Minggu, 01/2/26 | 13:36 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI CERPEN

Batu dan Zaman

Senin, 15/12/25 | 06:55 WIB

 

Gambar dibuat dengan Meta AI

Cerpen: Hasbi Witir

 

Di sebuah lorong yang bising dan pengap dengan bau yang sangat tidak sedap untuk dihirup, berjejer besi-besi penghalang antara batas lorong dan ruangan-ruangan sempit di dalamnya. Di salah satu ruangan sempit itu tergeletak pria dengan tubuh lunglai dan lesu karena makan sangat sedikit dalam minggu ini. Ia bernama Batu. Badannya kurus, mata nya terbelalak. Batu ditertuduh telah melakukan tindakan suap, korupsi, dan penyebab terjadinya bencana alam. Batu kini hidup sebatang kara. Tidak ada lagi yang pernah melihatnya ke penjara ataupun sekedar bertanya melalui telepon penjara. Kesusahan ini bermula saat arus waktu memukul tepat di keningnya karena keangkuhannya.

Batu sedari kecil hidup dalam keluarga yang sederhana tidaklah begitu mampu namun masih sanggup membeli makan dan minum yang mewah semalam suntuk. Batu memiliki saudara bernama Zaman. Jika dihitung-hitung satu rumah mereka berisi 4 orang, satu ayah, satu ibu, satu Batu, dan satu Zaman. Rumah mereka kecil, tetapi cukup jika Ayah dan Ibu tidak menambah anak ataupun membawa orang lain untuk menumpang.

BACAJUGA

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB
Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Minggu, 12/10/25 | 12:34 WIB

Walaupun Batu dan Zaman kakak beradik sifat mereka bertolak belakang. Kehidupan dan kebiasaan mereka seakan saling berlawanan. Batu yang lebih tua satu tahun dari Zaman memiliki sifat yang arogan dan tidak mau mengalah kepada adiknya. Ketika usia Batu sepuluh tahun, ia pernah melempar Zaman dengan tanah keras hingga pelipis Zaman berdarah.

“Tidakkah kau menyayangi adikmu ini Batu? Dengan apa kau lempar dirinya? Seharusnya kau sebagai abang yang mengalah untuk adikmu, sebab apa pun itu, kau tidak seharusnya melempar adikmu dengan benda-benda keras. Lihatlah sekarang, kening adikmu sudah penuh dengan darah!” Ujar Ibu

Memangnya apa yang bisa diharap dengan menasihati anak sepuluh tahun. Benar saja dari perkataan Ibunya, Batu hanya menangkap untuk tidak melempar benda-benda keras ke pada Zaman. Jadi, setiap mereka main bersama Batu melempar lumpur, kotoran, bahkan lepehan makanan dari mulutnya ke mulut Zaman. Kejahatan Batu kepada zaman terus berlanjut hingga mereka remaja. Saat remaja, keduanyamulai mengenal dunia luar, namun Batu masih saja dengan kenakalannya saat kecil sementara Zaman menjadi sosok yang pendiam dan pemaaf, apa adanya.

Batu semasa SMA mengambil peminatan IPA, sedangkan Zaman IPS. Sebenarnya tidak ada pengaruh besar antara pilihan itu karena nasib setelah SMA di negeri ini terkadang lebih berpihak pada keberuntungan dan “orang dalam”. Batu sering mendapat surat teguran karena dalam beberapa bulan sudah tidak masuk sekolah. Tiga surat teguran ia buang tanpa menunjukkan kepada orang tua. Namun, surat panggilan keempat dan itu merupakan surat terakhir sebelum Batu benar-benar dikeluarkan sekolah, harus ia berikan kepada Ayah atau Ibunya sebab jika tidak Batu akan langsung dikeluarkan tanpa aba-aba.

