
Jakarta, Scientia.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai masyarakat Indonesia sedang berada dalam tekanan perubahan besar yang datang bertubi-tubi. Ia menyebut kondisi ini sebagai multiple shock, dipicu oleh kemajuan teknologi yang melesat jauh lebih cepat dibanding kesiapan sosial dan spiritual masyarakat.
Pernyataan itu disampaikannya saat memberikan arahan kepada aparatur sipil negara Kementerian Agama dalam agenda pembinaan kinerja di Palu, Rabu (1/3/2026).
Menurutnya, kehadiran teknologi mutakhir mulai dari kecerdasan buatan hingga perangkat digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda telah mengubah banyak aspek kehidupan. Bukan hanya cara berkomunikasi atau belajar, tetapi juga cara memahami agama.
Ia mengingatkan bahwa perubahan teknologi tersebut membawa dampak lanjutan pada cara berpikir keagamaan masyarakat. Pergeseran terjadi begitu cepat, dari pendekatan yang selama ini berbasis tradisi menuju pola pikir yang lebih logis dan terbuka, namun berpotensi mengikis kekuatan dasar keyakinan.
Dalam pandangannya, kondisi ini membuat umat berada di posisi yang tidak mudah di satu sisi dihadapkan pada arus pemikiran ekstrem, di sisi lain terdorong ke arah kebebasan berpikir yang tanpa batas.
Selain itu, derasnya arus informasi juga memperumit situasi. Menag menyinggung fenomena post-truth, ketika kebenaran kerap ditentukan oleh persepsi publik, bukan lagi fakta yang objektif.
Tak kalah penting, ia juga mengangkat isu hubungan manusia dengan alam. Kemajuan teknologi, menurutnya, telah mengubah cara manusia memandang lingkungan dari yang semula sakral menjadi sekadar objek yang bisa dieksploitasi. Dampaknya, kerusakan lingkungan kian sulit dihindari.
Di dunia pendidikan keagamaan, penggunaan teknologi seperti AI memang membuka peluang baru. Namun, ia mengingatkan bahwa ada aspek yang tidak bisa digantikan mesin, yakni kedekatan batin antara guru dan murid yang selama ini diyakini membawa nilai keberkahan dalam proses belajar.
Menag pun menegaskan bahwa pekerjaan rumah Kementerian Agama ke depan tidak ringan. Ia mengajak seluruh jajarannya untuk tidak terjebak pada ukuran keberhasilan yang bersifat administratif semata.
Baginya, laporan keuangan yang rapi atau penghargaan institusi bukanlah tolok ukur utama. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana negara mampu menghadirkan agama secara nyata dalam kehidupan umat.
“Kalau umat semakin memahami dan mengamalkan ajaran agamanya, di situlah ukuran keberhasilan kita,” tegasnya.
Ia juga mendorong terbangunnya kekompakan lintas organisasi keagamaan. Perbedaan pandangan, menurutnya, tidak boleh menjadi penghalang dalam menjaga fondasi keyakinan masyarakat.
Baca Juga: Kemenag Pastikan Informasi Hibah Arab Saudi untuk Pribadi Adalah Hoaks
Di akhir arahannya, Menag mengingatkan pentingnya integritas dan kepekaan terhadap perubahan zaman. Ia menekankan bahwa peran Kementerian Agama bukan sekadar administratif, tetapi juga menjaga arah spiritual masyarakat di tengah derasnya arus modernitas. (*)








