Minggu, 01/3/26 | 14:37 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Menggunakan Kalimat Sederhana dalam Menulis

Minggu, 20/12/20 | 19:37 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Arswendo Atmowiloto dalam bukunya Mengarang Itu Gampang (2004) mengatakan bahwa menulis itu gampang bila dipraktikkan dengan banyak latihan. Lalu, Hernowo dalam buku yang berjudul Andai Buku itu Sepotong Pizza (2003) juga menyampaikan menulis itu ibarat makan pizza yang enak dan penting untuk menggunakan kalimat sesederhana serta seefektif mungkin.

Kita boleh setuju menulis itu gampang jika tahu trik dan banyak latihan. Salah satu trik menulis gampang adalah dengan menggunakan kalimat sederhana. Kalimat sederhana mudah dipahami pembaca. Pesan-pesan di dalamnya juga mudah dicerna karena hakikat menulis adalah menyampaikan pesan. Namun, menulis kalimat sederhana tidaklah sesederhana namanya. Kebanyakan penulis pemula sulit membuat kalimat sederhana karena belum terbiasa atau belum terlatih dalam menulis. Mereka terjebak menulis kalimat yang panjang-panjang.

Pada masa-masa awal kepenulisan, penting bagi seorang penulis pemula untuk bersabar menata kalimat. Tidak jarang, para penulis pemula dengan emosional menggunakan kalimat-kalimat yang panjangnya mencapai satu paragraf. Kalimat panjang akan menyusahkan pembaca. Kalimat panjang tidak memberikan ruang bagi pembaca untuk jeda bernapas atau berhenti sejenak. Kalimat seperti ini akan mengganggu dan membuat pembaca tidak nyaman. Dengan kata lain, penulis tidak bertoleransi dan tidak mempertimbangkan keberadaan pembaca.

Seorang penulis seharusnya mempunyai tanggung jawab moral terhadap pembaca, termasuk tanggung jawab moral dalam mempertimbangakan situasi pembaca. Seorang penulis sepatutnya memberikan ruang pada pembaca untuk menikmati kalimat demi kalimat yang ia tulis. Salah satu caranya adalah dengan membuat kalimat sederhana. Lalu, seperti apa bentuk kalimat sederhana?

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Kalimat sederhana pada umumnya pendek-pendek. Kalimat sederhana adalah kalimat yang mempunyai struktur yang sederhana, seperti subjek predikat (SP) saja, subjek predikat objek (SPO), subjek predikat keterangan (SPK), atau subjek predikat pelengkap (SPPel). Kalimat sederhana merupakan kalimat tunggal atau bukan kalimat majemuk. Kalimat sederhana bisa berbentuk kalimat minor atau kalimat dengan satu klausa.
Contohnya kalimat minor.

      1. Enaknya !
      2. Amboi bagusnya!
      3. Aduh, menjengkelkan !
      4. Indahnya!
      5. Pedas sekali !

Contoh kalimat dengan satu klausa atau kalimat tunggal.

      1. Dia menatapku. (SP)
      2. Kami melangkah tanpa bicara. (SPO)
      3. Aku tersipu malu. (SPPel)
      4. Aku menyembunyikan perasaan. (SPO)
      5. Kita sudah lama tidak bertemu. (SP)

Sungguh menyenangkan membaca narasi dengan kalimat sederhana. Kalimatnya mudah dipahami dan maksudnya juga jelas. Kalimat sederhana tidak hanya disarankan bagi penulis pemula, tetapi penulis-penulis berpengalaman juga senang menggunakan kalimat sederhana. Berikut contoh kalimat sederhana dalam beberapa novel.

Contoh kalimat sederhana dalam novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer.

Pengantin itu bergandengan. Tanpa bicara, mereka meneruskan perjalanan. Keramaian membuncah lagi. Tapi para pengiring tepat di belakang pengantin diam membisu. Pengantin menolak ditunjang. (Toer, 2002:100)

Contoh kalimat sederhana dalam novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata.

Sepeda meluncur dengan tenang. Tara dan ibunya menikmati bundaran taman kota yang mulai ramai. Orang-orang hilir mudik. (Hirata, 2017:21)

Kami malah makin kompak. Taripol seperti orang tak bermata dengan telinga yang tajam. Aku seperti orang tak bertelinga dengan mata yang tajam. Bayangkan, jika kami bersatu. (Hirata, 2017:17)

Contoh kalimat sederhana dalam novel Love Spark in Korea karya Asma Nadia.

Sosok berpostur atletis itu berdiri di sana. Persis menutupi lensa kamera. Kalau saja boleh, Rania ingin memintanya menyingkir. (Nadia, 2015:2)

Sepasang kelopak indah terpejam. Sosok yang akrab belakangan ini, utuh bermain di benak. Lelaki yang mengucapkan suka hari ketiga pertemuan. Kata suka yang berubah menjadi cinta. Namun, tidak diiringi ketegasan ke mana hubungan mereka akan dibawa.(Nadia, 2015:2)

Demikian contoh-contoh kalimat sederhana yang digunakan dalam novel. Dalam kalimat sederhana tersebut, pesan yang disampaikan penulis mudah dipahami. Kalimatnya juga enak untuk dibaca karena pendek-pendek. Kita sering mendengar komentar,“Saya suka membaca tulisan/cerpen/novel pengarang A atau pengarang B karena kalimat yang digunakannya sederhana, pendek-pendek, dan mudah dipahami.” Jarang ada ada komentar, “Saya suka karya pengarang A atau pengarang B karena kalimat yang digunakannya panjang-panjang.” Secara logika, pembaca lebih menyukai kalimat sederhana dan pendek daripada kalimat yang panjang-panjang dan sulit dipahami. Jadi, mulai sekarang, mari belajar menggunakan kalimat sederhana dalam menulis agar tulisan kita enak dibaca dan mudah dipahami. Semoga bermanfaat.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketika Merek Menjadi Nama Sebuah Benda

Berita Sesudah

Manfaat La Nina, Si Pembawa Hujan di Indonesia

Berita Terkait

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Berita Sesudah
Nurul Latifa

Manfaat La Nina, Si Pembawa Hujan di Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Perhatikan Masjid hingga Dampak Bencana, Firdaus Gugah Warga Lubuk Alung Lewat Safari Ramadan

    Perhatikan Masjid hingga Dampak Bencana, Firdaus Gugah Warga Lubuk Alung Lewat Safari Ramadan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Orang Tewas di Konsesi PT Bina, Warga Desak Disnaker Evaluasi Standar K3

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjanjikan, Walnag Sipangkur Ajak Pemuda Kelola Jagung di Lahan Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pererat Silaturahmi, Polres Dharmasraya Ajak OKP Se-Kabupaten Bukber dan Dialog

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Realitas Kekuasaan Budaya Politik Elite di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024