Sebab utama Batu jarang sekolah adalah motor baru yang diberikan ayah beberapa bulan sebelumnya, motor idamannya. Motor itu memang sedang populer di kalangan anak remaja karena dapat dimodifikasi sesuai selera penggunanya. Begitu pula dengan Batu. Ia mengubahnya sedemikian rupa hingga hamper tidak berbentuk motor, melainkan robot di bagian bawah terpasang semacam pipa menyerupai cerobong. Setiap motor itu hidup, maka asap berwarna abu-abu tua akan keluar dengan sangat banyak. Bagi Batu itu keren. Bagi orang lain, itu hanya polusi dan gangguan jalan.

Setiap hari Batu sibuk memodifikasi motornya tentang apa lagi yang harus dimodifikasi dan apa yang harus ditambah sampai-sampai ia tidak pernah lagi pergi ke sekolah. Ia bolos demi nongkrong di bengkel dan memamerkan motor kepada teman-temannya. Suatu petang, Batu pulang ditemani kawan-kawannya. Ayah sudah menunggu di depan rumah

“Dari mana saja kamu Batu? Baru jam segini pulang, kata Zaman kamu jarang masuk sekolah belakangan ini. Apa kamu hari ini tidak masuk sekolah juga karena motor itu kamu jadi malas sekolah. Tujuan Ayah membelikan motor itu biar kamu semakin rajin sekolah. Kalau begini terus, Ayah jual saja motormu. Ayah sudah bicara dengan Pak RT, dan beliau bersedia membeli motor itu.”

“Enak saja jual motorku! Pak Camat saja menawar motor ini dua kali lipat dari harga asalnya, tapi aku tak mau jual. Sebab itu artinya motorku ini sudah sangat bagus di antara motor-motor orang lain! Aku tahu Pak Camat orang pandai soal motor. Batu mendorong motornya masuk ke rumah sembari melengos dengan rasa bangga.

Keesokan hari, masih sama Batu dan Zaman berangkat sekolah jam enam pagi seperti biasa karena jam waktu masuk sekolah atau kerja di negara ini sangatlah pagi. Hal itu masih berimbang pada pepatah bekerja dan berkegiataan pagi-pagi agar rezeki tidak dipatok ayam, yang padahal jelas ayam tersebut akan mereka makan lagi siang harinya dan rezeki mereka sebenarnya dipatok oleh pajak. Dari pagi tersebut, ayah kembali berpesan kepada Zaman untuk melihat Batu apakah masuk sekolah atau tidak hari itu.

Mungkin kita heran kenapa Ayah tidak langsung memarahi atau bahkan mengantarkan Batu ke sekolah saja. Alasannya sangatlah sederhana, karena Batu memiliki kepala yang sekeras batu dan hati yang sesombong gaji DPR. Jangankan ditegur, ditanya saja Batu bisa marah dan kabur dari rumah berhari-hari tanpa kabar.

Sesampainya Zaman di sekolah, Zaman melihat bangku Batu kosong, sama seperti hari-hari sebelumnya. Lagi-lagi Zaman menghela nafas di depan kelas Batu dan meratapi tentang bagaimana nasib Batu kedepannya. Zaman yang memang sifatnya perhatian dan lembah lembut terus menyisiri lorong-lorong kelas yang panjang berharap akan ada Batu yang sedang lewat ataupun duduk di tepiannya, tetapi sia-sia. Batu jelas pergi ke bengkel. akhirnya sepulang sekolah ia mencoba mendatangi bengkel tempat Batu biasa duduk dan menghabiskan waktunya. Benar saja, di sana terlihat Batu yang sedang mengotak-atik motornya.

“Mengapa kau kemari Zaman? Jika kau kemari hanya untuk menyuruhku pulang, maka pulang lah saja kau, tidak ada gunanya menyuruhku pulang, jika sudah waktunya pulang, maka aku akan pulang dengan sendirinya”

“mengapa kau tidak masuk sekolah lagi Batu? Ayah akan sangat marah jika kau masih terus-terusan bolos sekolah”

“Tidak perlu kau menasehatiku.  Jika kau ingin seperti aku, lakukan saja. Tidak usah iri”

“aku tidak pernah iri. Kalau kau terus-terusan begini, mau jadi apa nantinya”

Batu tidak perduli dengan hal itu, ia masih sibuk mengotak-atok motornya yang tampaknya sudah bagus dan tidak perlu dimodif lagi, namun apa daya, tampaknya ego Batu memang lebih tinggi dari pada akal sehatnya. Akhrinya Zaman pulang dengan semprotan mulut Batu.

