Jumat, 29/8/25 | 18:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Perihal Berbahasa

Minggu, 03/7/22 | 09:17 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

“Pakai bahasa Inggris aja, Kak! Susah kalau pakai bahasa Indonesia, bahasa Inggrisku lebih lancar.” Kira-kira seperti itulah ujaran seorang siswa sekolah menengah dari yang diceritakan oleh salah seorang teman saya. Kala itu, ia tengah mewawancarai siswa itu untuk keperluan membuat berita. “Wah, mantap betul adik ini,” ujar saya dalam hati.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Rumah dan Kenangan yang Abadi

Minggu, 24/8/25 | 21:15 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tuah Rumah

Minggu, 17/8/25 | 19:03 WIB

Menanggapi hal tersebut, sebetulnya ada rasa kagum namun di samping itu juga ada rasa yang mengkhawatirkan. Siswa itu memang harus diberi apresiasi sebab ia telah memiliki kemampuan menguasai bahasa asing di saat tidak semua orang bisa melakukannya. Kelak, hal itu bisa saja mengantarkan ia pada kehidupan yang lebih luas karena bekal berbahasa asing yang sering menjadi poin tambahan untuk keperluan pendidikan dan pekerjaan. Namun, hal yang agak disayangkan ialah mengenyampingkan bahasa ibunya sendiri.

Saat ini, banyak media pembelajaran yang dapat membantu untuk belajar bahasa asing. Di era keterbukaan informasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, tentu membuka jalan bagi siapa saja untuk dapat mengakses informasi berbahasa asing. Saya juga tidak menafikkan bahwa penguasaan bahasa asing saat sekarang juga perlu. Namun, bukan berarti mengabaikan bahasa sendiri.

Saat masih menempuh pendidikan sarjana, saya ingat salah seorang dosen mengomentari ejaan dalam artikel yang dibuat oleh seorang teman. Ia menuliskan kata ‘dirumah’ dalam artikelnya. Akan tetapi, dalam bahasa Inggris ia menulis dengan baik. “Kita mengikuti aturan dalam bahasa lain, tetapi kenapa tidak dengan bahasa sendiri?” Begitulah kira-kira tanggapan dosen tersebut. Hal yang sama nyatanya tidak dialami oleh seorang atau dua orang dosen saja. Saya menjumpai salah satu cuitan yang mengatakan bahwa mahasiswa begitu apik menulis artikel dalam bahasa Inggris, tetapi amburadul ketika menulis dalam bahasa Indonesia.

Kemudian, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan. Apakah berbahasa Inggris atau mencampurnya dengan bahasa Indonesia menjadi penanda tingat kecerdasan dan pergaulan seseorang? Atau apakah hal itu salah satu bentuk ketidaktahuan seseorang? Pernah pula saya bertemu sebuah cuitan yang berkata, alasan ia sering mencampur bahasa ialah karena tidak adanya padanan kata bahasa Inggris itu dalam bahasa Indonesia. Untuk hal ini, saya lebih setuju dengan yang dikatakan Ariel Heryanto dalam salah satu artikelnya yang terbit di Kompas pada tahun 2006 silam. Di sana ia mengatakan bahwa penggunaan istilah asing bukan penanda kecerdasan atau siasat kebarat-baratan, tetapi karena ketidaktahuan dan kemalasan.

Memang, saat ini, sebagian istilah asing terlanjur populer di kalangan masyarakat, terutama anak muda. Selain itu, juga tidak semua istilah asing dapat segera ditemukan padanannya karena itu bukanlah hal yang mudah. Namun, pemadanan kata tidak pula boleh absen dalam pemerkayaan bahasa. Pemerkayaan bahasa ini menurut saya juga tidak boleh berhenti pada tugas para linguis dan pemerhati bahasa saja. Akan tetapi, kita perlu ikut menerapkannya dengan menggunakan bahasa itu. Ketika bisa mengerahkan kemampuan untuk aktif berbahasa asing, kenapa tidak dilakukan pula terhadap bahasa sendiri (bahasa ibu)?

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata “Tiap-Tiap” dan “Masing-Masing”

Berita Sesudah

Perubahan Makna pada Kata “Pelaku”

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Rumah dan Kenangan yang Abadi

Minggu, 24/8/25 | 21:15 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Minggu lalu, tepat pada 17 Agustus 2025, saya menulis sebuah catatan...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tuah Rumah

Minggu, 17/8/25 | 19:03 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Dalam dua tahun terakhir, rumah saya di kampung lebih sering sepi....

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Rahasia di Balik Semangkuk Mi Rebus

Minggu, 10/8/25 | 19:24 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Sore itu, hujan mengguyur tanpa henti sejak siang, menebar hawa dingin yang merayap masuk...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Melangkah Pelan dalam Dunia Pernaskahan: Catatan dari Masterclass Naskah Sumatera

Minggu, 03/8/25 | 21:28 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Menjadi peserta Masterclass Naskah Sumatera yang diadakan oleh SOAS University of...

Suatu Hari di Sekolah

Fiksi dan Fakta: Dua Sayap Literasi

Minggu, 27/7/25 | 16:28 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Perdebatan soal bacaan fiksi dan nonfiksi kerap muncul di...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Ruang Bernama Kita

Minggu, 20/7/25 | 21:04 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Pada 16 Februari 2025, saya pernah menulis di rubrik...

Berita Sesudah
Perempuan dalam Buku Kesaksian Sepasang Sendal Sebuah Antitesis

Perubahan Makna pada Kata "Pelaku"

Discussion about this post

POPULER

  • Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buzzer, Kominfo, dan Tensi Politik Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 401 PPPK di Pesisir Selatan Resmi Dilantik, Bupati Ingatkan Jangan Gadaikan SK ke Bank

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Solok Tutup Safari Berburu Hama, Dorong Perlindungan Pertanian dan Silaturahmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukittinggi Didorong Jadi Kota Beradat, Berbudaya, dan Ramah Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tragedi Affan, PMII Padang Ingatkan Jangan Ada Impunitas Aparat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024