Minggu, 26/7/26 | 22:46 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Perihal Berbahasa

Minggu, 03/7/22 | 09:17 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

“Pakai bahasa Inggris aja, Kak! Susah kalau pakai bahasa Indonesia, bahasa Inggrisku lebih lancar.” Kira-kira seperti itulah ujaran seorang siswa sekolah menengah dari yang diceritakan oleh salah seorang teman saya. Kala itu, ia tengah mewawancarai siswa itu untuk keperluan membuat berita. “Wah, mantap betul adik ini,” ujar saya dalam hati.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Menanggapi hal tersebut, sebetulnya ada rasa kagum namun di samping itu juga ada rasa yang mengkhawatirkan. Siswa itu memang harus diberi apresiasi sebab ia telah memiliki kemampuan menguasai bahasa asing di saat tidak semua orang bisa melakukannya. Kelak, hal itu bisa saja mengantarkan ia pada kehidupan yang lebih luas karena bekal berbahasa asing yang sering menjadi poin tambahan untuk keperluan pendidikan dan pekerjaan. Namun, hal yang agak disayangkan ialah mengenyampingkan bahasa ibunya sendiri.

Saat ini, banyak media pembelajaran yang dapat membantu untuk belajar bahasa asing. Di era keterbukaan informasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, tentu membuka jalan bagi siapa saja untuk dapat mengakses informasi berbahasa asing. Saya juga tidak menafikkan bahwa penguasaan bahasa asing saat sekarang juga perlu. Namun, bukan berarti mengabaikan bahasa sendiri.

Saat masih menempuh pendidikan sarjana, saya ingat salah seorang dosen mengomentari ejaan dalam artikel yang dibuat oleh seorang teman. Ia menuliskan kata ‘dirumah’ dalam artikelnya. Akan tetapi, dalam bahasa Inggris ia menulis dengan baik. “Kita mengikuti aturan dalam bahasa lain, tetapi kenapa tidak dengan bahasa sendiri?” Begitulah kira-kira tanggapan dosen tersebut. Hal yang sama nyatanya tidak dialami oleh seorang atau dua orang dosen saja. Saya menjumpai salah satu cuitan yang mengatakan bahwa mahasiswa begitu apik menulis artikel dalam bahasa Inggris, tetapi amburadul ketika menulis dalam bahasa Indonesia.

Kemudian, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan. Apakah berbahasa Inggris atau mencampurnya dengan bahasa Indonesia menjadi penanda tingat kecerdasan dan pergaulan seseorang? Atau apakah hal itu salah satu bentuk ketidaktahuan seseorang? Pernah pula saya bertemu sebuah cuitan yang berkata, alasan ia sering mencampur bahasa ialah karena tidak adanya padanan kata bahasa Inggris itu dalam bahasa Indonesia. Untuk hal ini, saya lebih setuju dengan yang dikatakan Ariel Heryanto dalam salah satu artikelnya yang terbit di Kompas pada tahun 2006 silam. Di sana ia mengatakan bahwa penggunaan istilah asing bukan penanda kecerdasan atau siasat kebarat-baratan, tetapi karena ketidaktahuan dan kemalasan.

Memang, saat ini, sebagian istilah asing terlanjur populer di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Selain itu, juga tidak semua istilah asing dapat segera ditemukan padanannya karena itu bukanlah hal yang mudah. Namun, pemadanan kata tidak pula boleh absen dalam pemerkayaan bahasa. Pemerkayaan bahasa ini menurut saya juga tidak boleh berhenti pada tugas para linguis dan pemerhati bahasa saja. Akan tetapi, kita perlu ikut menerapkannya dengan menggunakan bahasa itu. Ketika bisa mengerahkan kemampuan untuk aktif berbahasa asing, kenapa tidak dilakukan pula terhadap bahasa sendiri (bahasa ibu)?

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata “Tiap-Tiap” dan “Masing-Masing”

Berita Sesudah

Perubahan Makna pada Kata “Pelaku”

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Berita Sesudah
Perempuan dalam Buku Kesaksian Sepasang Sendal Sebuah Antitesis

Perubahan Makna pada Kata "Pelaku"

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Luncurkan Program Smart Surau untuk Makmurkan Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026