Rabu, 04/3/26 | 05:31 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Perihal Berbahasa

Minggu, 03/7/22 | 09:17 WIB
Ngerumpi

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

“Pakai bahasa Inggris aja, Kak! Susah kalau pakai bahasa Indonesia, bahasa Inggrisku lebih lancar.” Kira-kira seperti itulah ujaran seorang siswa sekolah menengah dari yang diceritakan oleh salah seorang teman saya. Kala itu, ia tengah mewawancarai siswa itu untuk keperluan membuat berita. “Wah, mantap betul adik ini,” ujar saya dalam hati.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Menanggapi hal tersebut, sebetulnya ada rasa kagum namun di samping itu juga ada rasa yang mengkhawatirkan. Siswa itu memang harus diberi apresiasi sebab ia telah memiliki kemampuan menguasai bahasa asing di saat tidak semua orang bisa melakukannya. Kelak, hal itu bisa saja mengantarkan ia pada kehidupan yang lebih luas karena bekal berbahasa asing yang sering menjadi poin tambahan untuk keperluan pendidikan dan pekerjaan. Namun, hal yang agak disayangkan ialah mengenyampingkan bahasa ibunya sendiri.

Saat ini, banyak media pembelajaran yang dapat membantu untuk belajar bahasa asing. Di era keterbukaan informasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, tentu membuka jalan bagi siapa saja untuk dapat mengakses informasi berbahasa asing. Saya juga tidak menafikkan bahwa penguasaan bahasa asing saat sekarang juga perlu. Namun, bukan berarti mengabaikan bahasa sendiri.

Saat masih menempuh pendidikan sarjana, saya ingat salah seorang dosen mengomentari ejaan dalam artikel yang dibuat oleh seorang teman. Ia menuliskan kata ‘dirumah’ dalam artikelnya. Akan tetapi, dalam bahasa Inggris ia menulis dengan baik. “Kita mengikuti aturan dalam bahasa lain, tetapi kenapa tidak dengan bahasa sendiri?” Begitulah kira-kira tanggapan dosen tersebut. Hal yang sama nyatanya tidak dialami oleh seorang atau dua orang dosen saja. Saya menjumpai salah satu cuitan yang mengatakan bahwa mahasiswa begitu apik menulis artikel dalam bahasa Inggris, tetapi amburadul ketika menulis dalam bahasa Indonesia.

Kemudian, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan. Apakah berbahasa Inggris atau mencampurnya dengan bahasa Indonesia menjadi penanda tingat kecerdasan dan pergaulan seseorang? Atau apakah hal itu salah satu bentuk ketidaktahuan seseorang? Pernah pula saya bertemu sebuah cuitan yang berkata, alasan ia sering mencampur bahasa ialah karena tidak adanya padanan kata bahasa Inggris itu dalam bahasa Indonesia. Untuk hal ini, saya lebih setuju dengan yang dikatakan Ariel Heryanto dalam salah satu artikelnya yang terbit di Kompas pada tahun 2006 silam. Di sana ia mengatakan bahwa penggunaan istilah asing bukan penanda kecerdasan atau siasat kebarat-baratan, tetapi karena ketidaktahuan dan kemalasan.

Memang, saat ini, sebagian istilah asing terlanjur populer di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Selain itu, juga tidak semua istilah asing dapat segera ditemukan padanannya karena itu bukanlah hal yang mudah. Namun, pemadanan kata tidak pula boleh absen dalam pemerkayaan bahasa. Pemerkayaan bahasa ini menurut saya juga tidak boleh berhenti pada tugas para linguis dan pemerhati bahasa saja. Akan tetapi, kita perlu ikut menerapkannya dengan menggunakan bahasa itu. Ketika bisa mengerahkan kemampuan untuk aktif berbahasa asing, kenapa tidak dilakukan pula terhadap bahasa sendiri (bahasa ibu)?

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata “Tiap-Tiap” dan “Masing-Masing”

Berita Sesudah

Perubahan Makna pada Kata “Pelaku”

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Perempuan dalam Buku Kesaksian Sepasang Sendal Sebuah Antitesis

Perubahan Makna pada Kata "Pelaku"

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Fadli Amran Lantik Empat Pimpinan Tinggi Pratama dan 50 Kepsek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Pimpin Apel Gelar Pasukan Persiapan Ramadhan 1447 Hijriah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Metafora dalam Puisi-puisi Sanusi Pane

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024