***

Setelah lulus SMA dengan nilai pas-pasan, berkat menyuap guru untuk mengubah rapornya, Batu masuk universitas negeri di kota besar. Ia memilih jurusan Manajemen Bisnis, bukan karena minat, tapi karena omongan dari teman-temannya yang bilang jurusan itu mudah dapat kerja dan uang cepat.

“Kemana setelah ini kau Batu? Kerja atau bagaimana?”

“Aku akan lanjut kuliah”

“Wah, tumben sekali kau mau sekolah, lulus SMA ini saja kau seharusnya sudah bersyukur. Hahaha”

“Kau lihat saja nanti. Aku akan mengambil jurusan Manajemen Bisnis, dan menjadi orang kaya”

Ayah dan ibunya tentu saja bangga, meski Zaman juga lulus kuliah hukum di universitas swasta. “Akhirnya kau serius, Nak,” kata Ayah saat melepas Batu ke kos-kosan. Batu hanya tersenyum, pikirnya, “Universitas ini tempat ia belajar cara hidup enak, tidak ada yang mengekang dan mengatu-aturnya lagi, tidak seperti saat ia di rumah.”

Kos-kosan Batu sederhana. Ia berbagi dengan tiga mahasiswa lain yang sama-sama dari keluarga miskin. Hari pertama kuliah, Batu datang terlambat, masih mengantuk setelah bermain semalaman. Kelasnya penuh mahasiswa, dosen wanita berusia 50-an mulai mengajar tentang ekonomi dasar. Batu duduk di belakang, main HP, chatting dengan teman-teman lamanya tentang motor dan cewek. “Ini membosankan,” gumamnya. Saat istirahat, ia bergabung dengan kelompok mahasiswa kaya yang nongkrong di kafe kampus, minum kopi mahal sambil merokok. Salah satu dari mereka, Reza, anak pengusaha properti, mereka langsung akrab, entahlah, mungkin karena mereka satu energi dan satu sifat, membuat mereka menjadi gampang akrab.

“Kau baru? Jurusan apa?” tanya Reza.

“Bisnis” jawab Batu.

“Ohh, berarti sama-sama mahasiswa baru kita”

Mereka langsung klik, setelah mengobrol panjang, Reza ajak Batu ikut pesta di malam hari.

“Jika kau tidak ada kesibukan malam ini, aku berniat mengajakmu datang ke pestaku”

“Pesta apa? Kedengarannya sangat menarik”

“Iya… pesta bersama teman-teman SMA aku dulu, tenang di sana kita akan fun dan enjoy bareng”

Keseharian Batu di universitas penuh rutinitas malas. Ia bangun siang, sekitar pukul 10 pagi, setelah tidur larut karena nonton film, chatting, atau bahkan mengikuti pesta. Sarapan sederhana: nasi goreng dari warung dekat kos, lalu pergi ke kampus naik angkot. Tapi sering ia bolos kelas pagi, lebih suka tidur atau main game di kos. “Kuliah itu opsional,” katanya pada teman sekos. Saat masuk kelas, ia duduk di pojok, tidur atau main HP. Dosen sering panggil namanya, tapi Batu jawab asal. “Pak, saya sakit perut,” bohongnya. Teman-teman sekelas mulai menghindari, karena Batu sering minta contekan atau uang pinjam.

