
Lebaran selalu identik dengan kue. Kue-kue dimasukkan ke dalam wadah yang cantik, baik dari kaca atau dari plastik. Tugas anak-anak saat Lebaran salah satunya memasukkan kue ke dalam wadah cantik ini. Siapa sangka, ketika kami Lebaran ke Padangpanjang, Oma meminta anak cucunya memasukkan kue ke dalam poleh.
Mendengar kata poleh, tentu saja tidak semua generasi tahu. Jangankan Gen Alpha, Gen Z dan Generasi Milenial juga semuanya tidak tahu kata poleh dalam bahasa Minangkabau ini. Poleh merupakan wadah yang dipakai untuk menyimpan kue Lebaran yang nanti dihidangkan kepada tamu.
Jika dilihat bentuk katanya, kata poleh seakan-akan bahasa Minangkabau asli. Padahal, jika ditelusuri asal-usul katanya, kata poleh merupakan kreativitas bahasa masyarakat Minangkabau. Kata ini berasal dari bangsa asing yang datang ke Minangkabau.
Dulunya, ketika orang Belanda dan juga orang Inggris datang ke Minangkabau, mereka membawa sejumlah benda, aksesori, dan budaya dari negara masing-masing. Budaya itu kemudian ditiru oleh masyarakat Minangkabau. Salah satu budaya yang dibawanya adalah menyajikan makanan kepada tamu. Tamu disuguhkan makanan dalam wadah-wadah kaca yang amat cantik. Makanan yang disajikan di antaranya adalah makanan kering.
Wadah-wadah penyimpanan makanan tersebut disebut dengan stoples. Namun, karena lidah masyarakat Minangkabau sangat susah menyebutkan suku kata yang memiliki banyak huruf konsonan, seperti stop dan les, terjadilah perubahan pengucapan menjadi to-pe-les, yang kemudian menjadi to-pe-leh, hingga terjadilah proses metatesis, yaitu terjadinya perpindahan posisi fonetik kata sehingga menjadi poleh.
Metatesis merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu metatithenai yang berarti ‘memindahkan’. Dalam konteks linguistik, istilah ini merujuk pada pergeseran posisi fonetik dalam kata, seperti dari stoples menjadi topeles, topeleh, atau poleh. Itu pula sebabnya, sebagian daerah masih menyebutkan topeles atau topeleh dan sebagian lagi menyebutkan poleh.
Ketika kami membincangkan kata poleh ini dengan Generasi Baby Boomers, mereka menyebutkan bahwa kata poleh ini merupakan kosakata lama dalam bahasa Minangkabau. Generasi ini menganggap kata ini adalah kata asli Minangkabau yang sudah lama tidak dipakai lagi. Padahal, dalam sejarahnya, kata ini merupakan kosakata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.
Proses ini menunjukkan bahwa pengguna bahasa sangat kreatif hampir di setiap zamannya. Generasi hari ini misalnya, juga sudah kreatif menciptakan bentuk-bentuk baru melalui proses metatesis, di antaranya ada misua dari suami, kuy dari yuk, sabi dari bisa, woles dari selow, naracap dari pacaran, dan ngab dari bang. Kita bisa melihatnya dari kalimat-kalimat berikut:
(1) “…langsung minta maaf ke misua.”
(2) “Antusias kamu keren parah, Kak, kuy ceki-ceki terus.”
(3) “…kalo bicara tentang gimana caranya bisa asik, sabilah.”
(4) “Jangan pusing-pusing, woles aja napa.”
(5) “Isi lagunya itu, lagu-lagu pas dulu lagi naracap, wkwkw.”
(6) “… tinggal confess aja, Ngab.”
Namun, satu hal yang membedakan fenomena ini adalah bahwa masyarakat dulu menciptakan kosakata baru melalui proses metatesis karena psikologi sosial dan budaya yang dimiliki. Ada keterbatasan dalam menyerap bentuk asing sehingga lahirlah bentuk-bentuk baru yang dianggap mudah untuk diucapkan. Uniknya, hampir semua masyarakat sepakat menggunakan bentuk tersebut sehingga menjadi bentuk baru dalam bahasa Minang.
Sementara itu, generasi muda hari ini sengaja menciptakan bentuk baru sebagai kreativitas bahasa dalam kelompoknya. Akibatnya, kosakata ini hanya dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu saja sebagai bahasa gaul. Generasi-generasi sebelumnya banyak yang tidak mengenal kata ini sehingga kata ini tidak menjadi kosakata baru dalam bahasa Indonesia.
Namun, kehadiran kata poleh dalam bahasa Minangkabau menunjukkan bahwa pengguna bahasa daerah di Indonesia sejak dahulu sudah kreatif dalam berbahasa. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Minangkabau, tetapi juga di daerah Jawa yang dikenal dengan basa walikan.
Di Malang, Jawa Timur, anak-anak muda memanggil mas—untuk menyebut laki-laki yang lebih tua—dengan sam, membalik ucapan Malang dengan Ngalam, bahkan dalam kalimat menghasilkan bentuk berikut.
(7) Oskab ngalam kane ilakes (Bakso Malang enak sekali).
Gorys Keraf, ahli bahasa asal NTT, juga mencatat metatesis di berbagai desa di Pulau Flores, Pulau Adonara, dan Pulau Lembata. Metatesis dalam bahasa daerah tersebut terjadi dalam struktur kalimat yang lebih panjang, seperti berikut.
Na ia pi wata (Ia pergi ke pantai)
Pi wata na ia (Ia pergi ke pantai)
Proses metatesis tersebut menunjukkan bahwa bahasa hidup karena masyarakatnya. Setiap generasi pasti akan selalu memunculkan bentuk-bentuk baru sebagai kreativitas dalam berbahasa. Kreativitas bahasa tersebut menarik untuk diamati dan dikaji.







