
Kabupaten Solok, Scientia.id – Percepatan literasi digital di Sumatera Barat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Digital Safety Champions: Membangun Literasi Online Trust and Safety di Kalangan Pelajar di Indonesia yang digelar di SMK Negeri 2 Gunung Talang, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 130 siswa tersebut mendapat perhatian Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Barat, Nurfirmanwansyah, yang memberikan apresiasi terhadap langkah Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Sumatera Barat dalam memperkuat literasi digital di kalangan generasi muda.
Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi Relawan TIK, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Internet Society Indonesia Jakarta Chapter, IDAcademy, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), dan Universitas Esa Unggul.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keamanan digital tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, akademisi, dan masyarakat untuk membangun ruang digital yang aman, sehat, serta produktif.
Dalam kesempatan tersebut, Nurfirmanwansyah menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan infrastruktur fisik. Kualitas sumber daya manusia harus menjadi perhatian utama, terutama ketika teknologi digital semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.
“Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun infrastruktur fisik, tetapi juga bangsa yang mampu membangun kualitas manusianya,” demikian pesan yang disampaikan Nurfirmanwansyah dalam sambutannya.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuka peluang besar bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan, membangun usaha, mengembangkan kreativitas, dan memperkenalkan potensi daerah kepada dunia.
Namun, di balik peluang tersebut, terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Perundungan siber (cyberbullying), penipuan daring, penyalahgunaan data pribadi, penyebaran hoaks, hingga manipulasi informasi merupakan ancaman nyata yang membutuhkan perhatian bersama.
Terlebih lagi, perkembangan kecerdasan buatan telah membuat produksi dan penyebaran konten digital semakin mudah. Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat berisiko menjadi korban informasi palsu maupun penyalahgunaan teknologi.
Karena itu, Nurfirmanwansyah memandang pendidikan literasi digital sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia sekaligus investasi untuk menyiapkan generasi penerus bangsa.
“Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita yang kita ucapkan. Indonesia Emas 2045 adalah tanggung jawab yang harus kita persiapkan bersama,” menjadi pesan kuat yang relevan dengan upaya membangun generasi muda yang cakap teknologi, berkarakter, dan bertanggung jawab.
Apresiasi terhadap RTIK Sumbar tersebut sekaligus menegaskan pentingnya memperluas pendidikan keamanan digital hingga ke lingkungan sekolah, sehingga pelajar tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami risiko dan etika dalam pemanfaatannya.
Percepatan Literasi Digital Tidak Boleh Ditunda

Sementara itu, Ketua RTIK Sumatera Barat, Yendi Putra, dalam sambutannya menekankan bahwa percepatan literasi digital di Sumatera Barat merupakan tanggung jawab bersama yang tidak boleh terus ditunda.
Menurut Yendi, penggunaan media sosial yang semakin luas harus diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai keamanan akun, perlindungan data pribadi, serta kemampuan memeriksa kebenaran informasi.
Ia turut menyoroti besarnya penggunaan media sosial di Indonesia. Mengacu pada angka yang disebutkannya dalam kegiatan tersebut, jumlah pengguna media sosial telah melampaui 200 juta. Angka itu perlu dibaca secara cermat karena satu orang dapat memiliki lebih dari satu akun dan jumlah akun tidak selalu sama dengan jumlah individu pengguna.
Di tengah perkembangan teknologi berbasis AI, persoalan keamanan digital menjadi semakin kompleks. Konten manipulatif, penipuan dengan identitas palsu, serta informasi yang tampak meyakinkan tetapi belum tentu benar menuntut masyarakat untuk lebih berhati-hati.
Yendi menegaskan, literasi digital bukan hanya persoalan kemampuan mengoperasikan perangkat atau mengakses internet. Lebih dari itu, literasi digital menyangkut kemampuan berpikir kritis, menjaga etika, memahami risiko, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Melalui kegiatan tersebut, RTIK Sumbar berharap para pelajar dapat menjadi agen perubahan yang ikut menyebarkan pemahaman tentang keamanan digital di sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Keseriusan kegiatan ini juga terlihat dari kehadiran Supri Ardi, pegiat media sosial berbasis kecerdasan buatan, serta Rahmad Saputra, akademisi dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Kehadiran praktisi media sosial dan akademisi diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta, baik mengenai perkembangan teknologi AI maupun tantangan keamanan dan tanggung jawab dalam aktivitas digital sehari-hari.
Bagi kalangan pelajar, pemahaman tersebut menjadi semakin penting. Mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna aktif media sosial, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, mengenali potensi penipuan, menjaga identitas digital, dan menghasilkan konten yang bermanfaat.
Dengan bekal literasi yang tepat, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, pengembangan kreativitas, peningkatan keterampilan, hingga penciptaan peluang ekonomi pada masa mendatang.
Pihak SMK Negeri 2 Gunung Talang menyambut baik pelaksanaan kegiatan yang melibatkan para pelajar tersebut. Dukungan juga terlihat dari jajaran majelis guru dan antusiasme siswa yang mengikuti rangkaian kegiatan.
Ungkapan “kalau bisa, tambah ciek lai” menjadi gambaran harapan agar kegiatan edukasi semacam ini tidak berhenti pada satu kesempatan, tetapi dapat kembali dilaksanakan dengan jangkauan dan manfaat yang lebih luas.
Antusiasme tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa sekolah memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan karakter dan peningkatan kecakapan digital generasi muda.
Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, melainkan juga tempat menanamkan kesadaran tentang bagaimana bersikap bijak, menjaga kehormatan diri, dan menghormati orang lain di ruang digital.
Kegiatan di SMKN 2 Gunung Talang membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar sosialisasi teknologi. Ada tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa kemajuan digital berjalan seiring dengan peningkatan kualitas manusia.
Pemerintah, komunitas digital, lembaga pendidikan, akademisi, dan keluarga perlu terus membangun kolaborasi agar generasi muda tidak hanya mampu mengikuti perubahan zaman, tetapi juga sanggup menghadapinya dengan pengetahuan dan karakter yang kuat.
Pada akhirnya, masa depan digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat jaringan internet berkembang atau seberapa canggih teknologi yang digunakan. Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam menjaga keamanan, menghargai kebenaran, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dari SMKN 2 Gunung Talang, semangat tersebut diharapkan terus tumbuh: melahirkan pelajar yang bukan hanya cerdas secara digital, tetapi juga matang dalam berpikir, santun dalam bertindak, dan siap berkontribusi bagi Sumatera Barat serta Indonesia.
Sebab, menyiapkan Indonesia Emas 2045 berarti menyiapkan manusianya mulai hari ini. (*)







![Anggota DPRD Sumbar, Donizar saat membuka Festival 10 Induk di Pasaman. Senin, (12/10) [foto: ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261012-WA00052-350x250.jpg)