Sore hari, Batu fokus bergaul. Ia ikut organisasi mahasiswa yang katanya “kampuspreneur”, tapi sebenarnya tempat nongkrong dan cari koneksi. Di sana, ia belajar trik pertama bagaimana cara korupsi: menyuap panitia untuk dapat jabatan kosong, seperti bendahara yang bisa “mengatur” anggaran acara. Reza mengajari dia: “Uang kecil sekarang, untung besar nanti.” Batu mulai mempraktikannya, suap teman untuk bantu tugas, atau beli nilai dari asisten dosen dengan menyogokknya uang. Ia juga ikut klub motor kampus, modifikasi motor bekas yang ia beli dengan uang saku dari ayahnya. Setiap malam, motor itu ia panaskan di halaman kos, asap tebal membuat tetangga protes, tapi Batu cuek saja. “Ini keren, bro,” katanya pada Reza.

Malam hari adalah waktu favorit Batu. Ia sering keluar dengan Reza dan teman-temannya yang kaya: makan di restoran mahal, minum bir di bar kampus, atau pergi ke klub malam. Di sana, Batu belajar cara “bernegosiasi” dengan cewek atau dealer narkoba. Ia mulai berhutang sana-sini demi menutupi gengsinya untuk dapat bermain bersama teman-teman kaya rayanya, tapi sebenarnya Batu juga tidak perlu khawatir karena Reza selalu menolongnya untuk meminjam uang. Batu juga jarang menelepon rumah, lebih suka bohong kalau kuliah lancar. Zaman, selalu telepon dan memberi nasihat:

“Kuliah serius, Kak. Jangan seperti dulu.” Namun Batu selalu tertawa.

“Kau cuma iri, Zaman. Urus saja hidupmu, perkulihanmu, aku sudah besar, aku tahu apa yang aku lakukan.”

Semester kedua, Batu mulai memperlihatkan Tindakan korupsi serius. Ia dapat tugas kelompok besar, tapi malas kerja. Ia suap teman sekelompok untuk bantu, dan berjanji bagi hasil. Saat ujian, ia beli jawaban dari mahasiswa senior yang kerja di kantor dosen. Nilainya naik drastis, dari C jadi A dengan mudah sekali, pikirnya. Ia juga ikut proyek kecil kampus seperti acara seminar yang anggarannya ia kurangi untuk beli gadget. Reza selalu mengajarunya trik, yang entah dari mana ia dappatkan, tampaknya dari ayahnya sendiri, karena ayahnya seorang pengusaha korup juga: “Buat laporan fiktif, uangnya buat kita.”

Tapi Zaman datang berkunjung untuk sekedar melihat Batu dan melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu dan Batu juga tidak pernah pulang ke rumah, Zaman melihat Batu nongkrong di kafe.

“Kak, ayah khawatir. Kau tidak pernah mau mengangkat telepon darinya, atau sekedar menyampaikan keadaanmu, atau hari ini kau bolos lagi?” tanya Zaman. Batu marah.

“Kau selalu ikut campur! Aku bisa sukses sendiri, tidak perlu kau payah-payah datang kemari, pulanglah, kedatanganmu ke sini hanya tambah membuatku malas pulang ke rumah”

Zaman tahu ada yang salah. Ia laporkan ke ayah, yang marah dan kurangi uang saku Batu. Batu balas dendam, ia sama sekali tidak pernah mau mengangkat telepon ayahnya, ditemui ayah dan ibunya ke kostpun ia selalu menghindar. Batu mengikuti magang di perusahaan Reza. Di sana ia mendapatkan banyak pengalaman, terutama tentang suap menyuap, korupsi dan hal-hal yang tidak senonoh karena ajaran dari Reza. Batu belajar suap vendor untuk kontrak kecil. Ia mulai punya uang, beli motor baru, pakaian mahal.

