Kamis, 11/6/26 | 11:27 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Perihal Berbahasa

Minggu, 03/7/22 | 09:17 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

“Pakai bahasa Inggris aja, Kak! Susah kalau pakai bahasa Indonesia, bahasa Inggrisku lebih lancar.” Kira-kira seperti itulah ujaran seorang siswa sekolah menengah dari yang diceritakan oleh salah seorang teman saya. Kala itu, ia tengah mewawancarai siswa itu untuk keperluan membuat berita. “Wah, mantap betul adik ini,” ujar saya dalam hati.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Menanggapi hal tersebut, sebetulnya ada rasa kagum namun di samping itu juga ada rasa yang mengkhawatirkan. Siswa itu memang harus diberi apresiasi sebab ia telah memiliki kemampuan menguasai bahasa asing di saat tidak semua orang bisa melakukannya. Kelak, hal itu bisa saja mengantarkan ia pada kehidupan yang lebih luas karena bekal berbahasa asing yang sering menjadi poin tambahan untuk keperluan pendidikan dan pekerjaan. Namun, hal yang agak disayangkan ialah mengenyampingkan bahasa ibunya sendiri.

Saat ini, banyak media pembelajaran yang dapat membantu untuk belajar bahasa asing. Di era keterbukaan informasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, tentu membuka jalan bagi siapa saja untuk dapat mengakses informasi berbahasa asing. Saya juga tidak menafikkan bahwa penguasaan bahasa asing saat sekarang juga perlu. Namun, bukan berarti mengabaikan bahasa sendiri.

Saat masih menempuh pendidikan sarjana, saya ingat salah seorang dosen mengomentari ejaan dalam artikel yang dibuat oleh seorang teman. Ia menuliskan kata ‘dirumah’ dalam artikelnya. Akan tetapi, dalam bahasa Inggris ia menulis dengan baik. “Kita mengikuti aturan dalam bahasa lain, tetapi kenapa tidak dengan bahasa sendiri?” Begitulah kira-kira tanggapan dosen tersebut. Hal yang sama nyatanya tidak dialami oleh seorang atau dua orang dosen saja. Saya menjumpai salah satu cuitan yang mengatakan bahwa mahasiswa begitu apik menulis artikel dalam bahasa Inggris, tetapi amburadul ketika menulis dalam bahasa Indonesia.

Kemudian, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan. Apakah berbahasa Inggris atau mencampurnya dengan bahasa Indonesia menjadi penanda tingat kecerdasan dan pergaulan seseorang? Atau apakah hal itu salah satu bentuk ketidaktahuan seseorang? Pernah pula saya bertemu sebuah cuitan yang berkata, alasan ia sering mencampur bahasa ialah karena tidak adanya padanan kata bahasa Inggris itu dalam bahasa Indonesia. Untuk hal ini, saya lebih setuju dengan yang dikatakan Ariel Heryanto dalam salah satu artikelnya yang terbit di Kompas pada tahun 2006 silam. Di sana ia mengatakan bahwa penggunaan istilah asing bukan penanda kecerdasan atau siasat kebarat-baratan, tetapi karena ketidaktahuan dan kemalasan.

Memang, saat ini, sebagian istilah asing terlanjur populer di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Selain itu, juga tidak semua istilah asing dapat segera ditemukan padanannya karena itu bukanlah hal yang mudah. Namun, pemadanan kata tidak pula boleh absen dalam pemerkayaan bahasa. Pemerkayaan bahasa ini menurut saya juga tidak boleh berhenti pada tugas para linguis dan pemerhati bahasa saja. Akan tetapi, kita perlu ikut menerapkannya dengan menggunakan bahasa itu. Ketika bisa mengerahkan kemampuan untuk aktif berbahasa asing, kenapa tidak dilakukan pula terhadap bahasa sendiri (bahasa ibu)?

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata “Tiap-Tiap” dan “Masing-Masing”

Berita Sesudah

Perubahan Makna pada Kata “Pelaku”

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Berita Sesudah
Perempuan dalam Buku Kesaksian Sepasang Sendal Sebuah Antitesis

Perubahan Makna pada Kata "Pelaku"

Discussion about this post

POPULER

  • PT Selago Makmur Plantation Diduga Tidak Salurkan Dana CSR ke Nagari Abai Siat

    PT Selago Makmur Plantation Diduga Tidak Salurkan Dana CSR ke Nagari Abai Siat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wagub Sumbar Jadi Motor Pemenangan Caketum HIPMI, Pengamat Ingatkan Risiko Konflik Kepentingan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Operasi Patuh Singgalang 2026 di Pariaman Ditunda, Polisi Tunggu Instruksi Mabes

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026