” tidak hanya berbicara tentang ukuran namun juga keselarasan. Selaras dalam hal ini ialah dipahami logika terkait dengan harmonisasi kehidupan seperti ilustrasi takdir yang tidak pernah bertikai. Oleh sebab itu, tidak heran kemudian kesepakatan makna “mirip” dan keterkaitan nya dengan “jodoh” banyak disetujui, disepakati, dan kemudian dipercayai oleh masyarakat. Terlebih jika menelaah salah satu komponen makna dalam kata “jodoh” yakni sepasang dan keterikatan yang mana tentu keduanya akan butuh dan menggunakan harmonisasi dan keselarasan.

Kita seringkali melihat dan menilai bahwa begitu banyak hal unik dalam bahasa yang terkesan berada di luar logika dan nalar. Padahal, jika dicermati secara lebih mendalam, bahasa dan kesepakatan makna pada dasarnya akan selalu ada dasar logika yang kuat dibalik keberadaannya. Demikian halnya yang terjadi dalam penyandingan kata “mirip” dan “jodoh” yang selalu dipasangkan.

Tags: #Shilva Lioni
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Harimau Buntung” Karya Johan Arda dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Penyandingan Kata “Mirip” dan “Jodoh”

Berita Terkait

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB

Oleh: M. Subarkah dan Maharani Syifa Ramadhan (Mahasiswa Program Magister Linguistik Universitas Andalas dan Mahasiswi Program Magister Sastra Universitas Padjajaran)...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)    Idulfitri merupakan frasa  bahasa Arab, terdiri...

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB

Oleh: Alya Najwa Abdillah (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan S1 Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Bahasa berkembang seiring dengan berjalannya...

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Oleh: Gilang Nindra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Dalam Tarmini dan Sulistyawati (2019: 1-2), sintaksis...

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Minggu, 12/4/26 | 15:41 WIB

Oleh: Febby Gusmelyyana (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Bahasa adalah sistem komunikasi paling sempurna yang...

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

When Marnie Was There: Pertemuan dan Penerimaan

Discussion about this post

POPULER

  • Ketua Mabincab PMII Kota Padang, Wendriadi saat membrikan sambutan pada pembukaan Konfercab. Sabtu, (25/4) [foto : sci/yrp]

    PMII Diingatkan Tak Jadi Alat Politik, Mabincab Padang Soroti Pragmatisme Kekuasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Annisa Hadiri Sosialisasi Pencabutan PBPH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Kantongi Hasil UKK, 15 Ketua DPC di Sumbar Segera Ditetapkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Generasi Emas Sawit, 114 Pemuda Dharmasraya Ikuti Sosialisasi Beasiswa SDM Perkebunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Jenis-jenis Pola Pikir Manusia, Begini Penjelasan Para Ahli Psikologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026