Lulus universitas, Batu kerja langsung di perusahaan pertambangan Reza. Memang betul bahwa keberadaan “orang dalam” di negeri ini tidaklah sebuah mitos belaka, ia memang hidup berdampingan dengan kehidupan nyata di negeri ini, bisa dilihat dari Batu. Ia naik cepat, dari staf jadi direktur, berkat suap dan manipulasi yang sedari dulu diajarkan oleh Reza. Ia korupsi besar dengan melakukan izin tambang ilegal, rusak hutan, sebab banjir dan longsor. Batu hidup mewah, berbanding terbalik dengan Zaman, ia menjadi pengacara, Zaman selalu membantu orang-orang yang terzalimi oleh hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Zaman menjadi pengacara yang antikorupsi sebab itulah ia hidup biasa-biasa saja, bahkan ia sering hanya dibayar oleh hasil kebun dari para kliennnya.

Namun, kesuksen Batu tidaklah bertahan lama, Reza mulai merasa dirugikan oleh kerakusan Batu. Ia Menyusun cara dengan menjebak Batu. Reza, dengan bersama beberapa karyawan yang lain, mulai menjebak Batu. Suatu ketika Batu mendapatkan transaksi besar berupa suap untuk proyek pembukaan lahan illegal yang nantinya akan diubah menjadi lahan sawit. Tidak butuh waktu bertahun-tahun lahan seluas 1.200 hektare berubah gundul dan gersang karena pembabatan hutan. Lokasi itu tidaklah jauh dari kampung Batu, tempat Ayah, Ibu dan Zaman tingal.

Reza merekam setiap Tindakan yang dilakukan oleh Batu dengan bantuan dari karyawan-karyawannya yang lain. Reza juga mengumpulkan semua berkas tentang korupsi yang dilakukan oleh Batu, dan akhirnya Batu ditangkap, seluruh bukti diserahkan oleh Reza ke Polisi, Batupun tidak dapat mengelak.

Tidak sampai di situ, dari tindakan yang mengundulkan hutan secara ilegal, akhirnya menjadi menjadi musibah besar, air BAH menerjang setiap rumah, dan longsor menimbun warga sekitar lahan terbuka itu. Suasana di sana menjadi sangat mencekam, tanah hitam dibukit menimpa para warga, tidak terkecuali ayah, ibu dan Zaman. Air hujan hitam turun, rumah-rumah hancur, dan bau tanah lumpur semerbak hingga ke kampung sebelah. Puluhan korban meninggal.

Batu duduk terdiam di ruang interogasi yang pengap, udara bau amis campur keringat dan debu. Penjara itu seperti neraka pribadinya, lorong-lorong sempit dengan dinding beton retak, cahaya neon redup berkedip-kedip, dan suara jeritan tahanan lain yang bergema sepanjang malam. Ia telah dijebloskan ke sel isolasi selama seminggu. Tubuhnya yang dulu tampak atletis kini lunglai, mata cekung karena kurang tidur, dan tangan gemetar akibat stres. Pakaian penjara kusam menempel di kulitnya, bau lumpur dari sel yang sangat menyengat. Ia makan nasi basi dan air keruh, tidur di kasur tipis penuh kutu, dan setiap hari mendengar penjaga berteriak, “Bangun, para pecundang, sudah siang!” Pikirannya kacau, kenangan masa kecil, motor kesayangannya, Ayah dan Ibu yang selalu perhatian padanya serta  Zaman yang selalu ia abaikan. Mulai timbul penyesalan dirinya dibalik jeruji besi tersebut.

Penyidik utama, seorang wanita berusia 40-an bernama Siti, masuk ruangan dengan map tebal. “Pak Batu, kami punya bukti lengkap,” katanya dingin, meletakkan video rekaman dari Reza. Terlihat setiap tindakan menyuap atas nama Batu, dokumen transfer uang haram, dan foto-foto kerusakan hutan yang ia sebabkan.

“Tambang ilegal Anda menyebabkan erosi tanah, sungai tersumbat, dan akhirnya bencana. Anda bertanggung jawab atas 50 nyawa hilang.”

Batu menatap lantai, suaranya parau.  “Aku… aku tidak tahu itu separah itu. Reza yang mulai.”

Siti tersenyum sinis. “Anda yang korupsi, Pak. Suap ke Bupati, pejabat kementerian, dan semuanya sudah terekam jelas. Anda akan dihukum seumur hidup.”

Interogasi berlangsung berjam-jam, Batu dicecar pertanyaan, dipaksa akui transaksi, Tubuhnya lelah, pikirannya berputar tentang keluarga. “Ayah, Ibu… mereka baik-baik saja, kan?” pikirnya.

Akhirnya, Siti buka map lain. “Ada berita buruk, Pak. Longsor dan banjir bandang menerjang desa tempat orang tua Anda tinggal. Rumah mereka hancur, ayah, ibu, dan adik Anda Zaman, mereka semua tewas. Tidak ada yang tersisa. Tubuh-tubuh ditemukan tertimbun lumpur dan batu.

Batu terdiam, dunia seolah runtuh. Air matanya tanpa sadar mengalir deras, tubuhnya gemetar hebat.

“Tidak… tidak mungkin. Aku yang bunuh mereka?”

Penyesalan membuncah. Ia ingat lempar lumpur ke Zaman, bolos sekolah, pembunuhan massal dan segala kejahatan yang ia lakukan. “Aku monster,” jeritnya dalam hati, tapi suara tak keluar. Ruangan sepi, hanya suara jam dinding berdetik, menandai akhir hidupnya yang hancur di detik itu.

 

Biodata Penulis:

Hasbi Witir merupakan mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas dan bergiat di Labor Penulisan Kreatif.

Tags: #Hasbi Witir
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kebohongan dan Manipulasi Tanda dalam Film Keadilan (The Verdict): Analisis Semiotika Forensik

Berita Sesudah

Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

Berita Terkait

Cahaya dari Surau Tuo

Minggu, 11/1/26 | 22:10 WIB

Sumber: GeminiAI Cerpen: Rivana Dwi Puti* Dari balik buaian terkunci terdengar suara ayam memecah kesunyian panjang, seolah membangunkan seisi surau...

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Minggu, 21/12/25 | 09:58 WIB

Gambar: Meta AI Cerpen: Putri Rahma Yanti   Aku bukan anak Sumatera Barat. Aku datang ke tanah ini membawa koper,...

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Cerpen Lelaki Tampan yang Membawaku Pergi

Minggu, 20/10/24 | 16:56 WIB

Cerpen: Armini Arbain Senja turun dengan cepat dan azan magrib pun berkumandang dengan merdunya. Seperti biasa aku bergegas mengambil Alquran,...

Luka Hati

Luka Hati

Minggu, 28/7/24 | 09:37 WIB

Oleh: Armini Arbain*   Baru saja aku duduk melepas lelah setelah memberi penyegar pada wajah seorang ibu yang facial, Hp-ku...

Setetes  Air dalam Bensin

Setetes Air dalam Bensin

Minggu, 30/6/24 | 09:10 WIB

Cerpen: Armini Arbain   Pesawat Garuda Boeing 800 lepas landas. Tepat pukul lima sore, pesawat yang membawa calon jemaah haji...

Diriku dan Keterlambatan

Minggu, 16/4/23 | 12:12 WIB

Cerpen: Ibnu Naufal   Aku tak mengerti terkadang dengan diriku sendiri. Diri yang begitu unik dan istimewa, menuntut untuk diperlakukan istimewa oleh...

Berita Sesudah
Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

POPULER

  • Penertiban PETI Terus Berjalan, Puluhan Terduga Pelaku Diamankan

    Penertiban PETI Terus Berjalan, Puluhan Terduga Pelaku Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Pusat Alokasikan Rp2.6 Triliun untuk Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kelompok SAD Diduga Resahkan Warga, Tokoh Adat dan Aktivis Minta Oknum Diserahkan ke Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Sumbar Sanksi Denda PT TKA Rp737 Juta, ini Sebabnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kementerian PU Bakal Renovasi Stadion GOR Haji Agus Salim Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024